RADAR SURABAYA – Kekeringan mulai mengancam produksi pangan di Jawa Timur. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim mencatat 149,95 hektare lahan padi mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan hingga 10 September 2026.
Kepala DPKP Jatim Heru Suseno mengatakan, luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan sebenarnya mencapai 3.856 hektare.
Namun, tidak seluruh lahan terdampak mengalami puso karena sebagian tanaman masih dapat diselamatkan.
“Yang terdampak itu totalnya ada 3.856 hektare. Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso,” kata Heru, Jumat (18/9).
597,11 Hektare Lahan Padi Terdampak
Heru menjelaskan, dari keseluruhan lahan pertanian yang terdampak kekeringan, terdapat 597,11 hektare lahan padi yang mengalami dampak kekurangan air.
Baca Juga: Harry Kane Pecahkan Rekor Bundesliga, Cetak 100 Gol dari 98 Laga
Sementara itu, 149,95 hektare di antaranya sudah masuk kategori puso. Kondisi tersebut terjadi ketika tanaman mengalami kerusakan parah, berhenti berkembang, dan tidak lagi dapat diselamatkan sehingga berujung gagal panen.
“Puso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan. Kemudian untuk padi yang terdampak itu ada 597,11 hektare. Ini seluruh Jawa Timur,” jelasnya.
Heru menambahkan, lahan yang telah dinyatakan puso mengalami kerusakan akibat kekeringan sehingga tanaman padi tidak dapat melanjutkan pertumbuhan.
“Pusonya ini ya sudah karena kekeringan, kemudian sudah berhenti, tidak bisa diselamatkan lagi. Ada 149,95 hektare lahan padi yang puso,” katanya.
Jatim Waspadai El Nino
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemprov Jatim karena Jawa Timur merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional, khususnya komoditas padi.
Ancaman kekeringan juga perlu diantisipasi karena berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Nino pada 2026 berpotensi cukup ekstrem.
“Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya,” ujar Heru.
Menurut dia, ketersediaan air merupakan faktor penting dalam produksi pertanian.
Berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan risiko penurunan produktivitas dan gagal panen.
“Komoditas pertanian kita itu kan memang sumber utama untuk kehidupannya itu kan air. Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus,” katanya.
Puncak Kekeringan Agustus-September
Heru menyebut puncak kekeringan diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Pemprov Jatim berharap hujan mulai turun pada Oktober sehingga luas lahan yang mengalami puso tidak bertambah secara signifikan.
“Kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September. Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata,” tuturnya.
Baca Juga: Denda Rp50 Juta Mengintai Pengelola Sampah Ilegal di Pasar Turi
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim telah menyiapkan dukungan bagi petani melalui penganggaran pada P-APBD 2026. Salah satu bentuk bantuan yang disiapkan adalah penyediaan benih bagi lahan yang mengalami gagal panen.
Pemprov Jatim Siapkan Benih untuk 1.000 Hektare
Heru mengatakan, bantuan benih tersebut disiapkan dengan cakupan hingga 1.000 hektare lahan. Angka tersebut menjadi batas antisipasi apabila luas lahan puso akibat kekeringan terus bertambah.
“Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare,” katanya.
Pemprov Jatim berharap hujan mulai turun pada Oktober 2026 sehingga kondisi kekeringan mereda dan penambahan luas lahan padi yang mengalami puso dapat ditekan. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan