RADAR SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) meminta kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap diperkuat sepanjang September 2026.
Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah belum menjadi tanda bahwa ancaman karhutla telah berakhir.
Kondisi vegetasi yang masih kering serta angin yang berpotensi mempercepat penjalaran api membuat sejumlah kawasan hutan tetap rawan terbakar.
Bara yang belum sepenuhnya padam juga dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi kembali kering.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Timur Jumadi mengatakan, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Jatim belum mengalami hujan pada 4–6 September 2026.
Hujan mulai turun pada 6–7 September, terutama di wilayah Jatim bagian selatan dan timur.
“Namun, hujan lokal tidak boleh diartikan bahwa fase kritis telah berakhir,” kata Jumadi, Kamis (10/9).
Baca Juga: Bank Jatim Cetak Laba Rp1,2 Triliun, Tumbuh 53,4 Persen
Menurut dia, penanganan karhutla masih dilakukan secara terpadu di sejumlah kawasan rawan, seperti Semeru, Arjuno-Welirang, Wilis, Ijen-Ungup-Ungup, dan Baluran.
Tim gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman darat, pembuatan sekat bakar, pembasahan dan pendinginan, pemantauan udara, hingga penutupan sementara kawasan apabila kondisi kebakaran membahayakan petugas maupun masyarakat.
OMC Dukung Penanganan Karhutla
Penguatan operasi juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar Kementerian Kehutanan bersama BMKG, TNI Angkatan Udara, Manggala Agni, Rekayasa Atmosfer Indonesia, BNPB/BPBD, serta sejumlah unsur terkait pada 3–9 September 2026.
OMC yang berbasis di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, menggunakan pesawat CASA A-2104. Operasi tersebut diarahkan untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, dan sejumlah wilayah rawan lainnya.
Baca Juga: 1.214 Mahasiswa Surabaya Dapat Bantuan Biaya Kuliah, IP Rendah Bakal Dicabut
Jumadi menegaskan, OMC hanya berfungsi sebagai penguatan operasi. Penanganan utama tetap dilakukan melalui operasi darat dan pengawasan langsung di kawasan terdampak.
“OMC adalah penguat, bukan pengganti operasi darat. Api tetap harus ditangani melalui patroli, serangan awal, sekat bakar, pembasahan, pendinginan, dan pengawasan sampai benar-benar aman,” tegasnya.
Karhutla Dipengaruhi Tiga Faktor
Evaluasi sementara terhadap rangkaian karhutla menunjukkan adanya tiga faktor yang dapat memperbesar risiko kebakaran, yakni vegetasi yang sangat kering, angin yang mempercepat penjalaran api, serta sumber penyalaan.
Meski demikian, pemerintah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kebakaran tanpa didukung bukti.
Pemeriksaan masih dilakukan dengan melihat kondisi lapangan, pola penjalaran api, keterangan saksi, hingga alat bukti yang ditemukan.
“Cuaca mengeringkan, tetapi aktivitas manusia dapat menyalakan,” ujarnya.
Untuk rangkaian kejadian terbaru, data sementara BNPB per 4 September 2026 mencatat kebakaran di kawasan Semeru mencapai sekitar 1.888,91 hektare.
Kebakaran juga tercatat di Gunung Wilis sekitar 16 hektare, Ungup-Ungup sekitar 20 hektare, dan Arjuno-Welirang sekitar 642,11 hektare.
Sementara itu, data SiPongi dan hasil penghitungan luas karhutla Kementerian Kehutanan mencatat indikasi karhutla di Jawa Timur selama Januari–Juli 2026 mencapai 10.835,26 hektare.
Namun, angka tersebut tidak dapat langsung dijumlahkan dengan data kejadian terbaru karena memiliki periode dan metode penghitungan berbeda serta berpotensi mengalami tumpang tindih.
“Pemerintah akan menyampaikan angka final setelah dilakukan verifikasi spasial bersama seluruh pengelola kawasan,” jelas Jumadi.
Lima Strategi Cegah Karhutla Meluas
Untuk mencegah kebakaran kembali meluas, Dishut Jatim bersama instansi terkait memperkuat lima strategi, yaitu satu komando dan satu data; patroli terpadu dan serangan awal; pengamanan kawasan rawan; pencegahan berbasis masyarakat; serta penegakan hukum berbasis bukti.
Baca Juga: El Nino Berlangsung hingga Februari 2027, Musim Hujan Mundur, Warga Surabaya Diminta Siaga
Pencegahan juga melibatkan Masyarakat Peduli Api, pesanggem, relawan, pelaku wisata, dan kelompok masyarakat sekitar hutan.
Mereka mendapatkan pendampingan dalam aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan agar tidak menggunakan metode pembakaran.
Selain pemadaman, pemerintah mulai menyiapkan pemulihan ekosistem di kawasan terdampak.
Tahapan tersebut dilakukan setelah api benar-benar padam dan melalui asesmen tingkat kerusakan vegetasi, tanah, tata air, habitat satwa, potensi erosi, hingga risiko kebakaran berulang.
Kawasan Semeru-TNBTS, Arjuno-Welirang-Tahura R. Soerjo, Ijen-Ungup-Ungup, Wilis, dan Baluran menjadi prioritas pemulihan sesuai hasil verifikasi masing-masing pengelola kawasan.
“Target kami bukan sekadar memadamkan api hari ini, tetapi memastikan sumber nyala diputus, bara tidak hidup kembali, dan kawasan yang terbakar dipulihkan,” pungkasnya. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan