Dugaan Keracunan Santri Manbaul Hikam, Wamenag Minta MBG Dievaluasi Bukan Dihentikan

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 18:20 WIB
Wakil Menteri Agama (Wamenag) H. R. Muhammad Syafi
Wakil Menteri Agama (Wamenag) H. R. Muhammad Syafi'i didampingi Kakanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam yang keracunan MBG saat menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo. (Istimewa)

RADAR SURABAYA – Kementerian Agama (Kemenag) terus memperluas cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke pesantren dan madrasah di Indonesia.

Hingga saat ini, sekitar 42 persen pesantren sasaran telah menerima manfaat program MBG.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) H. R. Muhammad Syafi’i mengatakan Kemenag tengah mempercepat perluasan program tersebut agar seluruh pesantren dan madrasah sasaran dapat memperoleh makanan bergizi secara gratis.

Pernyataan itu disampaikan saat Wamenag menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro setelah mengalami dugaan keracunan usai mengonsumsi MBG, Selasa (1/9) lalu. 

Kunjungan tersebut didampingi Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag RI Basnang Said.

Syafi’i memberikan santunan kepada masing-masing santri sekaligus mendoakan agar mereka segera pulih.

Baca Juga: Arsenal vs Chelsea: 3 Clean Sheet vs 12 Gol, Siapa yang Bakal Menang?

Setelah itu, rombongan mendatangi Pesantren Manbaul Hikam dan diterima Ketua Yayasan Manbaul Hikam KH Abdul Wachid Harun.

Kemenag Tidak Hentikan Program MBG

Wamenag menegaskan dugaan keracunan yang dialami santri di Sidoarjo tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk menghentikan program MBG.

Menurut dia, kejadian tersebut justru harus menjadi bahan evaluasi untuk memastikan seluruh proses penyediaan dan distribusi makanan memenuhi standar keamanan pangan.

"Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG.

Program ini sudah berjalan beberapa bulan dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, harus ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya," ujar Syafi’i.

Berdasarkan informasi awal, keluhan santri diduga berkaitan dengan menu telur dan sayuran.

 Namun, Kemenag menegaskan penyebab pasti kejadian tersebut masih harus menunggu hasil pemeriksaan.

"Yang perlu kita pastikan adalah penyebabnya apa. Apakah proses memasaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam juknis. Ini yang perlu kita selesaikan," jelasnya.

Baca Juga: BRI Raih Penghargaan Niaga Werdhitama dari Kemendag atas Komitmen Dorong UMKM Tembus Pasar Global

Syafi’i juga menyebut pesantren pada umumnya menyambut positif kehadiran program MBG.

"Artinya, MBG-nya, semuanya mengatakan mereka sangat senang dan menunggu datangnya makanan dari MBG," katanya.

Kemenag Kejar Target Seluruh Pesantren Dapat MBG

Di tengah evaluasi kasus di Sidoarjo, Kemenag tetap mendorong percepatan penyaluran MBG ke seluruh pesantren dan madrasah sasaran.

Saat ini, baru sekitar 42 persen pesantren sasaran yang telah memperoleh manfaat program tersebut.

"Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah.

Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN yang baru. Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat makan gratis dari MBG," tutur Syafi’i.

Menurut dia, perluasan cakupan MBG harus berjalan beriringan dengan pemenuhan standar keamanan dan kebersihan makanan.

Pesantren dengan 1.000 Santri Bisa Kelola Dapur MBG

Kemenag juga membuka peluang bagi pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang untuk mengelola dapur MBG secara mandiri.

Pesantren tidak harus membangun fasilitas baru. Dapur yang sudah tersedia dapat diperbarui dan disesuaikan dengan standar higienitas yang ditetapkan.

"Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren," jelasnya.

Kronologi Dugaan Keracunan MBG di Pesantren Manbaul Hikam

Ketua Yayasan Manbaul Hikam KH Abdul Wachid Harun menjelaskan pesantren telah menerima program MBG selama sekitar tiga bulan.

Biasanya, makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan dibagikan kepada santri pada pukul 12.00 WIB.

Pada Selasa (1/9), pesantren menerima 1.010 porsi MBG dari SPPG Kalitengah.

Baca Juga: Bahlil Mini Soccer Zona 3 Digeber Mulai Besok, 16 Tim Bakal Berebut Tiket Grand Final

Menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis dan baby corn, tempe bumbu Bali, serta buah apel.

Sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengalami keluhan kesehatan. Gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas.

Pengurus pesantren kemudian membawa korban ke bidan terdekat di Desa Putat. Menjelang Magrib, jumlah santri yang mengalami keluhan bertambah sehingga mereka dievakuasi ke sembilan rumah sakit.

Keluhan juga masih muncul secara bertahap hingga Rabu.

Kemenag memastikan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut secara menyeluruh.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, maupun faktor lain.

Di sisi lain, santunan telah diberikan kepada pihak pesantren dan para santri yang terdampak.(rmt)

 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Pondok Pesantren Manbaul Hikam kemenag jatim Mbg wamenag