Prof. Gatut Kenalkan Phenomenography Digital, Metode Riset untuk Hadapi Era Post-Truth

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:04 WIB
Prof Gatut Priyowidodo.
Prof Gatut Priyowidodo.

RADAR SURABAYA – Pakar komunikasi Prof. Gatut Priyowidodo memperkenalkan metode riset inovatif bernama Phenomenography Digital.

Metode ini ditawarkan sebagai salah satu pendekatan untuk memahami perilaku manusia di ruang digital, terutama di tengah berkembangnya era post-truth yang membuat batas antara fakta dan opini semakin kabur.

Melalui metode Phenomenography Digital, peneliti dapat membedah beragam cara manusia merasakan, memahami, dan merespons sebuah fenomena di dunia digital.

Meski mengakses atau melihat konten yang sama, setiap individu dapat memiliki persepsi dan pengalaman yang berbeda.

“Kita tengah berada di era post-truth digital, sebuah masa ketika batas antara fakta dan opini menjadi kabur.

Sesuatu yang tidak benar bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak hanya karena disebarkan secara terus-menerus dan didorong oleh subjektivitas atau keyakinan pribadi,” ujar Prof. Gatut.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi tantangan besar di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Baca Juga: Gangguan di Srowot-Klaten Teratasi, Perjalanan KA di Wilayah Daop 8 Surabaya Kembali Normal

 Informasi yang viral tidak selalu berarti benar sehingga masyarakat dituntut memiliki kemampuan untuk memilah dan memverifikasi setiap informasi yang diterima.

Memahami Perilaku Generasi Z di Ruang Digital

Prof. Gatut menjelaskan, metode Phenomenography Digital memiliki relevansi luas dalam memahami perilaku masyarakat di era teknologi informasi, termasuk perilaku Generasi Z di media sosial.

Pendekatan tersebut dapat digunakan untuk mengkaji beragam isu, mulai dari politik, budaya digital, hingga tren hiburan.

Metode ini menempatkan pengalaman dan persepsi manusia sebagai bagian penting dalam memahami sebuah fenomena digital.

Tidak hanya itu, Phenomenography Digital juga dinilai dapat diterapkan untuk mengevaluasi layanan publik berbasis digital.

Salah satu contohnya adalah mengkaji pengalaman masyarakat dalam menggunakan sistem Coretax Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Dengan memahami pengalaman pengguna secara lebih mendalam, evaluasi layanan digital diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada cara masyarakat menerima, memahami, dan merasakan layanan tersebut.

Baca Juga: Kapolrestabes Surabaya Beri Sanksi Anggota Satlantas usai Pungut Uang BB Laka

Tiga Langkah Hadapi Disinformasi

Di tengah meningkatnya penyebaran disinformasi, Prof. Gatut mengakui upaya mengurai persoalan tersebut bukan pekerjaan mudah.

Namun, menurutnya, persoalan itu tetap dapat dihadapi melalui langkah-langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak.

“Setidaknya ada tiga langkah yang harus dilakukan. Pertama, literasi digital secara masif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam memilih informasi yang benar secara berkelanjutan.

Kedua, media massa harus kembali pada peran utamanya, yakni memproduksi berita yang objektif.

Ketiga, Kementerian Komunikasi dan Digital perlu berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem informasi yang bersih,” jelasnya.

Literasi digital, kata dia, menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Di sisi lain, media massa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas informasi melalui proses jurnalistik yang akurat, berimbang, dan objektif.

Masyarakat Diminta Tidak Asal Mengikuti Tren Digital

Prof. Gatut juga mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar mengikuti tren yang berkembang di dunia digital.

 Sikap kritis tetap diperlukan, baik dalam mengonsumsi informasi maupun dalam memilih pendekatan untuk memahami fenomena di ruang digital.

Baca Juga: Khofifah: Muktamar Ke-35 NU Momentum Perkuat Soliditas dan Persatuan Warga Nahdliyin

“Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok menggunakan Phenomenography Digital. Kita harus tetap kritis dalam menyaring informasi yang viral,” pungkasnya.

Kehadiran metode Phenomenography Digital diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan baru dalam memahami kompleksitas perilaku manusia di tengah perkembangan teknologi.

Di era post-truth, kemampuan memahami persepsi masyarakat sekaligus memperkuat budaya kritis menjadi semakin penting untuk menghadapi derasnya arus informasi digital. (rmt)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Phenomenography Digital Prof. Gatut Priyowidodo era post-truth post-truth digital Literasi Digital