Krisis Ekologis Kian Mengancam, AIPI, UKWMS, dan BPIP Soroti Pentingnya Adab terhadap Alam

Nurul Afiah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Prof. Damayanti Buchori membawakan materi bertajuk Keadilan Ekologis: Transdisiplinaritas untuk Membangun Kepekaan Interspecies.(nurul afiah)
Prof. Damayanti Buchori membawakan materi bertajuk Keadilan Ekologis: Transdisiplinaritas untuk Membangun Kepekaan Interspecies.(nurul afiah)

RADAR SURABAYA – Krisis ekologis yang memicu berbagai bencana semakin intens dan ekstrem di Indonesia tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan geologis atau klimatologis. 

Persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan aspek sosial, budaya, diskursus, hingga etika manusia dalam memperlakukan sesama dan alam.

Berangkat dari persoalan tersebut, Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) berkolaborasi dengan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP),

menggelar Seminar Nasional dan Pameran Praktik Baik Pendidikan Ekologi dan Etika Kemanusiaan: Suatu Keniscayaan bagi Perubahan Budaya Tata Kelola Kawasan.

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan ekologi dan etika kemanusiaan memiliki peran penting dalam membangun budaya baru dalam tata kelola kawasan.

Baca Juga: Dorong Pemerataan Ekonomi Daerah, BRI dan Pemprov Maluku Utara Perkuat UMKM dan Potensi Desa

Ketua AIPI, Prof. Daniel Murdiyarso, mengatakan upaya meminimalkan risiko bencana harus dimulai dengan memperkuat pembelajaran dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

“Hari ini, 19 Agustus, kita secara spesifik akan melihat bagaimana bencana bisa diminimalkan melalui pembelajaran yang kita miliki.

Ada beberapa kata kunci yang dibahas para pemateri, yakni pendidikan, ekologi, manusia, dan etika,” tutur Daniel.

Krisis Ekologis Bukan Sekadar Persoalan Alam

Pada sesi pleno pertama, seminar mengangkat tema Etika Kemanusiaan dalam Tata Kelola Kawasan.

 Sejumlah akademisi dan pemikir hadir sebagai narasumber, yakni Prof. Franz Magnis-Suseno, Prof. Damayanti Buchori, dan Airlangga Pribadi Kusman.

Prof. Damayanti Buchori membawakan materi bertajuk Keadilan Ekologis: Transdisiplinaritas untuk Membangun Kepekaan Interspecies.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis melalui narasi baru yang tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikir rasional, tetapi juga kepekaan dan rasa terhadap lingkungan serta makhluk hidup lainnya.

“Dalam literasi ekologis, kita perlu membangun rasa. Ketika rasio tidak digabung dengan rasa, kita akan menjadi kecerdasan buatan. Oleh karena itu, kita harus memaknai, bukan hanya menghafal,” ujarnya.

Baca Juga: 17 Tahun Konsisten Beri Apresiasi, BRI Salurkan Dana Pendidikan bagi Paskibraka Tingkat Pusat

Menurutnya, pendidikan ekologi perlu mendorong manusia untuk membangun hubungan yang lebih sadar dan berkeadilan dengan alam.

Pentingnya Adab Manusia terhadap Alam

Sementara itu, Prof. Franz Magnis-Suseno menyampaikan materi bertajuk Pendidikan Ekologis dan Humanis: Menata Ulang Budaya Tata Kelola Kawasan.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa manusia harus memiliki adab, bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa penyelesaian krisis lingkungan membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.

Lingkungan tidak semata diposisikan sebagai objek yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

Adapun Airlangga Pribadi Kusman membawakan topik Pedagogi Ekologis untuk Generasi Z.

Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan pendidikan yang relevan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan krisis ekologis di masa depan.

Pameran Praktik Baik Pendidikan Ekologi

Selain diskusi akademik, kegiatan tersebut juga menghadirkan pameran praktik baik pendidikan ekologi.

Sejumlah komunitas dan lembaga turut berpartisipasi, di antaranya Qaryah Thayyibah dari Salatiga, Pondok Pesantren Pabelan dari Muntilan, Sekolah Santa Maria Sidoarjo, Eco Camp Bandung, dan Centrum Laudato Si Surabaya.

Peserta pameran menampilkan berbagai praktik nyata dalam membangun kesadaran ekologis.

Mulai dari pengembangan produk sabun berbahan eco-enzyme yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, hingga penyediaan ruang belajar yang mendorong manusia kembali terhubung dengan alam.

Ketua Pelaksana sekaligus anggota Komisi Kebudayaan AIPI, Prof. Anita Lie, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa

dan masyarakat dalam memahami ancaman bencana serta risiko ekologis yang dihadapi saat ini.

“Kami berharap para mahasiswa dapat belajar tentang berbagai ancaman bencana dan risiko ekologis saat ini.

Melalui kegiatan ini, mari bersama-sama membangun optimisme untuk menjadi generasi pertama yang mampu menyelamatkan bumi dan alam semesta kita,” pungkasnya. (rul)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
AIPI Prof. Damayanti Buchori ukwms bpip