Tim Peneliti Arsitektur UPNVJT Kaji Dampak Gelombang Laut di Gili Ketapang untuk Pengembangan Model

Vega Dwi Arista • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:02 WIB
DIKAJI: Lokasi dengan tingkat dampak gelombang laut tertinggi di Gili Ketapang.
DIKAJI: Lokasi dengan tingkat dampak gelombang laut tertinggi di Gili Ketapang.

RADAR SURABAYA -Tim Peneliti Arsitektur UPNVJT Kaji Dampak Gelombang Laut di Gili Ketapang untuk Pengembangan Model Rekonstruksi Habitat Mangrove

Tim Peneliti Arsitektur Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) mengkaji kondisi pesisir Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Baca Juga: Pemprov Jatim Sediakan 4.000 Undangan Gratis Upacara HUT RI di Grahadi

Tujuannya untuk memahami dampak gelombang laut terhadap lingkungan pesisir sekaligus mengembangkan model rekonstruksi habitat mangrove yang sesuai dengan karakteristik kawasan.

Pengamatan diarahkan pada kondisi garis pantai, dinamika gelombang, serta perubahan dan tekanan lingkungan yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan ekosistem mangrove.

Baca Juga: Peringati Hari Mangrove Sedunia, Pertamina Patra Niaga Dukung Festival Mangrove Jawa Timur di Pantai Panduri Tuban

Data kondisi eksisting tersebut menjadi dasar dalam merumuskan model rekonstruksi habitat yang kontekstual dan dapat diterapkan sesuai kondisi kawasan Gili Ketapang.

Tim peneliti Arsitektur UPNVJT
Tim peneliti Arsitektur UPNVJT

Penelitian ini dilakukan oleh tim yang terdiri atas dua dosen, Dian Kartika Santoso dan Sovie Nurmalia J., bersama dua mahasiswa. Yakni M. Dafa Rico Syahputra dan Danendra Anargya Thirafi A.

Keterlibatan dosen dan mahasiswa menjadi bagian dari pengembangan kajian arsitektur yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan spasial dalam merespons persoalan kawasan pesisir.

Baca Juga: Kebun Raya Mangrove Disulap Jadi Laboratorium Hidup, Pemkot Surabaya Siapkan Edukasi Energi Terbarukan

Dalam pengembangan model rekonstruksi habitat, gelombang laut menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan. Intensitas gelombang dan dinamika pesisir dapat memengaruhi stabilitas sedimen, kondisi garis pantai, serta kemampuan vegetasi mangrove untuk tumbuh dan berkembang.

Karena itu, karakteristik lingkungan pesisir perlu menjadi pertimbangan dalam merancang pendekatan rekonstruksi habitat yang efektif.

Baca Juga: Antisipasi Dampak Abrasi dan El Nino, PDI Perjuangan Surabaya Pastikan Kelestarian Mangrove

Gili Ketapang dipilih sebagai lokasi kajian karena karakteristiknya sebagai kawasan kepulauan pesisir yang memiliki keterkaitan erat antara aktivitas masyarakat, kondisi lingkungan laut, garis pantai, dan ekosistem pesisir.

Pemahaman terhadap hubungan berbagai elemen tersebut diperlukan untuk merumuskan strategi rekonstruksi habitat mangrove yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan kawasan.

Kajian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pengembangan kawasan pesisir yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Penelitian ini juga mendukung SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, terutama melalui pendekatan adaptasi berbasis ekosistem dengan memperkuat fungsi mangrove sebagai bagian dari upaya menghadapi tekanan dan perubahan kondisi pesisir.

Melalui pendekatan arsitektur dan lingkungan, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metode rehabilitasi dan rekonstruksi habitat mangrove yang mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan karakteristik kawasan.

Hasil kajian diharapkan dapat menjadi referensi dalam mendorong pengelolaan kawasan pesisir yang lebih adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. (*)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya
gili ketapang probolinggo UPN Jatim peneliti laut