Jawa Timur Rawan Gempa, BPBD Perkuat Mitigasi Lewat Desa Tanggap Bencana

Mus Purmadani • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:11 WIB

 

Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto
Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto

 

RADAR SURABAYA – Seluruh wilayah Jawa Timur memiliki potensi terdampak bencana gempa bumi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari posisi geografis Jawa Timur yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif serta dilalui jalur Cincin Api Pasifik.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim Gatot Soebroto mengatakan, Jawa Timur berada di antara Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Indo-Australia di bagian selatan.

Baca Juga: Fermentasi 2–4 Minggu  Limbah Sawit Jadi Pakan Awetan, Lebih Mudah Dicerna Sapi

Wilayah selatan Jawa Timur juga menjadi bagian dari zona subduksi aktif yang menjadi lokasi pertemuan kedua lempeng tersebut. Kondisi itu membuat potensi gempa bumi tektonik menjadi salah satu ancaman bencana yang perlu diwaspadai masyarakat.

Selain gempa bumi, Jawa Timur juga memiliki risiko bencana vulkanik. Sebab, sejumlah wilayah di provinsi tersebut berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang ditandai dengan keberadaan gunung api aktif.

"Kalau terkait dengan gempa, kita tahu wilayah kita Jawa Timur ini kan berada di lempeng aktif dunia. Jadi ada lempeng aktif, ada gunung merapi, Ring of Fire kan, sehingga di Jawa Timur ini seluruh wilayahnya rentan terhadap gempa bumi," ujar Gatot, Jumat (12/53). 

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Jatim terus memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Upaya tersebut dilakukan dengan menyasar berbagai lapisan masyarakat di seluruh kabupaten/kota.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Godok Rusunawa Non-Subsidi, Bidik Warga Kelas Menengah

Menurut Gatot, edukasi kebencanaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Warga tidak hanya perlu mengetahui potensi ancaman di wilayahnya, tetapi juga memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

"Perlu diketahui untuk mengantisipasi potensi gempa tersebut salah satu upaya yang sudah kita lakukan di BPBD adalah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat, pelajar maupun teman-teman di organisasi. Salah satu kegiatannya adalah pembentukan Destana (Desa Tanggap Bencana) untuk masyarakat," jelasnya.

Melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana), masyarakat diberikan pembekalan mengenai kesiapsiagaan dan penanganan bencana di tingkat desa. Program tersebut diharapkan mampu membentuk masyarakat yang tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merespons secara cepat ketika terjadi keadaan darurat.

BPBD Jatim juga memperkuat edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Dalam program tersebut, guru diberikan pelatihan sebagai training of trainer.

"Agar para guru tersebut bisa mengajarkan kepada siswanya terkait dengan penanganan bencana," tambah Gatot. (*)

Editor : Lambertus Hurek
rawan gempa Lempeng Tektonik BPBD Jatim Tanggap Bencana gempa