Pendidikan Inklusif Harus Jadi Kompetensi Inti Pendidik

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:21 WIB
Training of Trainers (ToT) Modul Penguatan Pembelajaran Inklusif.
Training of Trainers (ToT) Modul Penguatan Pembelajaran Inklusif.

RADAR SURABAYA – Pendidikan inklusif perlu menjadi kompetensi inti setiap pendidik untuk memastikan seluruh peserta didik mendapatkan layanan pembelajaran yang setara, ramah, dan sesuai kebutuhan.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat langkah tersebut dengan menyiapkan 20 dosen sebagai pelatih (trainer) pendidikan inklusif.

Puluhan dosen tersebut mengikuti Training of Trainers (ToT) Modul Penguatan Pembelajaran Inklusif bertema “Mewujudkan Pembelajaran yang Inklusif, Setara, dan Ramah bagi Setiap Peserta Didik”.

Kegiatan tersebut digelar Pusat Unggulan Iptek (PUI) Disabilitas Unesa bekerja sama dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI).

Melalui pelatihan ini, 20 dosen tidak hanya mendapatkan penguatan kapasitas terkait pendidikan inklusif,

 tetapi juga dipersiapkan untuk menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan guru-guru di sekolah.

Pendidikan Inklusif Butuh Kompetensi Khusus

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menegaskan bahwa wawasan tentang pendidikan inklusif dan disabilitas merupakan kebutuhan mendasar bagi dosen.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Perkuat Hubungan Jatim-Singapura, Dorong Investasi dan Peningkatan SDM

Menurut dia, pendidik membutuhkan pengetahuan dan kapasitas khusus untuk mengelola keragaman peserta didik serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan setiap individu.

“Kalau dosen-dosen tidak dibekali wawasan disabilitas, pasti ada kendala. Ini membutuhkan knowledge dan kapasitas khusus bagi dosen tentang bagaimana mengelola keragaman dan memfasilitasi keragaman,” jelas Martadi, Kamis (20/8).

Martadi menambahkan, Unesa setiap tahun menerima mahasiswa dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

Kondisi tersebut membuat pemahaman tentang pendidikan inklusif semakin penting bagi tenaga pendidik.

“Pemahaman pendidikan inklusif harus menjadi bagian dari kompetensi inti setiap pendidik,” tegasnya.

20 Dosen Unesa Jadi Trainer Pendidikan Inklusif

Ketua PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, menjelaskan bahwa 20 dosen peserta ToT memiliki tugas lanjutan setelah mengikuti pelatihan.

Mereka akan menjadi trainer yang memperluas jangkauan pembelajaran inklusif kepada calon guru dan guru di sekolah.

Baca Juga: AURIS, Timbangan Pintar Bersuara Karya Mahasiswa Unair Bantu Barista Tunanetra Takar Kopi Lebih Pres

Dosen-dosen tersebut akan melatih mahasiswa PPG sekaligus terlibat dalam program pengabdian kepada masyarakat yang menyasar guru-guru.

“Yang dilatih oleh tim INOVASI adalah dosen-dosen yang nantinya akan menjadi trainer. Trainer ini untuk melatih mahasiswa PPG maupun untuk pengabdian Unesa kepada masyarakat, terutama guru-guru,” ujar Budiyanto.

Skema tersebut diharapkan membuat manfaat pelatihan tidak berhenti pada 20 dosen.

Pengetahuan yang diperoleh akan disebarluaskan secara berjenjang, mulai dari dosen, mahasiswa PPG atau calon guru, hingga guru yang menerapkannya dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pelatihan Fokus pada Layanan Peserta Didik Disabilitas

Inclusive Education Specialist Program INOVASI, Eni Martina, menjelaskan bahwa pendidikan inklusif memiliki cakupan yang luas.

Namun, ToT kali ini secara khusus memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam memberikan layanan kepada peserta didik penyandang disabilitas.

Materi pelatihan disusun secara bertahap melalui modul dasar dan modul lanjutan.

Modul dasar berfokus pada penguatan konsep pendidikan inklusif, sedangkan modul lanjutan mengarahkan peserta untuk menerapkan konsep tersebut dalam pembelajaran di kelas.

Baca Juga: HI-SKIL FARM Umsura, Hidroponik Adaptif Bantu Anak Tunagrahita Belajar Mandiri

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah Universal Design for Learning (UDL).

Pendekatan ini menekankan pentingnya merancang pembelajaran sejak awal agar dapat mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan mayoritas peserta didik,

tetapi juga memberikan ruang yang setara bagi peserta didik dengan kebutuhan yang beragam, termasuk penyandang disabilitas.

Penguatan kapasitas pendidik melalui ToT ini menjadi salah satu langkah Unesa dalam mendorong ekosistem pendidikan yang semakin inklusif.

Dengan semakin banyak pendidik yang memiliki kompetensi dalam mengelola keragaman,

pembelajaran yang setara dan ramah bagi seluruh peserta didik diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
training of trainer pendidikan inklusif UNESA