RADAR SURABAYA — Upaya percepatan transisi ekonomi hijau di kawasan perdesaan kian nyata melalui perpaduan antara rekayasa teknologi energi bersih dan pembenahan tata kelola pemasaran biofarmaka yang adil. Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat gabungan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menginisiasi program pendampingan terpadu pada Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Sari Bumi di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek.
Langkah ini dirancang untuk memecahkan hambatan ganda mitra: kerentanan tata niaga petani akibat ketergantungan pada pembeli tunggal industri, serta kurang optimalnya proses pengeringan pada fasilitas Solar Dome Dryer yang kerap terganggu cuaca lembap di dataran tinggi Pule.
Pada kunjungan pertama, tim pengabdi UPN "Veteran" Jatim memfokuskan agenda pada sosialisasi kelembagaan serta asesmen mendalam melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pengurus dan kelompok tani. Pertemuan ini membedah profil petani, kondisi produk, tata niaga harga saat panen raya, serta merumuskan penguatan ekonomi kelembagaan melalui SOP mutu terstandar, kalender diversifikasi komoditas, dan pemetaan kebutuhan optimalisasi teknologi pengering.
Dan saat kunjungan kedua (1–2 Agustus 2026), tim UPN "Veteran" Jatim bersama tim teknis dari ITS langsung mengeksekusi pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrida terotomasi pada unit Solar Dome Dryer kapasitas 1,6 ton, yang berhasil memangkas durasi pengeringan dari 3 hari menjadi 1,5 hari secara mandiri energi.
"Sistem PLTS ini kami rancang secara presisi menggunakan panel surya berkapasitas 585 Watt-peak dan power inverter berdaya maksimal 1.000 Watt. Energi matahari yang ditangkap tidak hanya langsung digunakan, tetapi juga dialirkan ke dalam baterai 12 Volt 100Ah sebagai penyimpan energi," terang Ir. I Putu Eka Widya Pratama S.Si, M.Sc,RWTH, dosen ITS yang memimpin instalasi teknis alat tersebut. Lebih lanjut, Ir. Putu Eka menjelaskan bahwa sistem ini dilengkapi automasi tinggi. "Terdapat MCB timer yang secara otomatis mengatur kipas (exhaust fan) menyala di jam paling rawan kelembapan, yakni di-setting dari pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB. Adanya baterai memastikan sirkulasi udara yang menarik kelembapan ke luar kubah tetap berjalan optimal meskipun kondisi cuaca sedang mendung atau hujan," tambahnya.
Di balik melimpahnya potensi tanaman biofarmaka yang mencapai 4.500 ton per tahun, Kecamatan Pule di Kabupaten Trenggalek masih menghadapi paradoks kesejahteraan. Berdasarkan kajian praktik keperantaraan pasar, kawasan ini justru tercatat sebagai salah satu kantong kemiskinan di Trenggalek. Keterbatasan kepemilikan aset produktif, pola budidaya yang masih tradisional, serta minimnya akses keuangan—di mana hanya 25,6% rumah tangga miskin dan rentan yang tersentuh perbankan—membuat petani lokal terus bergantung pada jerat tengkulak dan rantai pemasaran dengan nilai tambah yang sangat rendah.
Kondisi rentan tersebut berakar pada dua permasalahan utama di tubuh mitra BUMDESMA Sari Bumi: Pertama, pada aspek manajemen, tata kelola usaha dan tata niaga BUMDESMA belum tertata secara optimal. Hal ini terlihat dari belum adanya Standard Operating Procedure (SOP) dan pencatatan logbook produksi bagi tenaga kerja, fasilitas yang menganggur selama 3–4 bulan per tahun, serta belum adanya skema mitigasi harga saat panen raya yang membuat posisi tawar petani tetap rentan. Menyoroti hal ini, Bapak Wirya Wardaya selaku ketua pengabdian menegaskan, "Penguatan manajemen BUMDESMA menjadi prioritas utama kami, terutama untuk melepaskan ketergantungan dari pembeli tunggal. Melalui perancangan SOP yang terstandar dan skema mitigasi tata niaga, kami mendorong agar kelembagaan ini memiliki daya tawar yang lebih kuat sehingga harga di tingkat petani tidak anjlok saat panen raya."
Kedua, pada aspek produksi, pemanfaatan fasilitas Solar Dome Dryer berkapasitas 1,6 ton masih sangat terbatas oleh hukum termodinamika alam. Ketiadaan sirkulasi udara mandiri saat cuaca mendung dan malam hari menyebabkan durasi pengeringan membengkak hingga 7–10 hari, menurunkan kapasitas olah simplisia, dan memicu risiko pembusukan bahan baku rimpang.(*)
Tim Pengabdian:
Wirya Wardaya S.E M.Sc (Ketua)
Dr.Wahyu Santoso S.P M.MA(Anggota)
I Putu Eka Widya .P S.Si, M.Sc RWTH (Anggota)
Muhammad Dinov Putra Andoyo (Mahasiswa)
Muhamad Ilham Arrasyid (Mahasiswa)
Sumber : radar surabaya