Dorong Pendidikan Berperspektif Gender, Digital Storytelling Ubah Cara Pandang Mahasiswa

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:07 WIB
Simposium Nasional Guru Besar Humaniora (SNGB) 2026 diikuti 55 guru besar humaniora dari 33 perguruan tinggi se-Indonesia.
Simposium Nasional Guru Besar Humaniora (SNGB) 2026 diikuti 55 guru besar humaniora dari 33 perguruan tinggi se-Indonesia.

RADAR SURABAYA – Perkembangan pendidikan di era teknologi menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara penguasaan sains dan pembentukan kesadaran kritis.

Dominasi bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dalam kebijakan pendidikan dinilai berpotensi menggeser peran humaniora dalam membangun empati, etika, serta kesadaran sosial.

Melalui pendekatan pembelajaran sastra berbasis digital storytelling, Guru Besar Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Pratiwi Retnaningdyah memaparkan strategi penguatan kesadaran gender mahasiswa.

Paparan tersebut disampaikan dalam Simposium Nasional Guru Besar Humaniora (SNGB) 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

Kegiatan tersebut diikuti 55 guru besar humaniora dari 33 perguruan tinggi se-Indonesia.

Pratiwi mengangkat kajian bertajuk “Pedagogi Feminis dalam Pembelajaran Sastra: Rekomendasi Kebijakan Menuju Pendidikan yang Berimbang antara STEM dan Humaniora.”

Pratiwi menyoroti posisi ilmu humaniora yang masih kerap dianggap sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan.

 Padahal, pembelajaran sastra memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan empati mahasiswa, termasuk dalam memahami persoalan kesetaraan gender.

Baca Juga: P-APBD Jatim 2026, Fraksi PDIP Minta Anggaran Diukur dari Dampaknya bagi Rakyat

“Pembelajaran sastra bukan pelengkap kurikulum, melainkan instrumen pedagogis yang tak tergantikan untuk menumbuhkan kesadaran kritis, termasuk kesadaran gender. Sastra melatih kesadaran kritis dan empati yang tidak dihasilkan oleh kurikulum STEM semata,” ujarnya, Selasa (18/8).

Ia memaparkan hasil intervensi pedagogis melalui proyek digital storytelling bertajuk Kartini and Me yang diterapkan kepada 44 mahasiswa tahun ketiga Program Studi Sastra Inggris Unesa dalam mata kuliah Gender Studies.

Proyek tersebut menggunakan format Pecha Kucha dengan 20 salindia dan durasi 20 detik untuk setiap tampilan.

Hasil analisis terhadap 40 presentasi mahasiswa menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap isu gender dan sosok Kartini.

Sebelumnya, sebagian mahasiswa memahami peringatan Hari Kartini sebatas kegiatan seremonial, seperti mengenakan kebaya atau mengikuti perlombaan di sekolah.

Perubahan kesadaran tersebut, menurut Pratiwi, menjadi tolok ukur keberhasilan pembelajaran, bukan sekadar kepatuhan terhadap pandangan tertentu.

Berdasarkan temuan tersebut, Pratiwi menyampaikan empat rekomendasi kebijakan, yakni integrasi pedagogi feminis kritis dalam kurikulum pendidikan guru,

penyetaraan pendanaan riset humaniora dengan STEM, penguatan muatan kesadaran gender dalam pembelajaran bahasa dan sastra,

serta pengakuan terhadap capaian nonkuantitatif seperti kesadaran kritis, empati, dan keadilan sosial sebagai indikator keberhasilan pendidikan.

Baca Juga: Mahasiswa Ciptakan Alat Pemantau Suhu Mesin Motor Berbasis IoT

Seluruh rekomendasi SNGB 2026 telah dihimpun dalam bentuk policy brief dan disampaikan kepada Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon sebagai bahan pengembangan kebijakan ilmu humaniora.

Forum tersebut juga melahirkan inisiatif pembentukan Asosiasi Guru Besar Humaniora Indonesia (GBHI) sebagai wadah untuk memperkuat kontribusi humaniora dalam pembangunan nasional. (rmt)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Pendidikan Era Teknologi Kesadaran Kritis Mahasiswa Digital Storytelling