RADAR SURABAYA — Sebanyak 25 pimpinan perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia mengikuti National Multiplication Training (NMT) LEAP 2026 tahap kedua di Solo, 10–13 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, para pimpinan kampus mendapat pembelajaran langsung mengenai kepemimpinan, keberlanjutan institusi, hingga strategi menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Program yang digelar Universitas Kristen (UK) Petra bersama Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut menjadi kelanjutan dari tahap pertama yang berlangsung di Surabaya pada Maret 2026.
Peserta NMT LEAP 2026 berasal dari berbagai wilayah, mulai Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Papua.
Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi sekaligus mendorong peserta menerapkan rencana strategis yang telah disusun pada tahap sebelumnya.
Pimpinan Kampus Belajar Kepemimpinan dari Mangkunegara X
Salah satu agenda utama NMT LEAP 2026 menghadirkan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X. Ia membawakan tema “Membangun Generasi Emas: Berakar pada Tradisi, Melangkah Maju dengan Inovasi Pendidikan.”
Dalam sesi tersebut, Mangkunegara X membagikan pengalaman dalam merawat sekaligus merevitalisasi Mangkunegaran.
Baca Juga: Perkuat Layanan di Sektor Haji, BSI Gandeng Ratusan PIHK untuk Ibadah Haji Khusus
Upaya tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi, tetapi pada saat yang sama membuka ruang inovasi untuk menjangkau generasi muda, termasuk Generasi Z dan Generasi Alpha.
Pembelajaran tersebut menjadi bagian penting bagi para pimpinan perguruan tinggi dalam melihat bagaimana identitas budaya dapat berjalan beriringan dengan perubahan zaman dan inovasi pendidikan.
Selain mendapatkan materi kepemimpinan, peserta juga mengikuti sesi konsultasi sejawat.
Mereka kemudian diarahkan untuk mendokumentasikan pengalaman dan pembelajaran kepemimpinan dalam sebuah buku yang memiliki ISBN.
Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Tengah Perkembangan AI
Ketua Panitia NMT LEAP 2026, Josua Tarigan, menilai perguruan tinggi perlu menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan identitas budaya.
Menurut dia, institusi pendidikan tinggi tidak cukup hanya beradaptasi dengan teknologi modern, termasuk AI.
Perguruan tinggi juga perlu memiliki fondasi nilai, tradisi, dan karakter bangsa yang kuat.
“Pembelajaran langsung dari kepemimpinan Mangkunegara X menjadi inspirasi nyata bagaimana tradisi dan inovasi dapat berjalan berdampingan,” ungkap Josua, Selasa (11/8).
Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika perguruan tinggi menghadapi perubahan cepat akibat perkembangan teknologi digital.
Baca Juga: Naik Trans Jatim Cuma Rp81! Promo HUT RI Berlaku 11–17 Agustus 2026
Kampus dituntut mampu melahirkan inovasi, tetapi tetap mempertahankan karakter dan identitas institusinya.
Ketahanan Finansial Jadi Kunci Keberlanjutan Kampus
Selain kepemimpinan dan inovasi pendidikan, NMT LEAP 2026 tahap kedua juga membahas aspek ketahanan finansial perguruan tinggi.
Wakil Rektor I Ubaya sekaligus anggota komite acara, Prof. Dr.rer.nat. Maria Goretti Marianti Purwanto, membawakan materi “Financial Empowerment: Mastering Management in Uncertain Times.”
Ia menjelaskan bahwa ketahanan finansial menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan perguruan tinggi swasta.
Strategi tersebut dapat dilakukan melalui diversifikasi sumber pendapatan, efisiensi yang berorientasi pada prioritas strategis, serta penguatan manajemen risiko.
“Manajemen keuangan perguruan tinggi tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai fungsi administratif keuangan semata, melainkan sebagai alat strategis untuk mendukung inovasi pembelajaran, riset, dan pengembangan mutu institusi jangka panjang,” ujarnya.
NMT LEAP 2026 Perkuat Jaringan Perguruan Tinggi
Berbeda dengan tahap pertama yang lebih menitikberatkan pada penanaman konsep kepemimpinan dan penyusunan Project Action Plan (PAP), tahap kedua NMT LEAP 2026 berfokus pada implementasi rencana dan penguatan kapasitas institusi.
Materi yang diberikan mencakup eksekusi rencana, kolaborasi strategis, keberlanjutan institusi, ketahanan finansial, manajemen konflik, kepemimpinan adaptif, serta penguatan jaringan nasional dan internasional.
Program ini digawangi tim pengajar lintas disiplin, yakni Josua Tarigan, Ph.D. dan Vido Iskandar, M.M. dari School of Business and Management UK Petra; Dra. Leenawaty Limantara, Ph.D. dari Teknologi Pangan UK Petra; serta Prof. Dr.rer.nat. Maria Goretti Marianti Purwanto dari Bioteknologi Ubaya.
NMT LEAP 2026 didukung German Academic Exchange Service (DAAD) melalui inisiatif Dialogue on Innovative Higher Education Strategies (DIES), yang merupakan kerja sama DAAD dan Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Federal Jerman (BMZ).
Program tersebut juga mendapat dukungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Melalui program tersebut, para pimpinan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan kepemimpinan, tetapi juga mampu membawa strategi baru untuk memperkuat keberlanjutan dan daya saing institusi masing-masing.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan