BPBD Beber Penyebab Api di Bromo Sulit Dipadamkan, Angin Jadi Musuh

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:40 WIB
Petugas BPBD Malang melakukan pemantauan perkembangan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Kamis (6/8/2026). (ANTARA/HO-BPBD Kabupaten Malang).
Petugas BPBD Malang melakukan pemantauan perkembangan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Kamis (6/8/2026). (ANTARA/HO-BPBD Kabupaten Malang).

RADAR SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mengungkapkan cuaca panas,

angin kencang, dan kondisi vegetasi kering menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo. 

Faktor tersebut membuat api terus menjalar dan memperluas area yang terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan kawasan yang dipenuhi serasah dan semak kering sangat mudah terbakar.

Ketika dipadukan dengan suhu udara yang tinggi serta embusan angin kencang, kobaran api menjadi sulit dikendalikan.

"Di kawasan tersebut banyak terdapat serasah dan semak yang mudah terbakar. Ditambah cuaca panas dan angin kencang, api cepat menjalar," ujar Sadono di Malang, Kamis (6/8).

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Bromo, Tiga Jalur Wisata Ditutup hingga Batas Waktu Belum Ditentukan

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan titik api bergerak hingga ke wilayah perbatasan Kabupaten Malang, tepatnya mengarah ke kawasan Jemplang.

 Pergerakan api terus dipantau oleh tim gabungan agar tidak meluas ke area yang lebih berisiko.

Selain faktor cuaca, medan yang didominasi lereng curam juga menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

Petugas tidak dapat menjangkau seluruh titik api melalui jalur darat sehingga strategi penanganan difokuskan pada pencegahan penyebaran api.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat sekat bakar di sejumlah lokasi untuk memutus jalur rambatan api.

Baca Juga: Persebaya Borong Penghargaan Piala Presiden 2026, Francisco Rivera Pemain Terbaik

Upaya tersebut dinilai lebih efektif mengingat akses menuju titik kebakaran cukup sulit.

BPBD juga mencoba memanfaatkan drone milik BPBD Provinsi Jawa Timur untuk melakukan penyiraman dari udara.

Namun, hingga kini hasil dari operasi tersebut masih menunggu laporan dari tim di lapangan.

Sementara itu, rencana penggunaan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menunggu keputusan lebih lanjut.

BPBD Kabupaten Malang terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur dan BNPB terkait kemungkinan pengerahan bantuan udara tersebut.

Sebelumnya, pada Rabu (5/8), BPBD Kabupaten Malang melaporkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai merambat ke arah Jemplang.

Jarak titik api diperkirakan sekitar 1,5 kilometer dari tugu perbatasan Kabupaten Malang-Lumajang menuju wilayah Kabupaten Malang.

Kebakaran hutan di kawasan Bromo pertama kali terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

 Dalam beberapa hari, api meluas hingga kawasan Watu Gede di Kabupaten Probolinggo akibat kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api.

Demi menjaga keselamatan wisatawan dan mempermudah proses penanganan kebakaran, Balai Besar TNBTS menutup sementara tiga jalur wisata menuju Gunung Bromo, yakni melalui Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

 Penutupan diberlakukan hingga waktu yang belum ditentukan sambil menunggu kondisi kawasan kembali aman.

 

 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : ANTARA
BPBD Kabupaten Malang tnbts kebakaran bromo gunung bromo