RADAR SURABAYA – Penyalahgunaan narkoba kini tidak lagi hanya mengancam kalangan remaja.
Modus peredarannya yang semakin beragam membuat upaya pencegahan perlu dilakukan lebih awal, bahkan sejak anak masih berusia dini.
Berangkat dari kondisi tersebut, dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muhammad Reza, mengembangkan Model Pembelajaran PRISE (Prompt, Reflect, Integrate, Stimulate, Evaluate).
Model ini dirancang untuk menanamkan kemampuan berpikir kritis dan sikap asertif pada anak sebagai bekal menghadapi berbagai risiko, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Baca Juga: Menhaj Pastikan Skema Tanazul Berlaku pada Haji 2027, Fokus Kurangi Kepadatan Mina
Menurut Reza, pendidikan pencegahan narkoba selama ini lebih banyak diberikan ketika anak memasuki usia remaja atau kelompok yang dianggap berisiko.
Padahal, masa usia dini merupakan periode emas perkembangan otak yang sangat menentukan pembentukan karakter, pola pikir, dan kemampuan mengambil keputusan.
"Jika sejak kecil anak dibiasakan berpikir sebelum bertindak, mampu membedakan perilaku yang aman dan berbahaya, serta berani menolak ajakan yang tidak baik,
kemampuan tersebut akan menjadi bekal ketika mereka memasuki usia remaja, saat risiko penyalahgunaan narkoba mulai meningkat," ujarnya, Selasa (4/8).
Model PRISE Dilengkapi Gim Edukatif D-CAN
Reza menjelaskan, pencegahan narkoba tidak cukup hanya dengan mengenalkan bahaya narkoba kepada anak.
Mereka juga harus memiliki keterampilan untuk melindungi diri dari berbagai pengaruh negatif.
Karena itu, Model PRISE tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi mengajak anak belajar melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia mereka.
Pembelajaran diperkuat dengan berbagai media terpadu, mulai dari buku cerita, kartu bergambar, hingga aplikasi gim edukatif D-CAN.
Melalui metode tersebut, anak diajak berdiskusi, bermain peran, hingga berlatih mengambil keputusan dalam berbagai situasi sederhana yang berpotensi mengandung risiko.
Terbukti Tingkatkan Keberanian dan Kemampuan Berpikir Kritis
Hasil uji coba menunjukkan Model PRISE mampu meningkatkan kemampuan anak dalam mengenali perbedaan antara perilaku aman dan berisiko.
Selain itu, anak menjadi lebih percaya diri menyampaikan pendapat serta lebih berani menolak ajakan yang tidak baik.
Para guru juga memberikan respons positif karena proses pembelajaran menjadi lebih aktif, interaktif, dan menyenangkan melalui diskusi maupun simulasi.
Reza berharap keberhasilan tersebut tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari orang tua agar pembiasaan yang dilakukan di kelas dapat terus berlanjut di rumah.
Diserahkan kepada BNN Jawa Timur
Sebagai bentuk hilirisasi hasil penelitian, Model PRISE telah diserahkan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Timur untuk dikembangkan secara lebih luas.
"Harapannya, model ini tidak hanya diterapkan di tingkat provinsi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi BNN Pusat dalam menggerakkan seluruh taman kanak-kanak di Indonesia untuk menerapkan upaya pencegahan narkoba sejak usia dini secara serentak," katanya.
Reza menegaskan, pendidikan pencegahan sejak dini tidak hanya bertujuan melindungi anak dari bahaya narkoba, tetapi juga membangun ketahanan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk perundungan dan pengaruh negatif di era digital.
"Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kita mengajarkan mereka cara melindungi diri. Mulailah sejak usia dini melalui komunikasi yang hangat, keteladanan, dan pembelajaran yang menyenangkan.
Anak yang mampu berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat akan memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap berbagai ancaman, baik narkoba, perundungan, maupun pengaruh negatif di era digital," pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan