RADAR SURABAYA – Keterbatasan jumlah pengasuh menjadi salah satu tantangan dalam mendukung tumbuh kembang anak di panti asuhan.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Hartaji Ramzani,
merancang konsep ruang bermain anak panti yang dapat membantu menstimulasi kreativitas dan kemandirian anak.
Hartaji merancang lingkungan bermain terbuka atau open-ended play environment.
Konsep tersebut memungkinkan anak mengeksplorasi ruang dan berbagai fasilitas permainan secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada pendampingan pengasuh.
Gagasan tersebut berangkat dari pengamatan Hartaji di panti sosial asuhan anak balita.
Di lokasi tersebut, rasio pengasuh dan anak mencapai 1:6, sedangkan standar ideal yang digunakan dalam perancangan mencapai 1:4.
Baca Juga: Timnas Basket Putri Indonesia Dapat Dukungan Maksimal Jelang Asian Games 2026
“Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak,” ujar Hartaji, Jumat (31/7).
Ruang Bermain Anak Dirancang Tanpa Aturan Kaku
Untuk menjawab keterbatasan jumlah pengasuh, Hartaji menghadirkan konsep ruang bermain yang tidak memiliki aturan permainan secara kaku.
Anak diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi berbagai fasilitas sesuai imajinasi dan kemampuan masing-masing.
Desain ruang tersebut dilengkapi sejumlah sarana interaktif, seperti papan paku pada dinding serta perabot yang dapat disusun dan ditumpuk sesuai keinginan anak.
Konsep tersebut diharapkan menciptakan pengalaman bermain yang sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi anak.
“Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain,” jelasnya.
Dorong Kreativitas dan Kemandirian Anak Panti
Rancangan interior ruang bermain anak tersebut secara khusus diarahkan untuk melatih tiga aspek utama kreativitas, yakni keterbukaan berpikir, kemampuan berkarya, dan kemandirian.
Ketiga aspek tersebut dikembangkan melalui kebebasan bereksplorasi, penyediaan sarana yang dapat memicu imajinasi, serta penataan ruang yang fleksibel.
“Ketiga indikator tersebut dapat dilatih secara alamiah melalui pendekatan desain interior,” imbuhnya.
Pendekatan open-ended play memungkinkan satu fasilitas digunakan untuk berbagai aktivitas.
Dengan demikian, anak tidak hanya mengikuti instruksi permainan, tetapi juga dapat menentukan cara menggunakan fasilitas berdasarkan kreativitas dan imajinasinya.
Utamakan Keamanan dalam Desain Interior
Selain memperhatikan aspek kreativitas, rancangan ruang bermain tersebut juga mempertimbangkan faktor keamanan anak.
Secara teknis, ruang menerapkan pola segitiga dan belah ketupat yang terinspirasi dari bentuk atap rumah.
Seluruh sudut perabot dibuat tumpul untuk mengurangi risiko cedera. Ketinggian perabot juga dibatasi maksimal satu meter agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna, yaitu anak balita.
Pemilihan warna lembut, seperti hijau dan merah muda, turut disesuaikan dengan tingkat aktivitas motorik pada masing-masing area.
Dengan kombinasi tersebut, rancangan tidak hanya mengedepankan estetika interior, tetapi juga menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung aktivitas anak.
Dukung Pencapaian SDGs
Riset yang dilakukan Hartaji disusun untuk menghasilkan desain yang aman, inklusif, dan mampu menjawab permasalahan sosial secara nyata.
Rancangan ruang bermain untuk anak panti asuhan tersebut juga mendukung pencapaian
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta tujuan ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Melalui desain tersebut, anak-anak di panti asuhan diharapkan memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara lebih setara, meskipun terdapat keterbatasan jumlah pengasuh.
“Semoga perancangan ini dapat menjadi referensi solutif bagi pengelola panti asuhan,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan