Unesa Lepas 16.000 Mahasiswa ke Masyarakat, Wamendikti: Kampus Harus Keluar dari Menara Gading

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 20:58 WIB
Sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa mengikuti Program Mahasiswa Berdampak dan Mobilitas Akademik Semester Gasal 2026/2027. Mereka akan menjalani magang, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga pertukaran mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. (Rahmat Sudrajat)
Sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa mengikuti Program Mahasiswa Berdampak dan Mobilitas Akademik Semester Gasal 2026/2027. Mereka akan menjalani magang, riset, pengabdian kepada masyarakat, hingga pertukaran mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melepas 16.000 mahasiswa angkatan 2024 untuk mengikuti Program Mahasiswa Berdampak dan Mobilitas Akademik Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027.

Program ini menjadi langkah nyata Unesa dalam menjembatani kesenjangan antara dunia kampus dan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

Pelepasan mahasiswa berlangsung di Lapangan Rektorat Unesa, Kampus Lidah Wetan, Surabaya, Senin (27/7).

Acara tersebut dihadiri Rektor Unesa Prof. Nurhasan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Prof. Fauzan, serta Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi yang juga merupakan alumnus Unesa.

Sebanyak 16.000 mahasiswa akan diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri, seperti Malaysia dan Thailand.

Baca Juga: Menteri LH Lirik Inovasi ITS untuk MBG, Teknologi Pengolah Limbah Makanan Jadi Sorotan

Mereka mengikuti program magang, riset, Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), studi independen, wirausaha, pertukaran mahasiswa, asistensi mengajar, proyek kemanusiaan, dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).

Program magang menjadi kegiatan dengan peserta terbanyak, yakni 8.000 mahasiswa yang ditempatkan di 600 mitra industri dalam dan luar negeri.

Selain itu, 3.000 mahasiswa mengikuti program riset bersama 200 lembaga, 1.800 mahasiswa menjalani KKNT di 134 instansi dan Felda Adela, Malaysia,

1.050 mahasiswa mengikuti studi independen di 52 instansi, serta 1.000 mahasiswa menjalankan program wirausaha bersama 67 pelaku usaha.

Sebanyak 500 mahasiswa mengikuti pertukaran mahasiswa di 15 perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Sementara itu, 300 mahasiswa menjalani asistensi mengajar di 50 instansi, 200 mahasiswa terlibat dalam proyek kemanusiaan bersama 14 mitra, dan 150 mahasiswa mengikuti PLP di 25 instansi.

Wamendikti: Kampus Harus Menjadi Bagian dari Solusi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi dipandang sebagai institusi yang terisolasi dari kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Pemprov Jawa Timur Usulkan 2.100 Formasi CPNS, Seleksi Diprediksi Akhir Tahun 2026

"Kita berharap perguruan tinggi menyadari posisinya sebagai bagian dari entitas sosial. Hari ini kita menyaksikan agenda luar biasa yang didesain oleh Rektor Unesa dan timnya untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman sesuai kompetensinya," ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa akan menjalani pembelajaran langsung di tengah masyarakat selama sekitar empat bulan sehingga memperoleh pengalaman yang tidak didapatkan di ruang kuliah.

"Selama ini mereka berada di lingkungan kampus. Kini mereka akan melihat realitas kehidupan yang sebenarnya.

 Itulah hakikat pendidikan tinggi, yaitu menempa mahasiswa menjadi pelopor di masyarakat," katanya.

Prof. Fauzan juga menekankan pentingnya kolaborasi pentaheliks yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media agar hasil riset kampus mampu memberikan dampak nyata.

"Karya ilmiah jangan berhenti di jurnal, tetapi harus menjadi solusi bagi persoalan masyarakat.

 Kita membutuhkan sinergi pentaheliks agar inovasi kampus benar-benar dirasakan manfaatnya," tegasnya.

Unesa Perkuat Kompetensi dan Daya Saing Lulusan

Rektor Unesa Prof. Nurhasan menjelaskan Program Mahasiswa Berdampak dirancang untuk memperkuat kompetensi akademik sekaligus membangun keterampilan nonteknis (soft skills) dan sertifikasi yang dibutuhkan dunia industri.

"Unesa terus memperluas kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, dan berbagai pemangku kepentingan.

Tujuannya agar mahasiswa memiliki pengalaman nyata, siap memasuki dunia kerja, serta mampu bersaing di tingkat global," jelasnya.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi upaya meningkatkan profesionalisme, keterampilan abad ke-21, wawasan kebangsaan, serta kemampuan beradaptasi di lingkungan multikultural.

Bupati Nganjuk: Program Ini Menjawab Kebutuhan Daerah

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai Program Mahasiswa Berdampak menjadi solusi untuk mengurangi kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan pemerintah daerah.

Baca Juga: Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS, Perkuat Akses Keuangan dalam Ekosistem Danantara

"Selama ini lulusan baru masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Program Mahasiswa Berdampak ini menjadi jembatan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan nyata di lapangan sehingga manfaatnya akan dirasakan masyarakat maupun pemerintah daerah," ujarnya.

Program Mahasiswa Berdampak dan Mobilitas Akademik diharapkan mampu mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, berdaya saing global, serta memiliki pengalaman nyata dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Program Mahasiswa Berdampak dan Mobilitas Akademik Prof Nurhasan UNESA