RADAR SURABAYA – Minat masyarakat terhadap program Sekolah Rakyat di Jawa Timur terus meningkat. Bahkan, di sejumlah daerah jumlah pendaftar jenjang SMP dan SMA disebut telah melebihi kuota yang tersedia.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Restu Novi Widiani mengatakan, pemerintah masih melakukan penyesuaian kuota, terutama untuk jenjang SD yang dikurangi. Apabila jumlah pendaftar melebihi daya tampung, calon siswa akan diarahkan untuk memilih lokasi Sekolah Rakyat lainnya yang masih memiliki kapasitas.
Baca Juga: Bentrok DC dan Petugas Parkir Kafe di Basuki Rahmat Surabaya, Tiga Orang Alami Luka Bacok
"Untuk sementara, sebagian besar masih diupayakan penyesuaiannya. Misalnya, terkait kuota SD yang memang dipangkas. Namun apabila jumlah pendaftar terlalu banyak, mereka akan ditawarkan ke lokasi lain. Meski demikian, rata-rata kuota SMP dan SMA sudah terpenuhi," kata Novi, Minggu (26/7).
Dia memastikan hingga saat ini tidak ada penolakan siswa dalam proses penerimaan Sekolah Rakyat. Beberapa siswa memang belum dapat langsung mengikuti kegiatan pembelajaran karena kondisi kesehatan dan harus menjalani pengobatan terlebih dahulu.
Novi mencontohkan siswa yang menderita tuberkulosis (TBC). Mereka tidak ditolak untuk mengikuti program Sekolah Rakyat, tetapi proses masuknya ditunda sementara hingga kondisi kesehatan memungkinkan.
"Belum ada. Kecuali jika siswa yang bersangkutan sedang sakit dan perlu menjalani pengobatan terlebih dahulu. Jadi bukan ditolak, melainkan ditunda. Ada beberapa kasus, misalnya siswa yang menderita TBC dan sebagainya, sehingga harus dirawat terlebih dahulu," jelasnya.
Menurut Novi, peningkatan peminat Sekolah Rakyat terjadi karena masyarakat mulai memahami konsep dan fasilitas yang ditawarkan. Berbeda dengan masa perintisan tahun lalu, ketika masyarakat masih banyak yang mempertanyakan konsep sekolah tersebut karena belum memiliki contoh atau pembanding.
Baca Juga: Americano atau Latte Mana yang Lebih Aman untuk Lambung
Kini, masyarakat justru mulai melihat Sekolah Rakyat sebagai lembaga pendidikan yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Bahkan, sejumlah fasilitas dinilai lebih baik dibandingkan sekolah pada umumnya.
"Sekarang justru banyak yang menilai fasilitas Sekolah Rakyat lebih baik dibanding sekolah biasa. Misalnya gedung olahraga dan lapangan sepak bola berstandar internasional FIFA. Ada yang sampai menyebutnya seperti sekolah atlet," ujarnya.
Novimenyebut fasilitas tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat. Dia menilai keberadaan fasilitas pendukung yang memadai dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik.
Meski minat masyarakat meningkat, Novi mengakui terdapat beberapa siswa yang akhirnya keluar dari Sekolah Rakyat. Namun, dia menegaskan bahwa siswa tidak langsung dikeluarkan ketika melakukan pelanggaran atau mengalami kesulitan beradaptasi dengan aturan sekolah.
"Karena itu kepala sekolah dituntut kreatif dalam menerapkan sanksi. Bentuk sanksinya lebih bersifat pembinaan," ujarnya.
Menurut Novi, setiap siswa yang mengalami persoalan akan terlebih dahulu menjalani proses pembinaan bersama pihak sekolah. Pendekatan yang digunakan lebih mengutamakan pendidikan karakter dan kesadaran siswa terhadap kesempatan yang telah diberikan melalui program Sekolah Rakyat. (mus)
Editor : Lambertus Hurek