RADAR SURABAYA – Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi material komposit berbasis seng oksida (ZnO) yang mampu mengurai limbah cair hingga 100 persen sekaligus membunuh bakteri.
Teknologi ramah lingkungan ini diharapkan menjadi solusi baru untuk mengatasi pencemaran perairan akibat limbah domestik maupun industri.
Pakar kimia ITS, Prof. Dr. Eng. Kusdianto, S.T., M.Sc.Eng., menjelaskan bahwa metode pengolahan limbah konvensional masih belum mampu menguraikan seluruh polutan organik kompleks.
Kondisi tersebut menyebabkan zat-zat berbahaya terus terakumulasi di lingkungan perairan.
"Pengolahan yang tidak optimal menyebabkan akumulasi zat beracun tidak dapat terdegradasi dengan baik.
Metode fotokatalisis menjadi solusi, tetapi material yang umum digunakan, seperti seng oksida (ZnO) maupun titanium dioksida (TiO₂), masih memiliki keterbatasan dalam laju reaksi," ujarnya, Kamis (23/7).
Baca Juga: Bank Jatim dan Bank NTT Perkuat Sinergi BPD, Jalin Kerja Sama Layanan Remitansi
Berangkat dari tantangan tersebut, Kusdianto mengembangkan material komposit melalui teknik aerosol flame spray pyrolysis dan spray pyrolysis.
Teknologi ini mampu mengubah bahan baku menjadi partikel nano hanya dalam satu tahapan proses sehingga lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
"Kelebihannya, kami dapat mengatur suhu dan bentuk partikel sesuai kebutuhan. Prosesnya juga jauh lebih cepat dibandingkan metode cair biasa," katanya.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada penggunaan seng oksida yang diproduksi melalui metode sintesis hijau dengan memanfaatkan ekstrak pohon jati tanpa bahan kimia berbahaya.
Material tersebut kemudian dipadukan dengan perak berkadar 5 persen sehingga menghasilkan komposit yang memiliki kemampuan ganda.
Selain mampu menguraikan polutan organik, komposit ZnO-Ag juga efektif membunuh bakteri penyebab pencemaran.
"Zat aktif yang dihasilkan merusak dinding sel bakteri hingga mati. Sementara zat pencemar terurai sempurna menjadi air dan karbon dioksida tanpa meninggalkan limbah berbahaya," jelasnya.
Baca Juga: Pemprov Gelar Pasar Murah di Sampang, Warga Dapat Beras Gratis dan Sembako Murah
Hasil pengujian menunjukkan teknologi tersebut mampu mendegradasi polutan hingga 100 persen saat diaktifkan menggunakan sinar matahari.
Dengan memanfaatkan energi surya, proses pengolahan limbah menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Tak hanya diterapkan pada pengolahan air limbah, komposit seng oksida tersebut juga dikembangkan sebagai penyaring gas beracun, seperti amonia dan hidrogen sulfida, yang berasal dari emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Saat ini, Kusdianto tengah menyiapkan proses hilirisasi agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara luas di sektor industri.
Pengembangannya mencakup pengolahan limbah PLTU hingga limbah zat warna pada industri tekstil.
Untuk mempercepat implementasi, ia juga menjalin kolaborasi riset dengan Universitas Hiroshima, Jepang, serta membuka peluang kerja sama lintas disiplin ilmu.
Inovasi komposit seng oksida ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan potensi penerapan yang luas, teknologi karya peneliti ITS tersebut diharapkan mampu menjadi solusi pengolahan limbah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan di Indonesia.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan