Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ekspor Jatim Turun 2,92 Persen, Impor Melonjak 14,36 Persen, Neraca Dagang Defisit US$2,80 Miliar

Mus Purmadani • Kamis, 2 Juli 2026 | 17:30 WIB
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Herum Fajarwati.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Herum Fajarwati.

RADAR SURABAYA – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari–Mei 2026 mengalami tekanan.

Nilai ekspor tercatat menurun, sementara impor justru melonjak dua digit. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit hingga US$2,80 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan nilai ekspor Jawa Timur selama Januari–Mei 2026 mencapai US$10,91 miliar, atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Nilai ekspor Jawa Timur Januari hingga Mei 2026 tercatat sebesar US$10,91 miliar atau mengalami penurunan 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan itu, ekspor nonmigas juga turun 2,28 persen menjadi US$10,75 miliar," ujar Herum, Kamis (2/7).

Selain ekspor total, ekspor nonmigas juga mengalami kontraksi. Nilainya mencapai US$10,75 miliar, turun 2,28 persen dibandingkan Januari–Mei tahun lalu.

Baca Juga: Komisi A DPRD Jatim Prihatin Temuan Narkotika Terbesar, Perkuat Koordinasi dengan BNN dan Maksimalkan Perda Pencegahan

Secara bulanan, ekspor Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar US$2,38 miliar, turun 18,51 persen dibandingkan Mei 2025.

Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$2,37 miliar, atau menyusut 18,31 persen secara tahunan.

Lemak dan Minyak Hewani/Nabati Jadi Penopang Ekspor Jawa Timur

Di tengah penurunan ekspor, sejumlah komoditas masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dari 10 komoditas ekspor nonmigas terbesar, lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan tertinggi.

Nilai ekspor komoditas tersebut meningkat US$252,54 juta atau 28,70 persen dibandingkan periode Januari–Mei 2025.

Sebaliknya, komoditas perhiasan dan permata (HS 71) mengalami penurunan paling tajam.

Nilai ekspornya merosot hingga US$870 juta atau 40,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan sektor usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor utama ekspor nonmigas dengan nilai US$10,29 miliar, meski turun 1,08 persen secara tahunan.

Sementara itu, ekspor sektor pertanian turun 23,39 persen, sedangkan ekspor sektor pertambangan dan sektor lainnya menyusut 21,64 persen.

Baca Juga: Dirjen Imigrasi Perkuat Kepatuhan Internal, Digitalisasi Layanan Jadi Senjata Cegah Penyalahgunaan Wewenang

Impor Jawa Timur Naik 14,36 Persen

Berbeda dengan ekspor, kinerja impor Jawa Timur justru menunjukkan peningkatan signifikan.

Selama Januari–Mei 2026, nilai impor mencapai US$13,70 miliar, naik 14,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan tersebut didorong oleh impor nonmigas yang mencapai US$11,10 miliar atau tumbuh 11,74 persen.

Adapun impor migas tercatat sebesar US$2,60 miliar, melonjak 27,02 persen dibandingkan Januari–Mei 2025.

Pada kelompok komoditas nonmigas, buah-buahan menjadi penyumbang kenaikan impor terbesar. Nilai impornya bertambah US$159,45 juta atau naik 34,87 persen.

Komoditas pupuk berada di posisi berikutnya dengan kenaikan sebesar US$120,16 juta atau 27,05 persen.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan nilai US$10,97 miliar, meningkat 12,54 persen dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, impor barang konsumsi mencapai US$1,53 miliar atau naik 15,58 persen.

Adapun impor barang modal meningkat paling tinggi, yakni 31,98 persen, menjadi US$1,20 miliar.

Neraca Perdagangan Jawa Timur Defisit US$2,80 Miliar

Lonjakan impor yang tidak diimbangi pertumbuhan ekspor membuat neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sebesar US$2,80 miliar sepanjang Januari–Mei 2026.

Defisit tersebut terjadi karena nilai impor sebesar US$13,70 miliar melampaui nilai ekspor yang hanya mencapai US$10,91 miliar.

Secara rinci, defisit berasal dari sektor migas sebesar US$2,44 miliar, sedangkan sektor nonmigas juga masih mencatatkan defisit US$353,38 juta.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas impor di Jawa Timur masih tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Meski komoditas lemak dan minyak hewani/nabati masih menjadi penopang pertumbuhan ekspor, penurunan tajam ekspor perhiasan dan permata serta meningkatnya impor bahan baku, barang

modal, dan migas menjadi faktor utama yang menekan kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada lima bulan pertama 2026. (mus)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#herum Fajarwati #perdagangan luar negeri Jawa Timur #ekspor #badan pusat statistik (bps) #impor