RADAR SURABAYA – Ribuan wisudawan tampak sumringah mengenakan toga dan bersiap menerima ijazah pada prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Graha Unesa, Kamis (25/6).
Namun, di tengah kebahagiaan itu, terselip kisah mengharukan yang membuat banyak orang menahan air mata.
Di antara 1.500 lulusan yang diwisuda, ada satu nama yang dipanggil tetapi tak dapat melangkah ke atas panggung.
Dialah Linda Ayu Tivani, mahasiswi Fakultas Ekonomi berusia 22 tahun yang telah meninggal dunia akibat penyakit paru-paru basah yang berkembang sangat cepat.
Sebagai gantinya, sang ibu, Kartiwi, melangkah perlahan mewakili putrinya menerima penghargaan atas perjuangan panjang yang telah ditempuh Linda selama menempuh pendidikan di Unesa.
Baca Juga: 34.457 Jemaah Haji Tiba di Debarkasi Surabaya, 84 Wafat dan 13 Masih Dirawat di Arab Saudi
Momen itu menjadi puncak dari kisah perjuangan seorang mahasiswi yang memilih bertahan menyelesaikan kuliah di tengah kondisi kesehatan yang terus memburuk.
Tak Pernah Mengeluh Meski Menahan Sakit
Di mata keluarga, Linda dikenal sebagai pribadi pendiam dan tidak suka merepotkan orang lain.
Bahkan ketika penyakit mulai menggerogoti tubuhnya, ia memilih menyimpan rasa sakit seorang diri.
Menurut Kartiwi, gejala awal yang dirasakan putrinya hanya berupa batuk biasa. Tidak ada tanda-tanda yang membuat keluarga mengira kondisi tersebut akan berujung pada penyakit serius.
Namun hasil pemeriksaan rontgen mengungkap kenyataan berbeda. Paru-paru Linda telah dipenuhi cairan sehingga harus segera menjalani perawatan intensif.
"Hasil rontgen keluar tanggal 6. Sore harinya langsung dirawat inap. Saat itu cairan yang diambil sekitar 250 mililiter. Setelah sebulan kontrol tidak ada perubahan, malah dia semakin lemah dan tidak bisa berjalan," tutur Kartiwi.
Kondisi Linda terus menurun. Saat dibawa ke rumah sakit lain di Kediri, dokter menemukan jumlah cairan di paru-parunya mencapai sekitar 6 liter.
Baca Juga: Curacao vs Pantai Gading: The Elephants Bidik Tiket 32 Besar, Blue Wave Andalkan Keajaiban Eloy Room
Jumlah tersebut membuat tim medis terkejut karena jauh melebihi kondisi normal.
"Dokter juga kaget melihat kondisinya. Selama ini dia tidak pernah mengeluh. Tidak mau merepotkan orang tua maupun teman-temannya. Semua dipendam sendiri," ujar Kartiwi dengan mata berkaca-kaca.
Takut Kehilangan Beasiswa, Tetap Kerjakan Skripsi
Di tengah perjuangannya melawan penyakit, Linda masih memikirkan pendidikan. Ia menolak mengambil cuti kuliah meski tubuhnya semakin lemah.
Alasannya sederhana namun menyentuh hati. Ia khawatir kehilangan beasiswa yang selama ini membantunya menyelesaikan studi.
Kartiwi mengaku telah berulang kali meminta putrinya beristirahat dan fokus menjalani pengobatan.
Bahkan ia siap mencari tambahan biaya jika Linda harus memperpanjang masa kuliah.
Namun Linda tetap memilih menyelesaikan revisi jurnal dan tugas akhirnya.
"Saya bilang tidak apa-apa kalau harus cuti. Nanti saya cari uang untuk membayar UKT. Tetapi dia tetap tidak mau berhenti kuliah," kenangnya.
Semangat itu terus dipertahankan Linda hingga hari-hari terakhir hidupnya. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit, ia masih berusaha meyakinkan keluarganya bahwa kondisinya membaik.
"Dia bilang sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda," kata Kartiwi.
Sayangnya, harapan tersebut tidak berlangsung lama. Kondisinya kembali memburuk.
Sesak napas yang dialami semakin parah hingga akhirnya Linda mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Beasiswa yang Tak Pernah Diceritakan
Ada fakta lain yang baru diketahui keluarga setelah Linda meninggal dunia. Selama tiga semester terakhir, ia ternyata menerima beasiswa dari kampus.
Keluarga baru mengetahui hal itu setelah menanyakan langsung kepada pihak universitas.
Sebelumnya mereka merasa heran karena setiap kali hendak membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), sistem menunjukkan tagihan telah lunas.
"Ternyata dia menerima beasiswa selama tiga semester. Kami baru mengetahuinya setelah bertanya ke kampus. Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan," ungkap Kartiwi.
Bagi keluarga yang hidup dengan kondisi ekonomi sederhana, bantuan tersebut menjadi dukungan besar bagi perjalanan pendidikan Linda.
Hadiah untuk Perjuangan Linda
Kisah perjuangan Linda rupanya menyentuh hati pimpinan kampus. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan semangatnya menyelesaikan pendidikan,
Rektor Unesa Prof. Nurhasan memberikan kesempatan beasiswa kepada adik Linda yang kini masih duduk di kelas XI SMA.
Bantuan tersebut disambut penuh syukur oleh Kartiwi.
Sebagai seorang buruh dengan penghasilan terbatas, ia mengaku beasiswa itu menjadi harapan baru bagi masa depan anak bungsunya.
"Terima kasih kepada pihak kampus dan Pak Rektor. Dengan adanya beasiswa ini, adiknya nanti bisa melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya," tuturnya.
Linda merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia masuk Unesa melalui jalur mandiri dan dikenal sebagai sosok yang tekun serta tidak pernah menyerah.
Meski tak sempat mengenakan toga di hari wisuda, perjuangannya menyelesaikan pendidikan hingga akhir hayat menjadi warisan berharga yang akan terus dikenang keluarga, sahabat, dan civitas akademika Unesa.
Hari itu, di tengah gemuruh tepuk tangan para wisudawan, nama Linda Ayu Tivani tetap dipanggil.
Bukan untuk merayakan kelulusan yang biasa, melainkan untuk mengenang seorang mahasiswa yang memilih berjuang hingga titik terakhir demi meraih cita-citanya.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan