RADAR SURABAYA – Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur (Jatim) Sedang Menyiapkan penerapan Intelligent Transport System (ITS) atau sistem transportasi cerdas pada layanan angkutan publik Trans Jatim. Program tersebut akan diawali melalui proyek percontohan (pilot project) di Koridor 1 Trans Jatim yang memiliki tingkat keterisian penumpang (load factor) tinggi dan mobilitas lalu lintas yang padat.
Kepala Dishub Jatim, Nyono, mengatakan pengembangan ITS menjadi salah satu tindak lanjut dari kunjungan dan penjajakan kerja sama yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dengan sejumlah mitra luar negeri, termasuk saat kunjungan ke Xiamen, Tiongkok.
Menurutnya, Dishub Jatim ingin membawa teknologi transportasi modern yang telah diterapkan di berbagai negara untuk meningkatkan pelayanan angkutan umum sekaligus mengurangi kemacetan di kawasan perkotaan.
“Ke depan mudah-mudahan kita bisa apply. Saya ingin ada oleh-oleh dari Xiamen kemarin untuk memberikan pilot project ITS atau Intelligent Transport System. Jadi saya ingin satu koridor itu diterapkan ITS secara penuh,” ujar Nyono.
Salah satu teknologi yang akan diterapkan adalah simpang terkoordinasi berbasis sensor. Berbeda dengan sistem lampu lalu lintas konvensional yang menggunakan pengaturan waktu tetap (fixed time), sistem baru ini akan menyesuaikan durasi lampu hijau berdasarkan kondisi lalu lintas secara real time.
“Misalnya salah satu ITS itu simpang terkoordinasi. Kemudian menggunakan sensor, tidak lagi pakai hitungan fase detik, tetapi berbasis sensor. Jadi ketika kendaraan di suatu simpang padat, maka lampu hijaunya akan lebih lama. Sebaliknya kalau tidak padat, waktunya lebih singkat,” jelasnya.
Baca Juga: Belanda vs Jepang: Jepang Siap Kejutkan Belanda di Laga Pembuka Piala Dunia 2026!
Dengan teknologi tersebut, pengaturan arus kendaraan menjadi lebih dinamis dan responsif terhadap kondisi di lapangan. Sistem juga dinilai mampu mengurangi antrean kendaraan pada titik-titik kemacetan yang selama ini menjadi persoalan di kawasan perkotaan.
Selain pengaturan lampu lalu lintas berbasis sensor, Dishub Jatim juga akan menerapkan fitur bus priority atau prioritas bagi angkutan umum Trans Jatim.
Melalui sistem ini, bus akan mendapatkan prioritas saat mendekati persimpangan sehingga perjalanan menjadi lebih cepat dan tepat waktu.
Baca Juga: DPRD Jawa Timur Belum Boleh Kunker ke Luar Negeri, Hanya Mengharap Undangan Eksekutif
“Saya ingin bus itu ketika mendekati simpang, lampunya sudah hijau. Jadi ada sistem peringatan, beberapa meter sebelum simpang lampu bisa berubah hijau untuk bus. Itu yang disebut bus priority dan sedang kami upayakan agar bisa diterapkan,” katanya.
Nyono menegaskan penerapan ITS tidak hanya berorientasi pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga akan dikombinasikan dengan konsep jalan berkeselamatan. Dalam konsep tersebut, seluruh fasilitas keselamatan jalan seperti rambu, marka, penerangan, hingga perangkat pengendali lalu lintas akan terintegrasi dalam satu sistem.
“Jalan berkeselamatan itu semua fasilitas keselamatan sudah tersedia di jalur tersebut. Jadi nanti dikombinasikan dengan sistem angkutan publik yang sudah menggunakan ITS. Di negara-negara maju sistem seperti ini sudah menjadi hal yang biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Kacamata Pintar Berbasis AI Bantu Penanganan Darurat Medis Tunanetra
Untuk tahap awal, proyek ITS akan difokuskan pada Koridor 1 Trans Jatim yang selama ini menjadi salah satu jalur dengan tingkat permintaan penumpang tertinggi. Selain itu, Dishub Jatim juga menyiapkan pengembangan serupa di wilayah Malang.
“Rencananya di Koridor 1 karena load factor-nya tinggi dan pergerakan masyarakatnya besar. Kemudian ada rencana satu lagi di Malang. Jadi satu di wilayah Gerbangkertosusila dan satu di Malang,” terang Nyono.
Ia menambahkan, secara teknis sistem ITS yang akan diterapkan sudah siap. Saat ini Dishub Jatim tinggal menyelesaikan tahapan studi dan survei terhadap fasilitas-fasilitas pendukung yang berada di sepanjang koridor layanan.
Baca Juga: Skotlandia Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan, Gol John McGinn Tumbangkan Haiti
“Kalau sistem sebenarnya sudah siap. Sekarang kami melakukan studi di Koridor 1 dan mensurvei seluruh fasilitas yang ada untuk dikombinasikan dengan intelligent regulator. Mudah-mudahan tahun ini bisa berjalan, tentu tergantung dukungan anggaran,” katanya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto