RADAR SURABAYA - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) terus memperkuat kompetensi guru vokasi melalui pelatihan bidang teknologi informasi (IT) yang digelar melalui kelas Milenial Job Center (MJC). Kegiatan yang difasilitasi UPT Pengembangan Teknis Keterampilan dan Kejuruan (PTKK) tersebut diikuti 75 guru dari berbagai sekolah di Jatim pada 5–11 Juni 2026.
Pelatihan ini difokuskan pada lima bidang keterampilan yang saat ini banyak dibutuhkan dunia kerja dan industri, yakni fotografi, videografi, web desain, desain grafis, serta animasi. Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta akan mengikuti uji kompetensi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level 3 melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) milik UPT PTKK.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus diawali dari transformasi guru. Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan agar mampu mengikuti perkembangan peserta didik yang semakin adaptif terhadap teknologi digital.
“Kalau guru tidak meng-upgrade diri maka akan ketinggalan dengan siswanya. Transformasi pendidikan harus dimulai dengan transformasi guru,” ujar Aries saat membuka pelatihan guru vokasi berbasis IT, Sabtu (6/6).
Aries menjelaskan, saat ini kemampuan teknologi informasi yang dimiliki siswa sudah berkembang sangat pesat. Karena itu, peran guru tidak lagi hanya sebagai penyampai materi, melainkan harus mampu menjadi fasilitator, mentor, coach, sekaligus inspirator dalam proses pembelajaran.
“Sekarang murid bisa saja lebih mampu daripada gurunya. Karena itu guru harus menjadi fasilitator, mentor, coach, sekaligus inspirator bagi siswa,” katanya.
Selain penguasaan teknologi, Aries menilai penting bagi guru untuk membekali siswa dengan karakter, mental, dan kedisiplinan kerja. Menurutnya, banyak lulusan yang memiliki kemampuan teknis cukup baik, namun kurang siap menghadapi dinamika dunia kerja karena minim pembinaan karakter dan budaya kerja sejak di sekolah.
“Kadang-kadang baru dua sampai tiga bulan sudah minta resign karena tidak tahan dengan lingkungan kerja. Ini karena mereka tidak pernah diajarkan tentang mental dan disiplin,” ungkapnya.
Karena itu, Dindik Jatim mendorong para guru SMK untuk lebih aktif mengenalkan budaya industri kepada siswa. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan serapan lulusan SMK di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sekaligus menekan angka pengangguran lulusan pendidikan vokasi.
Baca Juga: 6 Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Masih Dirawat di Arab Saudi
“Jangan sampai angka pengangguran lulusan SMK tinggi. Kita ingin lulusan SMK terserap DUDI lebih tinggi, mampu membuka usaha mandiri, dan memiliki disiplin serta mental yang kuat,” tegasnya.
Aries juga menyoroti pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran. Menurutnya, generasi saat ini sangat dekat dengan teknologi visual sehingga guru perlu menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lebih menarik dan efektif.
“Kalau proses pembelajaran hanya satu arah, anak-anak tidak akan tertarik. Generasi sekarang sudah sangat dekat dengan visual sebagai proses pendidikan,” tambahnya.
Sementara itu, Instruktur Fotografi dari tim Milenial Job Center (MJC), Bretya Pati Anoraga, menjelaskan bahwa materi fotografi yang diberikan dalam pelatihan meliputi pendalaman konsep segitiga exposure, teknik pencahayaan (lighting), hingga praktik penggunaan kamera secara langsung.
Baca Juga: Diduga Hendak Tawuran dan Main Keroyok, Delapan Pemuda Diciduk Polisi di Jalan Banyu Urip Surabaya
Peserta juga mendapatkan pengalaman memotret dalam berbagai teknik dan kondisi, seperti panning, tekstur, hingga portrait. Menurut Bretya, keberhasilan dalam fotografi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi dan kemampuan menyusun konsep sebelum proses pemotretan dilakukan.
“Peserta harus memahami bahwa fotografi bukan hanya soal skill, tetapi juga komunikasi dan pembentukan konsep sebelum memfoto,” jelasnya.
Melalui pelatihan ini, Dindik Jatim berharap para guru vokasi mampu meningkatkan kompetensi digital sekaligus mentransformasikan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan industri dan karakter generasi muda saat ini. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto