Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Musim Kemarau di Jatim, 12 Kecamatan Terdampak Kekeringan dan 1.593 KK Kesulitan Air

Mus Purmadani • Jumat, 5 Juni 2026 | 18:33 WIB
PEMETAAN: Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyebut musim kemarau membuat 12 kecamatan di Jatim dan tuga kabupaten terdampak kekeringan.(IST/RADAR SURABAYA)
PEMETAAN: Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyebut musim kemarau membuat 12 kecamatan di Jatim dan tuga kabupaten terdampak kekeringan.(IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Musim kemarau yang mulai berlangsung di sejumlah wilayah Jawa Timur (Jatim) memicu krisis air bersih. Hingga Rabu (3/6), sedikitnya 12 kecamatan di tiga kabupaten terdampak kekeringan yang menyebabkan ribuan warga mengalami kesulitan mendapatkan akses air untuk kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, selama periode 11 Mei hingga 2 Juni 2026 tercatat sebanyak 1.593 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih. Untuk membantu masyarakat, BPBD Jatim telah menyalurkan sekitar 109 ribu liter air bersih ke berbagai daerah yang mengalami kekeringan.

Kabupaten Bondowoso menjadi daerah dengan dampak paling besar. Sebanyak delapan kecamatan di wilayah tersebut mengalami kekurangan air bersih dengan jumlah warga terdampak mencapai 1.534 KK. Sementara itu, Kabupaten Probolinggo tercatat memiliki 34 KK terdampak dan Kabupaten Bojonegoro sebanyak 25 KK terdampak kekeringan.

Baca Juga: Doorr.. Dorrr..Tiga Pelaku Curanmor Ditembak Unit Resmob Polrestabes Surabaya

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa kondisi kekeringan yang terjadi saat ini dipengaruhi karakteristik geografis sejumlah daerah yang sangat bergantung pada air hujan sebagai sumber utama pasokan air.

Menurutnya, ketika musim kemarau tiba, wilayah-wilayah tersebut memiliki cadangan air yang terbatas sehingga lebih rentan mengalami krisis air bersih. “Sehingga ketika musim kemarau berlangsung, cadangan air di wilayah tersebut minim,” ujarnya, Jumat (5/6). 

Baca Juga: Harga Telur Peternak Jatim Tertekan, Disperindag Genjot SPHP Jagung untuk Tekan Biaya Produksi

Ia mencontohkan Kabupaten Bondowoso yang hampir setiap tahun menjadi salah satu daerah langganan kekeringan saat musim kemarau. Sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan tadah hujan sehingga ketersediaan air sangat bergantung pada curah hujan selama musim penghujan.

Kondisi tersebut menyebabkan sumber-sumber air mulai mengering ketika kemarau berlangsung. Akibatnya, warga harus mencari sumber air alternatif dengan menempuh jarak yang lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Saat ini, penanganan krisis air bersih masih dilakukan oleh BPBD kabupaten setempat melalui distribusi atau dropping air bersih ke desa-desa yang terdampak. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Hi-VITS, Sistem Pintar yang Bisa Cegah Kebakaran dari Instalasi Listrik

Dari seluruh daerah yang mengalami kekeringan, hingga kini baru Kabupaten Bondowoso yang secara resmi mengajukan bantuan tambahan pasokan air bersih kepada Pemerintah Provinsi Jatim.

“Yang baru meminta bantuan air bersih ke provinsi sementara ini, baru Bondowoso,” kata Gatot.

BPBD Jatim juga mengingatkan bahwa potensi krisis air bersih masih berpeluang meluas dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung hingga September mendatang.

Baca Juga: Aksinya Terekam CCTV, Jambret HP di Jalan Makam Peneleh Surabaya Ditangkap

Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah yang bergantung pada sumber air tadah hujan berisiko mengalami kekeringan yang lebih parah apabila tidak mendapatkan tambahan pasokan air maupun hujan dalam waktu dekat. 

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Jatim terus melakukan pemantauan perkembangan di lapangan, berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten atau kota, serta menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menghadapi kemungkinan bertambahnya wilayah terdampak kekeringan selama puncak musim kemarau berlangsung. 

Dengan tren kekeringan yang mulai meningkat sejak Mei lalu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk melakukan penghematan penggunaan air serta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia agar kebutuhan air bersih dapat tetap terpenuhi hingga musim hujan kembali tiba. (mus/gun)

 

Editor : Guntur Irianto
#Terdampak #kekeringan #BPBD Jatim #Data #Musim Kemarau