RADAR SURABAYA – Proses pemulangan jemaah haji melalui Debarkasi Surabaya hingga kedatangan kloter 17 berlangsung dengan kondisi kesehatan yang relatif terkendali.
Meski sejumlah jemaah mengalami gangguan kesehatan, mayoritas hanya mengeluhkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan tidak ditemukan kasus penyakit menular berbahaya dari Arab Saudi.
Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengungkapkan hingga saat ini masih terdapat delapan jemaah yang menjalani perawatan di rumah sakit setelah tiba di Tanah Air.
Sebanyak dua jemaah dirawat di RS Haji Surabaya, sementara enam lainnya dirawat di sejumlah rumah sakit daerah, yakni RS Karsa Husada Batu, RSUD dr. Mohamad Saleh Probolinggo, RSUD Bangil, dan RS Graha Sehat Medika Pasuruan.
“Ada beberapa jemaah yang dirujuk ke rumah sakit saat tiba di Bandara Juanda. Sebagian dirujuk ke RS Haji Surabaya, sedangkan lainnya dirujuk ke rumah sakit daerah setelah mendapatkan pemeriksaan di klinik dan membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Rosidi, Kamis (4/6).
Baca Juga: KONI Jatim Acungi Jempol Fasilitas Unesa, Siap Jadi Sentral Porprov Jatim 2027
Gangguan Pernapasan Jadi Keluhan Terbanyak Jemaah Haji
Menurut Rosidi, dua jemaah yang dirawat di RS Haji Surabaya mengalami penyakit paru kronis disertai penurunan kadar oksigen.
Sementara itu, jemaah yang dirujuk ke rumah sakit daerah mayoritas mengalami gangguan pernapasan dan sesak napas.
Meski demikian, kondisi kesehatan jemaah haji tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan musim haji sebelumnya.
Ketatnya pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan disebut menjadi salah satu faktor yang mendukung kondisi jemaah tetap stabil hingga kembali ke Indonesia.
“Tahun ini kondisi kesehatan jemaah yang berangkat jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Saat kepulangan pun mayoritas masih dalam kondisi stabil dan hanya sedikit yang membutuhkan perawatan intensif,” katanya.
Tidak Ada Kasus Ebola, Hantavirus, maupun MERS-CoV
Sebagai langkah antisipasi penyebaran penyakit menular, petugas kesehatan di Asrama Haji Surabaya melakukan pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner terhadap seluruh jemaah yang tiba.
Jemaah dengan suhu tubuh di atas 37,5 derajat Celsius langsung menjalani tes usap (swab) untuk memastikan tidak membawa penyakit menular dari luar negeri.
Rosidi menegaskan seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan negatif terhadap penyakit menular berbahaya seperti Ebola, Hantavirus, maupun Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).
“Memang ada beberapa jemaah yang menjalani swab sebagai langkah preventif. Namun hasilnya negatif dan mereka dapat kembali ke daerah masing-masing bersama kloter,” jelasnya.
PPIH Imbau Jemaah Waspada Selama 21 Hari
PPIH Debarkasi Surabaya mengingatkan seluruh jemaah haji untuk tetap memantau kondisi kesehatan selama 21 hari setelah kepulangan.
Masa tersebut dianggap penting karena sejumlah penyakit infeksi memiliki masa inkubasi sebelum gejala muncul.
Jemaah yang mengalami demam, batuk, sesak napas, atau gejala kesehatan lainnya diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat dengan menunjukkan barcode Satu Sehat Health Pass (SSHP).
“Semua pelaku perjalanan internasional memiliki potensi membawa penyakit menular. Karena itu kami mengimbau jemaah tetap waspada dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala,” tegas Rosidi.
ISPA dan Hipertensi Dominasi Kunjungan Klinik Asrama Haji
Data PPIH menunjukkan sebanyak 19 jemaah mendapatkan pelayanan medis di Klinik Asrama Haji Surabaya selama proses debarkasi yang telah melayani 3.791 jemaah.
Keluhan yang paling banyak ditemui meliputi:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Penyakit paru kronis (COPD)
Hipertensi
Flu (acute nasopharyngitis)
Sesak napas (dyspnea)
Asma
Keluhan tersebut umumnya dapat ditangani secara medis tanpa memerlukan perawatan intensif dalam jangka panjang.
49 Jemaah Haji Wafat di Tanah Suci
Sementara itu, hingga hari ketiga proses pemulangan, tercatat 49 jemaah haji asal embarkasi Surabaya meninggal dunia di Tanah Suci.
Penyebab kematian terbanyak berasal dari gangguan kardiovaskular, antara lain:
Syok kardiogenik (cardiogenic shock): 22 kasus
Serangan jantung akut (acute myocardial infarction): 6 kasus
Syok septik (septic shock): 3 kasus
Gagal napas akut (acute respiratory failure): 3 kasus
“Sebagian besar jemaah yang wafat berada di Makkah. Kami turut berduka cita dan berharap seluruh jemaah yang wafat husnul khatimah serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Rosidi.
Selain itu, masih terdapat dua jemaah yang belum dapat dipulangkan ke Indonesia karena menjalani perawatan medis di Arab Saudi.
Satu jemaah dirawat akibat diabetes di RS Al-Noor, sedangkan satu lainnya menjalani perawatan kanker di rumah sakit wilayah Jeddah.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan