Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inflasi Jawa Timur Tembus 3,49 Persen, BPS Ungkap Penyebab Utama Kenaikan Harga

Mus Purmadani • Rabu, 3 Juni 2026 | 15:53 WIB
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati. (Mus Purmadani/Radar Surabaya)
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati. (Mus Purmadani/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) mencapai 3,49 persen, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,85 persen dan Mei 2025 yang hanya 1,22 persen.

Angka tersebut juga berada di atas inflasi nasional yang pada periode sama tercatat sebesar 3,08 persen. 

Kenaikan harga sejumlah komoditas strategis seperti emas perhiasan, cabai rawit, beras, dan tarif angkutan udara menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Jawa Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga dalam setahun terakhir sehingga memicu peningkatan inflasi.

“Pada Mei 2026, inflasi year-on-year Jawa Timur tercatat sebesar 3,49 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen,” ujar Herum, Rabu (3/6).

Menurut Herum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok transportasi.

Baca Juga: IHSG Mendadak Ambrol Nyaris 5 Persen, Ada Kaitan Kejagung Geledah Kantor BGN ?

“Penyumbang utama inflasi year-on-year berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta kelompok transportasi,” katanya.

Sumenep Tertinggi, Tulungagung Terendah

BPS mencatat inflasi tahunan terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi, yakni mencapai 5,12 persen.

Sebaliknya, Kabupaten Tulungagung mencatat inflasi terendah sebesar 2,84 persen.

Tingginya inflasi menunjukkan masih adanya tekanan harga pada sejumlah kebutuhan masyarakat.

Selain faktor pangan, kenaikan tarif transportasi dan harga komoditas global turut memengaruhi perkembangan inflasi di berbagai daerah.

Emas, Cabai Rawit, Beras, dan Tiket Pesawat Jadi Pemicu

Herum menjelaskan, komoditas yang paling dominan mendorong inflasi Jawa Timur selama satu tahun terakhir adalah emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan beras.

Baca Juga: Bak Film Aksi, Pelaku Pembobolan Ruko di Wonokusumo Wetan Surabaya Gunakan Kawat untuk Masuk Rumah

Di sisi lain, beberapa komoditas seperti bawang putih, kelapa, dan pisang berkontribusi menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.

“Komoditas utama pendorong inflasi antara lain emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, beras, serta beberapa komoditas lainnya. Sementara bawang putih, kelapa, dan pisang turut menahan laju inflasi,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan biaya bahan baku industri impor juga turut memberikan tekanan terhadap harga berbagai produk manufaktur.

Dampaknya terlihat pada kenaikan harga produk berbahan plastik yang banyak digunakan dalam sektor elektronik hingga industri air minum dalam kemasan.

Pasokan Pangan Masih Jadi Tantangan

BPS Jawa Timur menilai gejolak harga pangan masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi.

Keterbatasan pasokan beras, cabai, dan bawang menyebabkan harga di tingkat konsumen terus mengalami kenaikan.

Meski demikian, pasokan beberapa komoditas protein hewani dinilai masih relatif aman.

“Pasokan daging dan telur ayam ras cenderung tercukupi meskipun permintaan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Herum.

Inflasi Bulanan Didorong Kenaikan Tarif Angkutan Udara

Secara bulanan atau month-to-month (mtm), inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen.

Kota Surabaya menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,37 persen, sedangkan Kota Probolinggo mencatat inflasi terendah sebesar 0,03 persen.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil mencapai 0,11 persen. Kenaikan tersebut terutama dipicu melonjaknya tarif angkutan udara.

“Angkutan udara mengalami kenaikan harga berkisar 14,81 persen hingga 16,16 persen dibandingkan bulan sebelumnya sehingga memberikan andil cukup besar terhadap inflasi Mei,” terang Herum.

Masih Dalam Target Inflasi Nasional

Meski inflasi Jawa Timur mendekati batas atas sasaran inflasi nasional, BPS memastikan kondisi tersebut masih berada dalam kategori aman.

Pemerintah menetapkan target inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen atau berada pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Dengan capaian 3,49 persen, inflasi Jawa Timur masih berada dalam koridor yang ditetapkan pemerintah.

“Masih aman karena angka inflasi Jawa Timur 3,49 persen masih berada dalam rentang target yang ditetapkan pemerintah,” tegas Herum.

Ia menambahkan, perkembangan ekonomi global, konflik geopolitik, serta ketidakpastian pasar internasional menjadi faktor yang turut memengaruhi pergerakan inflasi nasional maupun daerah.

Meski inflasi tahunan tergolong tinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Jawa Timur masih relatif terkendali, yakni sebesar 1,43 persen.

BPS berharap berbagai kebijakan pengendalian harga yang dilakukan pemerintah dapat terus berjalan efektif sehingga tekanan inflasi dapat mereda pada bulan-bulan mendatang dan daya beli masyarakat tetap terjaga.(mus) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#herum Fajarwati #pemicu utama #inflasi jawa timur