RADAR SURABAYA – Harga telur ayam di tingkat peternak Jawa Timur (Jatim) mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Melimpahnya produksi yang tidak diimbangi dengan penyerapan pasar membuat harga telur di kandang jatuh di bawah biaya operasional.
Akibat kondisi ini, para peternak rakyat harus menanggung kerugian besar yang diperkirakan mencapai Rp5.000 per kilogram (kg).
Merespons krisis tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat. BGN menegaskan kewajiban seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap pasokan telur langsung dari peternak lokal.
BGN Siapkan Sanksi Tegas bagi SPPG nakal
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa kebijakan pembelian langsung ini bersifat wajib.
Langkah ini diambil untuk melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat sekaligus menjaga stabilitas rantai pasok pangan nasional.
BGN bahkan tidak segan-segan menjatuhkan sanksi berat bagi pengelola dapur program MBG yang melanggar ketentuan tersebut.
Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan sanksi berupa penghentian sementara operasional bagi SPPG yang terbukti tidak mematuhi ketentuan pembelian telur dari peternak lokal.
Baca Juga: Ekspor Jatim Tumbuh 2,57 Persen hingga April 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
Penyebab Harga Telur Anjlok di Jawa Timur
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, menjelaskan bahwa situasi kelebihan pasokan (oversupply) ini dipicu oleh proyeksi peternak yang meleset.
Sebelumnya, banyak peternak yang sengaja meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada momentum Hari Raya Idul Fitri serta dimulainya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, realisasi di lapangan tidak sesuai ekspektasi.
Masalahnya saat ini para peternak sudah terlanjur meningkatkan skala produksi karena mengantisipasi MBG dan kebutuhan hari raya.
Namun, ternyata ekspektasinya tidak sesuai dengan realisasi. Bahkan kemarin ada penurunan penyerapan dari SPPG, ungkap wanita yang akrab disapa Indy tersebut.
Stok Menumpuk di Sentra Peternakan Blitar
Dampak dari penurunan serapan ini paling dirasakan di sentra-sentra produksi telur Jatim, khususnya Kabupaten Blitar.
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Rofi Yasifun, mengungkapkan terjadi penumpukan stok yang luar biasa di kandang-kandang peternak sejak libur Lebaran usai, bertepatan dengan jeda operasional program MBG.
* Penumpukan Stok: Di Blitar saja, peternak skala besar bisa menumpuk hingga 300 ton telur di kandang masing-masing.
* Harga Telur Hari Ini: Harga jual di tingkat peternak merosot ke angka Rp21.500 hingga Rp22.500 per kg, jauh di bawah harga acuan pemerintah untuk menutup biaya produksi.
* Arus Kas Terganggu: Peternak mandiri skala kecil terpaksa menjual dengan harga terendah demi menjaga perputaran modal usaha (cash flow) tetap berjalan, meski harus rugi hingga Rp5.000 per kg.
Upaya Pemerintah Stabilkan Harga Telur Jatim
Menanggapi kondisi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah pusat tengah merumuskan solusi jangka pendek dan menengah.
Koordinasi intensif telah dilakukan melalui rapat bersama:
1. Badan Pangan Nasional (Bapanas)
2. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian
3. Dinas Peternakan Kabupaten/Kota se-Jawa Timur
Solusi: Tambah Porsi Menu Telur di Program MBG
Salah satu langkah konkret yang disepakati adalah mengoptimalkan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis.
SPPG diinstruksikan untuk menambah porsi atau variasi menu berbahan dasar telur dalam paket makanan bagi penerima manfaat.
Kami sudah berkomitmen dengan Bapanas dan dinas kabupaten/kota agar SPPG menambah menu telur guna membantu menyerap produksi peternak yang melimpah, jelas Indyah Aryani.
Peternak Menjerit Akibat Harga Pakan Ayam Naik
Kondisi peternak diperparah oleh biaya operasional yang terus melambung tinggi. Selain terpukul oleh harga jual telur yang murah, mereka juga harus menghadapi kenaikan harga pakan ayam petelur yang signifikan.
Sri Wahyuni, salah satu peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang, membagikan keluhannya terkait modal pakan.
* Harga Pakan Sebelumnya: Rp345.000 - Rp350.000 per sak (50 kg)
* Harga Pakan Saat Ini: Rp365.000 per sak (50 kg)
Kenaikan harga pakan ini kian menjepit margin keuntungan peternak kecil yang memiliki modal terbatas.
Kami berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk menjaga stabilitas harga pakan maupun harga jual telur di pasar, agar peternak mandiri seperti kami bisa tetap bertahan hidup, pungkas Sri. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan