RADAR SURABAYA – Kepulangan jemaah haji Debarkasi Surabaya dari Tanah Suci akan diawasi secara ketat melalui serangkaian skrining kesehatan untuk mencegah masuknya penyakit menular ke Indonesia.
Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya menyiapkan tim medis yang akan melakukan pemeriksaan sejak jemaah masih berada di dalam pesawat hingga tiba di Asrama Haji Surabaya.
Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh jemaah haji tiba
dalam kondisi sehat sekaligus mencegah penyebaran penyakit infeksi emerging seperti hantavirus, ebola, virus Nipah, meningitis, dan influenza.
“Setelah pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda, tim kesehatan akan langsung naik ke pesawat untuk melakukan pemantauan kondisi jemaah.
Jika ada yang membutuhkan pertolongan medis, penanganan dapat segera dilakukan,” ujarnya, Minggu (31/5).
Skrining Kesehatan Dimulai dari Pintu Pesawat
Menurut Rosidi, tim yang bertugas di dalam pesawat terdiri atas dokter, perawat, dan tenaga sanitarian.
Baca Juga: Kebijakan Bahasa Asing di Sekolah Tuai Sorotan, Ini Peringatan Pakar
Selain memantau kondisi kesehatan penumpang, petugas juga memeriksa aspek sanitasi kabin guna memastikan lingkungan penerbangan tetap aman dan sehat.
Apabila ditemukan jemaah dengan kondisi gawat darurat, petugas akan segera merujuknya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Setelah tiba di Asrama Haji Surabaya, pemeriksaan kesehatan kembali dilakukan melalui pemindaian suhu tubuh
menggunakan thermal scanner dan pengamatan visual terhadap gejala klinis yang mengarah pada penyakit menular.
“Jika ditemukan gejala yang mencurigakan, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya,” kata Rosidi.
Hantavirus hingga Ebola Jadi Fokus Pengawasan
BBKK Surabaya menaruh perhatian khusus terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi terbawa oleh pelaku perjalanan internasional, termasuk jemaah haji.
Rosidi menyebut penyakit yang menjadi fokus pengawasan meliputi influenza, meningitis, virus Nipah, hantavirus, dan ebola.
Penyakit-penyakit tersebut masuk kategori penyakit infeksi emerging yang membutuhkan kewaspadaan tinggi karena berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa jika tidak terdeteksi sejak dini.
Apabila hasil skrining menunjukkan indikasi tertentu, petugas akan segera melakukan tes usap (swab) di lokasi.
Sementara itu, jika diperlukan tindakan karantina kesehatan, pelaksanaannya akan dilakukan di daerah asal jemaah dengan koordinasi bersama dinas kesehatan setempat.
Poliklinik dan Ambulans Disiagakan 24 Jam
Untuk mendukung kelancaran proses kepulangan jemaah haji, BBKK Surabaya juga menyiagakan poliklinik yang beroperasi selama 24 jam di lingkungan Asrama Haji Surabaya.
Baca Juga: Bukan Soal Pertumbuhan, Ini Tantangan Terbesar Ekonomi Jawa Timur
Selain itu, sebanyak 10 unit ambulans ditempatkan di Bandara Juanda, Asrama Haji Surabaya, serta sejumlah titik cadangan.
Puluhan tenaga kesehatan dan petugas pendukung turut disiagakan selama proses kedatangan jemaah berlangsung.
Rosidi juga mengimbau seluruh jemaah haji agar mengisi formulir pernyataan kesehatan secara lengkap.
Data tersebut menjadi bagian penting dalam sistem deteksi dini penyakit menular yang diterapkan pemerintah di pintu masuk negara.
Sebanyak 22 Jemaah Haji Jatim Wafat di Tanah Suci
Menjelang kepulangan jemaah haji tahun ini, tercatat 22 jemaah asal Jawa Timur meninggal dunia di Tanah Suci.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada musim haji tahun lalu yang mencapai 45 orang.
Sementara itu, kedatangan jemaah haji Debarkasi Surabaya pada 1 Juni diawali oleh Kloter 1 asal Kabupaten Probolinggo yang dijadwalkan mendarat pukul 20.25 WIB.
Selanjutnya disusul Kloter 2 pada pukul 21.20 WIB, Kloter 3 pukul 22.20 WIB, dan Kloter 4 pukul 23.20 WIB.
Keempat kloter tersebut menjadi rombongan pertama jemaah haji Debarkasi Surabaya yang kembali ke Indonesia setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan