Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bukan Soal Pertumbuhan, Ini Tantangan Terbesar Ekonomi Jawa Timur

Mus Purmadani • Senin, 1 Juni 2026 | 04:17 WIB
Heri Cahyo Bagus Setiawan. (Rahmat Sudrajat)
Heri Cahyo Bagus Setiawan. (Mus Purmadani)

RADAR SURABAYA – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,96 persen pada triwulan I 2026 menjadi kabar menggembirakan bagi perekonomian daerah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur masih menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi nasional.

Namun, di balik capaian itu, terdapat tantangan besar yang harus segera dihadapi, yakni memperkuat daya saing sektor riil di tengah percepatan transformasi digital.

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia, Heri Cahyo Bagus Setiawan, menilai Jawa Timur saat ini berada pada momentum yang sangat strategis.

Aktivitas industri masih tumbuh, sektor perdagangan bergerak positif, UMKM tetap bertahan, dan konsumsi masyarakat relatif terjaga.

“Jawa Timur hari ini sedang berada pada momentum ekonomi yang menarik. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi daerah masih menunjukkan performa yang cukup kuat.

Namun, di sisi lain, perubahan dunia usaha bergerak jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya,” ujar Heri, Minggu (31/5).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Senin, 1 Juni 2026: Cuaca Cerah, Siang Panas, Waspada Banjir Rob di Pesisir

Digitalisasi Ubah Peta Persaingan Usaha

Menurut Heri, perkembangan teknologi telah mengubah pola bisnis secara signifikan. Cara masyarakat berbelanja, memasarkan produk,

hingga strategi perusahaan dalam memenangkan pasar kini sangat bergantung pada pemanfaatan teknologi digital.

Ia menegaskan bahwa persaingan usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk.

Kemampuan membaca data, memahami perilaku konsumen, menguasai platform digital, serta membangun jaringan usaha yang adaptif kini menjadi faktor utama dalam memenangkan pasar.

“Persaingan usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan membaca data, menguasai platform digital, memahami perilaku pasar, dan membangun jejaring ekonomi yang adaptif,” katanya.

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Masih Kuat

Heri mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,96 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik.

Capaian tersebut memperlihatkan ketahanan ekonomi daerah yang didukung sektor industri pengolahan, perdagangan, konsumsi domestik, dan aktivitas UMKM.

Pandangan itu sejalan dengan optimisme yang disampaikan Khofifah Indar Parawansa serta asesmen Bank Indonesia terkait kondisi ekonomi daerah.

Meski demikian, Heri mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menjamin kekuatan ekonomi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Pemprov Jatim Laksanakan WFH ASN Setiap Jumat, Ini Alasannya

“Ketika sebuah daerah gagal membangun daya saing sektor riilnya, perlahan daerah tersebut hanya akan menjadi pasar besar bagi kekuatan ekonomi lain yang lebih siap secara teknologi dan sistem usaha,” tegasnya.

UMKM Jawa Timur Hadapi Tantangan Baru

Transformasi ekonomi digital telah membuka peluang yang lebih luas bagi produk-produk lokal Jawa Timur untuk masuk ke pasar nasional hingga ekspor.

Produk kopi, herbal, makanan halal, fesyen muslim, dan industri kreatif mulai mendapatkan akses pasar yang lebih besar melalui platform digital.

Namun, peluang tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Produk lokal kini harus bersaing secara langsung dengan produk dari daerah lain bahkan luar negeri yang memiliki strategi pemasaran digital lebih agresif.

Heri menilai persoalan utama UMKM saat ini bukan lagi kualitas produk, melainkan lemahnya branding, distribusi digital, dan jaringan usaha.

“Di era digital seperti sekarang, produk bagus saja tidak cukup. Yang memenangkan pasar adalah mereka yang mampu membangun ekosistem usaha, menguasai jaringan distribusi, dan memahami ritme perubahan pasar digital,” ujarnya.

Hilirisasi dan Branding Jadi Kunci

Sebagai contoh, Heri menyoroti potensi sektor kopi Jawa Timur yang berkembang di wilayah Bondowoso, Ijen, Malang, dan Pasuruan.

Menurutnya, kualitas kopi daerah tersebut sudah mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan nilai tambah melalui penguatan merek, perbaikan kemasan, serta hilirisasi produk agar tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah.

“Produk kopi Jawa Timur memiliki kualitas yang sangat baik. Tantangannya adalah bagaimana produk tersebut mampu menghasilkan nilai tambah melalui branding dan hilirisasi,” katanya.

Penguatan UMKM Harus Lebih Strategis

Heri menekankan bahwa program penguatan UMKM perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi.

Pendampingan tidak cukup hanya berfokus pada aspek administrasi dan permodalan.

Pelaku UMKM perlu memahami perilaku konsumen modern, memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), membaca tren pasar digital, serta membangun diferensiasi produk agar tetap kompetitif.

Selain itu, ia mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, industri, perbankan, dan komunitas lokal untuk membangun ekosistem ekonomi yang berbasis data dan responsif terhadap perubahan global.

Masa Depan Ekonomi Jawa Timur

Heri optimistis Jawa Timur memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan ekonomi digital.

 Kekuatan sektor industri, jutaan UMKM, komunitas pesantren produktif, generasi muda kreatif, serta budaya perdagangan yang kuat menjadi aset penting dalam memperkuat sektor riil.

Menurutnya, masa depan ekonomi Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi atau tingginya pertumbuhan ekonomi tahunan, tetapi juga oleh kemampuan daerah membangun ekosistem usaha yang adaptif dan berdaya saing.

“Jawa Timur sesungguhnya memiliki modal besar. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bertahan, tetapi bagaimana memastikan sektor riil Jawa Timur mampu naik kelas dan tetap menjadi pemain penting di tengah persaingan digital dunia yang terus berubah,” pungkasnya.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Jawa Timur #umkm #pertumbuhan ekonomi