RADAR SURABAYA – Impor kedelai di Jawa Timur pada awal 2026 mengalami lonjakan signifikan.
Kenaikan ini dipicu meningkatnya kebutuhan bahan baku industri pangan serta tekanan harga global yang masih tinggi.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur mencatat, impor kedelai pada periode Januari–Februari 2026 naik 23,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, menyebut kenaikan tersebut terjadi di tengah tren penguatan dolar
Amerika Serikat dan kenaikan harga kedelai dunia yang berdampak langsung pada harga impor di pasar domestik.
Baca Juga: Virus Newcastle Bermutasi, Kini Serang Berbagai Jenis Burung
“Impor kedelai pada Januari–Februari 2026 mengalami kenaikan volume sebesar 23,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Minggu (24/5).
Impor Kedelai Jatim Tembus 188 Juta Kg
Berdasarkan data Disperindag Jatim, volume impor kedelai pada Januari–Februari 2026 mencapai 188.014.939 kilogram dengan nilai USD 89.575.663.
Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 151.875.612 kilogram.
Amerika Serikat masih menjadi pemasok utama kedelai untuk Jawa Timur dengan volume mencapai 186.050.019 kilogram senilai USD 88.641.634.
Sementara itu, impor dari Kanada tercatat 1.964.920 kilogram dengan nilai USD 934.029.
Dampak Dolar dan Biaya Logistik
Lucky menjelaskan, ketergantungan impor dari Amerika Serikat dan Kanada membuat harga kedelai di dalam negeri sangat sensitif
terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan biaya bahan bakar dan logistik distribusi.
Baca Juga: Kakanwil Kemenag Jatim Tegaskan ASN Baru Harus Rendah Hati dan Antikorupsi
“Negara utama asal impor kedelai adalah Amerika Serikat dan Kanada, sehingga penguatan dolar terhadap rupiah sangat
memengaruhi harga kedelai. Ditambah kenaikan harga bahan bakar dan logistik,” jelasnya.
Harga Kedelai Global Naik 18 Persen
Di pasar internasional, harga kedelai dunia per 21 Mei 2026 tercatat sebesar USD 11,94 per bushel, naik sekitar 18,3 persen dibanding awal tahun 2026.
Meski demikian, harga di tingkat konsumen di Jawa Timur masih relatif stabil. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan
Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga kedelai impor per 22 Mei 2026 tercatat Rp12.605 per kilogram, naik tipis 0,53 persen dibandingkan Januari 2026.
Sementara itu, harga kedelai lokal hanya mengalami kenaikan sangat kecil, dari Rp12.937 menjadi Rp12.944 per kilogram pada periode yang sama.
Disperindag Jatim Perketat Pengawasan Distribusi
Disperindag Jawa Timur memastikan terus melakukan pemantauan harga dan pengawasan distribusi untuk menjaga stabilitas pasokan kedelai di pasar.
Pengawasan dilakukan guna mengantisipasi potensi penimbunan yang dapat memicu gejolak harga di tingkat konsumen.
“Monitoring harga kami lakukan secara rutin melalui Siskaperbapo, termasuk pengawasan stok agar tidak terjadi penimbunan oleh distributor,” tegas Lucky.
Kenaikan impor kedelai diperkirakan masih berlanjut sepanjang 2026, seiring tingginya kebutuhan industri tahu dan tempe di Jawa Timur yang menjadi salah satu pusat konsumsi kedelai terbesar di Indonesia.(mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan