RADAR SURABAYA - Pemandangan di pesisir Desa Branta, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menjadi perhatian luas. Bukan karena keindahan kawasan pesisir atau aktivitas human interest yang menarik, melainkan karena tumpukan sampah plastik yang mencemari kawasan tersebut, Jumat (22/5).
Sampah yang menutupi lahan sekitar 50 meter itu menimbulkan bau menyengat dan mengganggu kenyamanan warga.
Lokasi penumpukan berada di pintu masuk Pelabuhan Branta, tepat di samping Kantor Syahbandar, dengan jarak kurang dari 10 meter dari permukiman warga.
Baca Juga: Terdakwa Pesta Gay Siwalan Party di Surabaya Divonis 18 hingga 16 Bulan
Seorang warga berinisial S, 40, mengatakan sampah tersebut bukan berasal dari laut, melainkan dari pembuangan rumah tangga warga sekitar.
“Sampah dibuang di sini oleh warga di sepanjang pesisir Branta. Lingkungan padat, jadi semuanya buang ke sini sejak lama,” ujarnya dikutip dari Kompas.com.
Ia menambahkan, meski sudah ada larangan, warga tetap membuang sampah di lokasi karena tidak ada alternatif lain.
Baca Juga: Pamekasan Digemparkan oleh 2 Video Asusila Remaja
Penumpukan sampah yang berlangsung bertahun-tahun membuat kawasan pesisir Branta terlihat kumuh. Bau menyengat dari limbah plastik baru juga menimbulkan keresahan warga.
Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama karena lokasi pembuangan sangat dekat dengan permukiman.
“Kami minta segera dilakukan tindakan pembersihan dan solusi jangka panjang. Warga butuh tempat pembuangan khusus agar tidak terus menumpuk di pesisir,” kata S.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Bikin Pengusaha Waswas, Kadin Jatim Ungkap Ancaman Besarnya
Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan, Mohammad Syafii, mengakui pihaknya sudah beberapa kali melakukan pembersihan bersama aktivis lingkungan. Namun, sampah terus menumpuk karena tidak adanya sistem pengangkutan rutin.
“Kami sudah melakukan pembersihan ke sana. Bahkan sering bekerja sama dengan aktivis lingkungan, tapi sampah terus menumpuk,” katanya.
Syafii menambahkan, DLH berencana melakukan pengangkutan sampah secara rutin setiap hari agar masalah tidak berulang. “Tapi kami masih akan koordinasikan dengan kepala dinas,” ujarnya.
Dampak dari pembuangan sampah di laut bukan hanya menimbulkan bau tak sedap dan pemandangan kumuh, tapi banyaknya sampah plastik juga berpotensi mengakibatkan pencemaran mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan. (kmp/nur)
Editor : Nurista Purnamasari