RADAR SURABAYA – Cukup banyak sekolah Tionghoa di Kota Malang sebelum era Orde Baru. Ini karena populasi warga keturunan Tionghoa cukup banyak di kota dingin itu.
Salah satunya Sekolah Shin Lih atau Xin Li School di kawasan Kasin. Sekolah yang berlokasi di Jalan Yulius Usman (sekarang) itu dulu merupakan sekolah dasar paling berpengaruh di Kota Malang pada dekade 1950-an.
Baca Juga: DPRD Jatim dan Dinsos Perluas KIP Jawara di Surabaya, Cahyo Harjo Targetkan Penerima Terus Bertambah
Cikal bakal Shin Lih School berasal dari Hua Qing Yiwu Xuexiao alias Sekolah Sukarela Hua Qing. “Lembaga pendidikan itu didirikan untuk membantu anak-anak perantauan Tionghoa dari keluarga kurang mampu,” kata Yonas Mawa, aktivis Jejak Petjinan.
Pada masa awal berdirinya, menurut dia, seluruh kegiatan pendidikan dijalankan secara sederhana. Para guru bekerja tanpa menerima bayaran dan sebagian besar masih berstatus pelajar sekolah menengah.
Baca Juga: Rupiah Melemah, DPRD Surabaya Ingatkan Warga Rem Gaya Hidup Konsumtif Jelang Idul Adha
“Buku pelajaran, alat tulis, dan perlengkapan sekolah diberikan secara gratis kepada murid-murid miskin,” paparnya.
Pada April 1950, sekolah ini diperluas menjadi sekolah dasar berganti nama menjadi Shin Lih School. Perkembangan sekolah berlangsung sangat cepat karena memperoleh dukungan besar dari komunitas Tionghoa di Malang.
Pada 1966, seperti sekolah-sekolah Tionghoa lainnya, Shin Lih School ditutup dan diambil alih pemerintah. “Saat ini bekas gedung Shin Lih School digunakan oleh SDN Kasin,” katanya. (*)
Editor : Lambertus Hurek