Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Ma Chung, Sekolah Tionghoa Legendaris yang Pernah Bersinar di Kota Malang sebelum Orde Baru

Lambertus Hurek • Selasa, 19 Mei 2026 | 10:43 WIB
Foto bersama sejumlah siswa Ma Chung Malang pada tahun 1950-an. (IST)
Foto bersama sejumlah siswa Ma Chung Malang pada tahun 1950-an. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Nama Ma Chung pernah menjadi simbol pendidikan modern dan kedisiplinan bagi masyarakat Tionghoa di Kota Malang. Sekolah menengah Tionghoa yang berdiri sejak 1946 itu dikenal melahirkan banyak tokoh sukses, baik di dunia akademik maupun bisnis internasional.

Sekolah bernama lengkap Chung Hua Chung Hsueh tersebut membuka jenjang SMP dan SMA. Meski hanya beroperasi sekitar dua dekade sebelum ditutup pada awal masa Orde Baru tahun 1966, jejak dan pengaruhnya masih dikenang hingga kini.

Mantan Rektor Universitas Ma Chung Prof. Murpin Sembiring mengatakan, Ma Chung bukan sekadar sekolah biasa, melainkan simbol perjuangan pendidikan masyarakat Tionghoa pasca pendudukan Jepang.

Baca Juga: Presiden Trump Klaim Negosiasi dengan Iran Hampir Tuntas, Berharap Segera Ada Perdamaian

“Para pendirinya saat itu baru keluar dari penjara Jepang. Tetapi mereka tetap memiliki semangat membangun masyarakat melalui pendidikan. Itu luar biasa,” ujarnya.

Pada masa awal berdiri, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara sederhana di sebuah bangunan darurat di kawasan Jalan Pasar Besar. Kondisi sekolah saat itu sangat terbatas. Namun semangat para guru dan siswa membuat Ma Chung perlahan berkembang menjadi salah satu sekolah paling bergengsi di Malang.

Memasuki awal 1950-an, sekolah tersebut dipindahkan ke kawasan Jalan Tanimbar. Di lokasi baru itu, Ma Chung berkembang pesat dan dikenal memiliki standar pendidikan disiplin yang kuat.

Menurut Prof. Murpin, banyak alumni Ma Chung kemudian berhasil menjadi ilmuwan, akademisi, hingga pengusaha besar yang tersebar di berbagai negara.

“Spirit Ma Chung itu bukan hanya soal pendidikan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, solidaritas, dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Akhir Era Guardiola di Manchester City? Laga vs Aston Villa Jadi Penentuan!

Selain memiliki gedung sekolah, Ma Chung juga mempunyai gedung kesenian di Jalan Nusa Kambangan. Gedung tersebut menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya pada masanya.

“Dulu Gedung Ma Chung sangat terkenal. Banyak pertunjukan seni digelar di sana. Bahkan Presiden Soekarno pernah hadir menyaksikan pertunjukan,” ungkapnya.

Namun situasi politik nasional berubah drastis setelah pergantian kekuasaan menuju era Orde Baru. Pada tahun 1966, seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia dibekukan pemerintah, termasuk Ma Chung.

Penutupan itu membuat perjalanan sekolah legendaris tersebut terhenti. Meski demikian, kenangan dan semangat kebersamaan para alumninya tidak pernah hilang.

Para alumni Ma Chung yang tersebar di berbagai negara kemudian berinisiatif membangkitkan kembali semangat pendidikan almamater mereka. Ide tersebut muncul dalam reuni akbar alumni di Xiamen, Tiongkok, pada 2001.

Baca Juga: Inkonsisten Bisa Rusak Kepercayaan Islam Ajarkan Pentingnya Istiqamah

Dengan semangat “Waktu minum air jangan lupa sumbernya, waktu sukses balaslah budi kepada kampung halaman,” para alumni sepakat mendirikan perguruan tinggi sebagai penerus nilai-nilai Ma Chung.

Pada 1 Mei 2004 dibentuk PT Ma Chung sebagai langkah awal pendirian universitas. Sejumlah tokoh bisnis nasional dan internasional ikut terlibat, di antaranya Mochtar Riady dan Soegeng Hendarto.

Puncaknya, pada 17 Juli 2005 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan kampus Universitas Ma Chung bertepatan dengan Reuni Akbar 60 Tahun SMA Ma Chung.

Universitas Ma Chung kemudian resmi beroperasi pada 7 Juli 2007 di bawah naungan Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera.

Prof. Murpin menilai keberadaan Universitas Ma Chung menjadi bukti bahwa warisan semangat sekolah lama tersebut masih hidup hingga sekarang.

“Gedung sekolah lamanya mungkin sudah berganti fungsi, tetapi spirit Ma Chung tetap hidup dalam diri alumninya. Semangat itu yang terus diwariskan kepada generasi muda,” tandasnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#sekolah Tionghoa #Ma Chung Malang #Universitas Ma Chung #Murpin Sembiring #orde baru