RADAR SURABAYA – Persoalan sampah di Jawa Timur (Jatim) masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), baru sekitar 56 persen sampah di Jatim yang terkelola dengan baik, sementara sisanya masih belum tertangani secara optimal. Ini mendapat perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim.
Ketua Tim Kerja Sarana Prasarana Pengolahan Sampah DLH Jatim, Agus Sucahyo, mengatakan kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.
“Kalau kita lihat data, baru sekitar 56 persen sampah yang terkelola. Sisanya masih menjadi pekerjaan rumah bersama,” kata Agus, Senin (18/5).
Baca Juga: DPRD Jatim Soroti Wacana Penghapusan Guru Honorer dalam Kondisi Keterbatasan Tenaga Pendidik
Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim telah menetapkan target pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah 70 persen sebagaimana tertuang dalam Pergub
Jatim Nomor 106 Tahun 2018. Namun, target tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
“Perubahan perilaku menjadi kunci utama. Pengelolaan sampah harus dimulai dari hal kecil agar nantinya menjadi gerakan besar,” ujarnya.
Agus menjelaskan, paradigma pengelolaan sampah saat ini tidak lagi sekadar membuang limbah ke tempat pembuangan akhir, melainkan mengubah sampah menjadi sumber daya ekonomi melalui konsep circular economy atau ekonomi sirkular.
Ia mencontohkan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang memiliki nilai ekonomi. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kardus juga bisa didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual.
“Sampah organik bisa diolah menjadi kompos yang punya nilai ekonomi. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kardus juga bisa didaur ulang dan memiliki nilai jual,” jelasnya.
Di sisi lain, Agus menyoroti masih rendahnya tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Berdasarkan studi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, indeks ketidakpedulian lingkungan masyarakat mencapai 0,72 atau sekitar 72 persen masyarakat belum memiliki perilaku pengelolaan lingkungan yang baik.
“Masih banyak masyarakat memakai plastik sekali pakai, membuang sampah sembarangan hingga ke sungai. Ini yang harus kita ubah bersama,” katanya.
Tantangan pengelolaan sampah di Jatimjuga semakin berat karena kondisi tempat pembuangan akhir (TPA). Saat ini sekitar 47 TPA di berbagai daerah di Jatimmengalami kesulitan dalam pengelolaan sampah.
Karena itu, DLH Jatim terus mendorong penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, salah satunyabmelalui program eko pesantren. Program tersebut menjadi bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Jatimbersama DPRD Jatim dan pondok pesantren dalam membangun budaya pengelolaan sampah sejak dini. Pada tahun 2026, DLH Jatim menargetkan terbentuk sekitar 25 program eko pesantren di berbagai daerah di Jawa Timur.
Agus menilai pondok pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah berbasis sumber. Hal itu didukung komposisi sampah di Jatimyang didominasi sampah organik hingga hampir 60 persen.
Baca Juga: Grand Final Indonesian Idol XIV Makin Panas, Celyna Grace dan Niki Becker Berebut Gelar Juara
“Mengelola sampah itu bagian dari ibadah. Bagaimana kita menjaga lingkungan dengan baik dan membangun perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto