Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Beri Sarana Pengolahan Sampah, Anggota DPRD Jatim Cahyo Dorong Circular Economy di Pesantren Surabaya

Mus Purmadani • Senin, 18 Mei 2026 | 18:40 WIB
PERHATIAN: Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso dan DLH Jatim memberikan bantuan mesin pengolahan sampah di Surabaya.(IST/RADAR SURABAYA)
PERHATIAN: Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso dan DLH Jatim memberikan bantuan mesin pengolahan sampah di Surabaya.(IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Persoalan sampah menjadi tantangan serius di lingkungan pondok pesantren dengan jumlah santri yang besar. Kondisi itu pula yang dialami Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo, Surabaya. Menyikapi hal tersebut anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) Cahyo Harjo Prakoso bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim memberikan bantuan meliputi mesin pencacah sampah, fasilitas budidaya maggot, hingga tempat sampah roda dengan tutup dan komposter, Senin (18/5). 

Ketua Yayasan Ponpes Sunan Kalijogo, H. Nafi’ Mubarok mengatakan, persoalan sampah selama ini menjadi kendala utama di lingkungan pondok karena para santri tidak diperbolehkan memasak sehingga hampir seluruh kebutuhan makanan dibeli dari luar.

“Memang salah satu kendala kita itu sampah. Maklum masih pelajar, banyak sisa makanan dan bungkus plastik. Bahkan sampai ada peraturan dilarang membeli makanan dari luar karena setiap beli makanan pasti ada bungkusnya, ada plastiknya. Itu menjadi timbunan sampah,” ujarnya. 

Baca Juga: Ratusan Aduan Masuk Setiap Hari, Hotline “Lapor Cak Eri” Jadi Barometer Kecepatan Birokrasi Surabaya

Ia menjelaskan, sebelum adanya bantuan tersebut, sampah di pondok hanya dikumpulkan lalu dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) maupun tempat pembuangan akhir (TPA). Dalam sehari, volume sampah yang dihasilkan bisa mencapai tiga tempat sampah besar.

“Kalau sebelumnya sampah hanya ditaruh lalu dibuang ke TPS atau TPA. Dalam sehari itu bisa sampai tiga tempat sampah besar. Karena itu kami sampai membayar petugas sendiri untuk sering mengambil sampah ke sini,” katanya.

Baca Juga: Dindik Paparkan 398 Inovasi Pendidikan di Hadapan Tim Kemendagri, Jatim Disebut Daerah Terinovatif Nasional

Menurutnya, bantuan alat pengolahan sampah tersebut sangat tepat sasaran karena tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi dari pengolahan sampah.

“Yang lebih penting sebenarnya bukan hanya alat pencacahnya, tetapi pemberdayaan sampah untuk langkah selanjutnya. Kami berharap tidak hanya diberi alat, tetapi juga sosialisasi dan pendampingan bagaimana menggunakan alat ini dan bagaimana mengatasi masalah sampah di pondok,” tegasnya.

Baca Juga: Grand Final Indonesian Idol XIV Makin Panas, Celyna Grace dan Niki Becker Berebut Gelar Juara

Sementara itu, Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso, mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk sinergi antara DPRD Jatim bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis pesantren.

“Kami mendapatkan momen luar biasa bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur untuk menyalurkan aspirasi Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo terkait pengelolaan sampah,” kata Cahyo.

Baca Juga: Puluhan Biduan Dangdut Tertipu Arisan Bodong Lapor Polrestabes Surabaya, Kerugian Capai Rp 1,8 Miliar

Ia menegaskan, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut peradaban dan masa depan masyarakat, terlebih Pondok Pesantren Sunan Kalijogo berada di kawasan padat penduduk di Kota Surabaya dengan jumlah santri yang besar.

“Hari ini kami memberikan alat pencacah sampah, budidaya maggot, tempat sampah roda dan lainnya. Karena kami meyakini persoalan sampah ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah peradaban,” ujarnya.

Baca Juga: Gawat! Rupiah Kembali Terpuruk, Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah 

Cahyo berharap pengelolaan sampah di pondok pesantren tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menjadi pusat inovasi ekonomi baru bagi pesantren dan masyarakat sekitar.

“Sampah bisa menjadi bencana kalau dibiarkan. Tetapi bisa menjadi potensi ekonomi luar biasa apabila dikelola dengan teknologi, SDM yang mumpuni dan semangat gotong royong semua pihak,” jelasnya.

Ia optimistis Pondok Pesantren Sunan Kalijogo dapat menjadi pionir gerakan pengelolaan sampah berbasis pesantren di Jatim sekaligus mendukung target pemerintah menuju pengurangan sampah pada 2030.

Baca Juga: Haji 2016: Banyak Jemaah Haji Kurang Istirahat, PPIH Surabaya Jadikan Evaluasi Utama 2027

“Insyaallah Pondok Pesantren Sunan Kalijogo akan menjadi pionir gerakan kebaikan ini,” tambahnya.

Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Sarana Prasarana Pengolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim, Agus Sucahyo mengungkapkan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, baru sekitar 56 persen sampah di Jawa Timur yang terkelola, sedangkan sisanya masih belum tertangani dengan baik.

Menurut Agus, program ekopesantren menjadi salah satu strategi Pemprov Jatim untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.

Baca Juga: Sapi Kurban di Surabaya Dipijat dan Diperdengarkan Musik, Agar Gemuk dan Tidak Stres

“Target kami melalui Pergub Nomor 106 Tahun 2018 adalah pengurangan sampah 30 persen dan penanganan sampah 70 persen. Kami berharap dimulai dari langkah kecil seperti di pondok pesantren ini bisa menjadi gerakan besar,” katanya.

Ia menjelaskan, pada tahun 2026 terdapat sekitar 25 program ekopesantren di Jawa Timur dan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di kawasan Simokalangan Surabaya diharapkan menjadi salah satu cikal bakal pengembangan program tersebut.

Baca Juga: Resmi! 155 Pengurus Kadin Surabaya Dilantik di Taman Surya

Agus menambahkan, konsep pengelolaan sampah yang diterapkan di pesantren nantinya mengarah pada circular economy atau ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

“Kalau sampah organik bisa dijadikan kompos dan memiliki nilai ekonomi. Sampah anorganik seperti plastik, kertas dan kardus juga punya nilai ekonomi apabila dipilah sejak dari sumbernya,” jelasnya.

Menurutnya, bantuan mesin pencacah dan komposter akan mempercepat proses pengolahan sampah organik di lingkungan pondok. Sementara sampah anorganik dapat dipilah dan didaur ulang sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi pesantren.

Baca Juga: 39 Jemaah Surabaya Tunda Berangkat Jelang Akhir Pemberangkatan ke Tanah Suci, Masuk Kuota Haji 2027

“Kami berharap konsep circular economy ini bisa berjalan. Sampah tidak lagi langsung dibuang, tetapi didaur ulang, digunakan kembali dan memiliki manfaat ekonomi,” pungkas Agus. (mus/gun)

Editor : Guntur Irianto
#ponpes sunan kalijogo #DLH jatim #Cahyo Harjo Prakoso #dprd jatim #Komisi E