RADAR SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) memaparkan berbagai capaian prestasi dan inovasi pendidikan periode 2024–2025 di hadapan tim penilai Innovation Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pemaparan tersebut menjadi bagian dari proses penilaian inovasi daerah yang berdampak terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan dan tata kelola pemerintahan.
Tim penilai yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Program Studi S2 Manajemen Universitas Sriwijaya.
Dalam paparannya, Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menjelaskan berbagai program inovasi yang dinilai memberi dampak langsung terhadap layanan pendidikan di Jawa Timur. Dua inovasi unggulan yang dipresentasikan yakni Program Terapan Ekonomi Guru Non-ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES).
Menurut Aries, kunjungan tim Kemendagri ke Jawa Timur merupakan bagian dari penilaian langsung terhadap implementasi inovasi daerah yang telah dijalankan. Ia menyebut Jawa Timur selama ini menjadi daerah dengan kontribusi inovasi terbanyak dalam ajang IGA Award.
“Tim dari Kemendagri berkeliling ke berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Dindik Jatim memberikan dukungan jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional,” ujarnya.
Baca Juga: Grand Final Indonesian Idol XIV Makin Panas, Celyna Grace dan Niki Becker Berebut Gelar Juara
Aries mengatakan kontribusi sektor pendidikan terhadap capaian inovasi daerah cukup signifikan. Bahkan, terjadi peningkatan capaian inovasi yang cukup tinggi dari tahun 2024 ke 2025.
Menurutnya, Kemendagri juga melihat secara langsung berbagai program yang dikembangkan Dindik Jatim beserta dampaknya terhadap lingkungan sekolah maupun masyarakat. Karena itu, pihaknya terus mendorong guru dan tenaga pendidik agar tidak berhenti menciptakan inovasi pendidikan.
“Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat. Tujuannya agar pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas,” katanya.
Baca Juga: Sapi Kurban di Surabaya Dipijat dan Diperdengarkan Musik, Agar Gemuk dan Tidak Stres
Aries mengungkapkan, dari total 398 inovasi yang diajukan, sebanyak 196 inovasi telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan hasil validasi dan tingkat kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan media dalam mendukung publikasi inovasi pendidikan sebagai bagian dari konsep pentahelix pengembangan inovasi daerah.
Salah satu program unggulan lainnya ialah East Java Innovative Education Summit (EJIES), yang menjadi wadah bagi insan pendidikan di Jawa Timur untuk menampilkan berbagai inovasi pendidikan.
“Total ada sekitar 24 ribu inovasi yang masuk dalam EJIES,” jelasnya.
Baca Juga: Sapi Kurban di Surabaya Dipijat dan Diperdengarkan Musik, Agar Gemuk dan Tidak Stres
Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri menegaskan Jawa Timur hingga kini masih menjadi daerah terinovatif di Indonesia dengan skor tertinggi dalam pengukuran inovasi daerah yang dilakukan Kemendagri.
Menurutnya, kegiatan sosialisasi dan pemantapan inovasi daerah penting dilakukan untuk menjaga momentum inovasi agar capaian yang telah diraih tidak mengalami penurunan.
“Jawa Timur bukan dalam posisi aman meskipun sudah menjadi daerah terinovatif. Daerah lain juga melakukan upaya yang sama bahkan bisa lebih kuat. Karena itu akselerasi inovasi harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tidak hanya tingkat provinsi, rata-rata kabupaten dan kota di Jatim juga berada pada klaster tertinggi dalam penilaian pemerintah daerah inovatif di Indonesia.
Baca Juga: Haji 2016: Banyak Jemaah Haji Kurang Istirahat, PPIH Surabaya Jadikan Evaluasi Utama 2027
Meski demikian, Yusharto menilai tantangan terbesar saat ini ialah membangun budaya dan ekosistem inovasi yang kolaboratif. Sebab, inovasi masih sering berjalan sendiri-sendiri atau bersifat silo antarorganisasi perangkat daerah.
Ia mencontohkan pentingnya kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan dalam mendukung layanan transportasi pelajar agar peserta didik memperoleh akses perjalanan yang lebih nyaman menuju sekolah.
“Ekosistem inovasi perlu dibangun bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan penerima layanan,” katanya.
Baca Juga: Gawat! Rupiah Kembali Terpuruk, Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
Yusharto juga mengungkapkan, Kemendagri saat ini masih berada pada tahap persiapan penilaian inovasi daerah tahun 2026. Ke depan, tema inovasi kemungkinan akan dikaitkan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) maupun program prioritas nasional pemerintahan Presiden.
Menurutnya, terdapat 54 program prioritas nasional yang membutuhkan dukungan inovasi daerah agar target pembangunan dapat tercapai sesuai waktu yang ditetapkan.
“Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan cukup tercapai hanya dengan cara-cara biasa,” tegasnya.
Baca Juga: Manajemen RSUD dr Soetomo Surabaya Pastikan Layanan Tetap Berjalan dengan Penyesuaian selepas Insiden Kebakaran
Sementara itu, Guru Besar Universitas Sriwijaya, Dyah, menilai budaya inovasi di Jawa Timur, khususnya di sektor pendidikan, telah terbentuk dengan baik dan menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia mengatakan inovasi menjadi faktor penting untuk mempercepat pembangunan dan pelayanan publik.“Kalau hanya berjalan biasa-biasa saja, akselerasinya tidak akan cepat. Karena itu dibutuhkan terobosan melalui inovasi,” ujarnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto