Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Serapan Lulusan SMK Jatim Tembus 91,46%, Khofifah Beberkan Rahasianya

Mus Purmadani • Selasa, 12 Mei 2026 | 00:17 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat inovasi karya dari siswa SMK. (ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat inovasi karya dari siswa SMK. (ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim).

RADAR SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan kebanggaannya atas tingginya tingkat keterserapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur yang mencapai 91,46 persen.

Capaian tersebut merupakan hasil dari program Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha (BMW) yang didukung penguatan sertifikasi kompetensi serta praktik langsung di dunia industri.

“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan bahwa keterserapan lulusan SMK Jawa Timur terus meningkat.

Ini menjadi indikator bahwa penguatan link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) berjalan semakin efektif,” ujar Khofifah di Surabaya, Senin (11/5).

Baca Juga: Ratusan Siswa Keracunan MBG, SPPG Tembok Dukuh Surabaya Minta Maaf, Menu Daging Krengsengan Baru Pertama Dibuat

Mayoritas Lulusan SMK Langsung Bekerja

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebanyak 195.429 lulusan dari total 221.174 lulusan SMK di Jawa Timur telah mengikuti program BMW.

Dari jumlah tersebut:

55,83 persen telah bekerja

20,79 persen berwirausaha

14,84 persen melanjutkan pendidikan

7,05 persen mengikuti pelatihan atau persiapan lainnya

Tingkat pengangguran lulusan SMK di Jawa Timur juga relatif rendah, yakni hanya 1,49 persen.

Selain itu, keselarasan pekerjaan dengan bidang keahlian mencapai 69,43 persen, dengan rata-rata masa tunggu kerja sekitar 3,38 bulan setelah lulus.

Kurikulum Disesuaikan Kebutuhan Industri

Khofifah menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat kurikulum pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, terutama di era teknologi dan otomatisasi.

Baca Juga: Haji 2026: 12 Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Masih Tunda Berangkat ke Tanah Suci, 8 Wafat

“Kebutuhan kompetensi industri berkembang sangat cepat. Karena itu, sektor pendidikan vokasi harus adaptif dan responsif terhadap perubahan dunia kerja,” katanya.

Ia menambahkan, tren rekrutmen saat ini lebih menekankan pada keterampilan nyata (skill-based hiring), bukan sekadar ijazah.

“Memperbanyak latihan dan sertifikasi akan membantu siswa SMK bersaing di dunia usaha dan industri yang semakin kompetitif,” ujarnya.

Teaching Factory dan Sertifikasi Diperkuat

Sebagai langkah konkret, Pemprov Jatim memperluas penerapan program Teaching Factory di seluruh SMK, baik negeri maupun swasta.

Saat ini terdapat:

298 SMK negeri

1.860 SMK swasta

Seluruhnya diwajibkan memiliki Teaching Factory di setiap jurusan.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebutkan berbagai program pendukung juga terus diperkuat, seperti:

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)

Uji sertifikasi kompetensi

Sertifikasi gratis dari LSK berstandar KKNI

Bursa Kerja Khusus (BKK)

Kerja sama dengan dunia usaha dan industri

“Program-program tersebut bertujuan meningkatkan keterserapan lulusan sesuai kebutuhan industri, baik di dalam maupun luar negeri,” kata Aries.(mus) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) #Aries Agung Paewai #BMW #khofifah indar parawansa