Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Nabung Rp 10 Ribu Sehari, Mukarromah Penjual Mainan Anak Menuju Tanah Suci

Rahmat Sudrajat • Rabu, 29 April 2026 | 11:05 WIB
Menuju Baitullah : Mukarromah Basyar. Penjual mainan anak, 57 tahun asal Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban berangkat haji lewat Embarkasi Surabaya kloter 28.
Menuju Baitullah : Mukarromah Basyar. Penjual mainan anak, 57 tahun asal Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban berangkat haji lewat Embarkasi Surabaya kloter 28. Foto : Rahmat Sudrajat / Radar Surabaya.

RADAR SURABAYA - Tidak ada yang benar-benar memperhatikan saat Mukarromah Basyar menghitung recehan di sela riuh anak-anak sekolah. Di tangannya, mainan-mainan kecil berpindah, dibeli dengan uang Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu. Sederhana, nyaris tak berarti bagi sebagian orang. Tapi dari sanalah, diam-diam, ia membangun jalan menuju Baitullah.

Perempuan 57 tahun asal Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban itu berdiri di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Mengenakan seragam batik jemaah haji Indonesia dan tas selempang di pundak, matanya berkaca-kaca. Mimpi yang ia simpan rapat selama puluhan tahun, akhirnya menemukan jalannya.

“Sangat senang sekali bisa tercapai keinginan untuk berangkat haji, sampai terharu rasanya,” ujarnya.

Tak ada warisan besar, tak ada penghasilan tetap. Mukarromah hanya penjual mainan anak-anak di lingkungan sekolah. Namun dari rutinitas yang sama setiap hari, ia menciptakan satu kebiasaan kecil yang konsisten, menyisihkan sebagian rezekinya, berapa pun jumlahnya.

“Sehari-hari saya berjualan mainan di lingkungan sekolah. Kalau ada kelebihan penghasilan, kadang saya sisihkan Rp 10 ribu, kadang bisa sampai Rp20 ribu, tergantung hasil penjualannya. Tapi yang penting, setiap hari pasti saya sisihkan untuk tabungan ini,” ungkapnya.

Aktivitas menabungnya ini tidak banyak yang tahu, bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun. Mimpi itu ia rawat dalam diam. Ia tidak pernah benar-benar menceritakannya kepada siapa pun. Namun ada satu kebiasaan lain yang selalu ia lakukan, mengantar orang lain berangkat haji.

Di Masjid Astana Jenu, bahkan ketika waktu menunjukkan tengah malam, Mukarromah tetap datang. Berdiri di antara keluarga yang melepas, ia ikut mendoakan. Dalam setiap langkah orang lain menuju Tanah Suci, ia menitipkan harapannya sendiri.

“Sudah menjadi cita-cita sejak dulu, saya sangat menginginkannya. Kalau ada warga yang berangkat haji, meskipun tengah malam saya tetap berangkat mengantar mereka di Masjid Astana Jenu. Dari situlah selalu muncul harapan di hati saya, kapan ya saya bisa seperti mereka,” kenangnya.

Harapan itu tak pernah ia lepaskan. Ia menggenggamnya dengan keyakinan yang sederhana, tapi kuat.

“Sejak awal sudah saya niatkan dengan ikhlas, dan saya berusaha dengan kemampuan yang saya miliki. Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah terwujud. Semoga ibadah saya nanti menjadi haji yang mabrur, doakan saya semuanya,” tegasnya.

Empat belas tahun menunggu antrean haji, Mukarromah tetap berjalan dengan ritme yang sama. Menabung, berjualan, berharap. Hingga akhirnya, kabar keberangkatan itu datang hingga  mengejutkan banyak orang di sekitarnya.

“Banyak yang kaget, ya. Waktu saya berangkat dari Masjid Astana Jenu, banyak yang bertanya ‘Kok bisa sampai berangkat haji?’. Memang saya tidak pernah menceritakan keinginan kepada siapa-siapa untuk berangkat haji. Mereka baru mengetahuinya saat acara pelepasan, bahkan warga sekolah pun baru tahu saat saya mengadakan syukuran dan memberi santapan kepada para guru dan ustadz di sana,” jelasnya.

Di usianya yang tak lagi muda, ia juga mempersiapkan diri dengan kesungguhan yang sama. Jalan kaki setiap pagi, menjaga stamina, hingga rutin mengonsumsi madu dan obat-obatan untuk tekanan darah serta kolesterol, semua ia jalani sebagai ikhtiar.

"Sudah olahraga tiap pagi, olahraga jalan kaki setengah jam gitu. Terus minum-minuman madu kalau sore mau tidur, bangun tidur. Terus obat-obat untuk darah tinggi sama kolesterolnya itu ya rutin, dibawa juga," ujarnya.

Kini, langkah Mukarromah menuju Baitullah bukan hanya tentang perjalanan ibadah. Ia membawa serta tahun-tahun kesabaran, disiplin yang tak pernah putus, dan doa-doa yang diam-diam ia titipkan di setiap malam.

“Doa saya yang pertama tentunya memohon kesehatan agar bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Kedua, saya memohon kepada Allah agar diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah, yang selalu menyejukkan hati serta menjadi keluarga yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat,” pungkasnya. (rmt/fir)

Editor : M Firman Syah
#Haji 2026 #makkah #haji #embarkasi surabaya