Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perajin Tempe di Jatim Keluhkan Harga Bahan Baku Kedelai Naik, Ternyata Ini Penyebabnya

Mus Purmadani • Kamis, 9 April 2026 | 18:28 WIB
TERIMBAS: Perajin tempe terimbas krisis global karena bahan baku kedelai masih bergantung pada impor. (DOK/RADAR SURABAYA)
TERIMBAS: Perajin tempe terimbas krisis global karena bahan baku kedelai masih bergantung pada impor. (DOK/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor masih sangat tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, terutama perajin tahu dan tempe, yang kini harus menghadapi kenaikan harga bahan baku di pasaran. Ini membuat perajin tempe di Jatim khususnya semakin menjerit.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jatim, Erivina Lucky Kristian, mengungkapkan bahwa sekitar 80 - 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama.

“Kedelai impor tersebut mayoritas digunakan sebagai bahan baku utama industri tahu dan tempe,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis (9/10).

Baca Juga: Butuh Uang Buat Mudik Lebaran, Penjaga Sekolah Bobol Sekolah di Medokan Sawah Surabaya, Gasak Uang Rp 43 Juta 

Data Disperindag Jatim menunjukkan, meski ketergantungan impor tinggi, ekspor kedelai dari Jawa Timur juga tetap berjalan. Pada 2023, ekspor tercatat mencapai 2.040.860 kilogram dengan nilai USD 998.151. Tahun 2024 turun menjadi 1.902.635 kilogram dengan nilai USD 864.375, lalu kembali meningkat pada 2025 menjadi 2.594.950 kilogram dengan nilai USD 941.459.

Adapun negara tujuan ekspor didominasi Timor Leste sebesar 2.594.650 kilogram dengan nilai USD 940.824, serta Brunei Darussalam sebesar 300 kilogram senilai USD 634.

Baca Juga: Diancam Sajam, Motor Dirampas Komplotan Begal di Jalan Pandaan Surabaya, Begini Kronologinya

Di sisi lain, volume impor kedelai Jawa Timur masih jauh lebih besar. Pada 2023, impor mencapai 749.123.908 kilogram dengan nilai USD 486,1 juta. Tahun 2024 meningkat menjadi 915.029.546 kilogram dengan nilai USD 477,8 juta, dan pada 2025 tercatat 801.480.406 kilogram dengan nilai USD 371,9 juta.

Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan volume 699.822.720 kilogram senilai USD 325,6 juta. Disusul Kanada sebesar 100.499.969 kilogram (USD 45,8 juta), serta negara lain seperti Bolivia, Afrika Selatan, hingga Singapura dalam jumlah yang relatif kecil. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga kedelai di tingkat konsumen.

Baca Juga: Gawat! Pernikahan Dini Jadi Faktor Penting Penyebab Stunting

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga kedelai lokal di Jawa Timur naik dari Rp13.158 per kilogram pada 9 Maret 2026 menjadi Rp 13.342 per kilogram pada 8 April 2026, atau meningkat 1,4 persen.

Sementara kedelai impor juga mengalami kenaikan dari Rp 12.674 per kilogram menjadi Rp 12.826 per kilogram dalam periode yang sama, atau naik sekitar 1,2 persen.

Baca Juga: Bursa Transfer Panas! Liverpool Gaspol Kejar Camavinga, Real Madrid Incar Mac Allister

Kenaikan harga tersebut mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Surabaya, khususnya perajin tempe di Kampung Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Sedikitnya tujuh rumah produksi tempe di kawasan tersebut terdampak langsung oleh lonjakan harga bahan baku.

Para perajin mengaku harga kedelai sudah mulai naik sejak sebelum Ramadan dan terus meningkat hingga setelah Lebaran. Jika sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp 9.500 per kilogram, kini telah mencapai sekitar Rp 10.400 per kilogram.

Kondisi ini memaksa para pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian agar produksi tetap berjalan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan mengurangi ukuran tempe yang dijual, karena menaikkan harga dinilai berisiko menurunkan daya beli konsumen.

Baca Juga: Program Bus Pedagang Subuh Dorong Ekonomi Rakyat di Jawa Timur

Hingga saat ini, para perajin di Kampung Tempe masih mengandalkan kedelai impor. Hal tersebut disebabkan keterbatasan pasokan kedelai lokal, baik dari sisi jumlah maupun kualitas yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan produksi secara optimal.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mendorong kemandirian pangan, khususnya komoditas kedelai, agar ketergantungan impor dapat ditekan dan stabilitas harga di tingkat pelaku usaha tetap terjaga. (mus/gun)

Editor : Guntur Irianto
#naik #Perajin #harga #tempe #kedelai