RADAR SURABAYA - Kasus dugaan pengeroyokan pelajar SMA berusia 15 tahun di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur menghebohkan publik.
Korban diduga dianiaya belasan pelajar hingga mengalami luka di sekujur tubuh. Aksi kekerasan tersebut bahkan direkam dan videonya disebarluaskan di lingkungan sekolah.
Ibu korban, Samiati, menjelaskan peristiwa bermula pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 23.00 WIB, ketika anaknya dijemput sejumlah teman tanpa sempat berpamitan. “Mungkin takut bilang (tidak pamit) karena dijemput paksa,” ujarnya, Kamis (2/4).
Baca Juga: Tragedi Bukber SMAN 5 Bandung: Siswa Tewas Diduga Dikeroyok Pelajar Sekolah Lain
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 03.00 WIB, korban pulang dalam kondisi memprihatinkan, hanya mengenakan celana dalam dengan tubuh penuh lumpur dan luka.
Samiati menuturkan, anaknya mengalami lebam di kepala, bibir, tangan, punggung, dan kaki.
“Katanya dia dipukuli, ditendang, disuruh masuk parit, setelah dianiaya ditinggal oleh pelaku-pelakunya. Anak saya jalan kaki pulang sekitar 3 kilometer dari lokasi kejadian,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penyebaran video kekerasan membuat anaknya trauma dan enggan kembali ke sekolah.
“Pertama takut, dan video anak saya tidak pakai baju cuma celana dalam saat ditelanjangi disebar di grup sekolah. Jadi malu mau sekolah,” kata Samiati.
Dugaan sementara, pengeroyokan dipicu persoalan pribadi terkait hubungan asmara.
Baca Juga: Kunjungan Kenegaraan ke Korea Selatan, Prabowo Bertemu Idol K-Pop Asal Indonesia
Ponsel korban disebut digunakan temannya untuk mengirim pesan ke seseorang yang diduga pacar salah satu pelaku.
Samiati mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Jombang. Kanit Reskrim Polsek Jombang, Bripka Ahmad Makmur, membenarkan laporan itu.
“Kami terima laporan pihak korban. Pemeriksaan awal sudah dilakukan, visum korban juga sudah. Selanjutnya, kami selidiki lebih lanjut kasus ini,” jelasnya.
Sementara itu, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jember-Lumajang turut menyikapi kasus ini.
Kepala Seksi SMK Cabdin Jember-Lumajang, Mohamad Khotib, mengatakan pihaknya sudah turun ke lapangan untuk mengumpulkan informasi.
“Saya mendapat perintah dari Kepala Cabdin untuk menangani kasus ini. Kami akan menggali keterangan dari korban, keluarga, serta berkoordinasi dengan sekolah,” ujarnya. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari