RADAR SURABAYA - Momen libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah dimanfaatkan sejumlah warga Surabaya untuk berwisata. Salah satu tujuan yang kembali ramai dikunjungi adalah Gunung Kawi. Kawasan wisata religi di Kabupaten Malang itu menjadi pilihan, khususnya bagi warga Tionghoa, untuk berlibur sekaligus mencari ketenangan.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap libur panjang Lebaran, kunjungan ke Gunung Kawi cenderung meningkat. Selain faktor tradisi, suasana sejuk dan nuansa spiritual di kawasan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Baca Juga: Matahari Tepat di Khatulistiwa, Masyarakat Indonesia Hari Ini Bisa Saksikan Ekuinoks
Gunawan, warga Surabaya Utara, menjadi salah satu yang memanfaatkan libur Lebaran tahun ini untuk berkunjung ke Gunung Kawi. Dia datang bersama keluarga besar, mulai dari anak hingga cucu.
“Saya dari dulu biasa main ke sini sekalian healing. Soalnya pembantu mudik sejak akhir pekan lalu,” ujar dia.
Selama di lokasi, Gunawan mengisi waktu dengan berkeliling di kompleks wisata religi tersebut. Dia juga menyempatkan diri mampir ke untuk melakukan ritual ciamsi. Setelah itu, dia menikmati suasana hening di area makam yang dikenal sebagai salah satu pusat spiritual di kawasan tersebut.
“Ini ritual biasa untuk nguri-uri budaya saja. Soal rezeki, semua kita serahkan kepada Yang Mahakuasa,” kata lelaki Tionghoa itu.
Dia juga menepis anggapan bahwa para peziarah yang datang ke Gunung Kawi identik dengan praktik pesugihan atau mencari kekayaan secara instan.
Menurut dia, motivasi setiap pengunjung berbeda-beda. “Ada yang ke sini karena penasaran. Ada juga yang suka suasana hening untuk meditasi,” jelasnya.
Gunawan menegaskan, kesuksesan ekonomi tidak bisa diperoleh secara instan. Dibutuhkan proses panjang, mulai dari kerja keras, ketekunan, hingga membangun relasi.
“Kalau datang ke Gunung Kawi langsung jadi kaya, mengapa warga di sini mayoritas biasa-biasa saja,” katanya.
Menurut dia, keberadaan Gunung Kawi lebih tepat dipandang sebagai ruang refleksi dan pelestarian budaya, bukan sekadar tempat yang dikaitkan dengan mitos tertentu. Karena itu, dia berharap masyarakat bisa melihat fenomena ini secara lebih bijak.
Di sisi lain, meningkatnya kunjungan saat libur Lebaran juga memberi dampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Aktivitas wisata religi yang terus berlangsung setiap tahun menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. (*)
Editor : Lambertus Hurek