RADAR SURABAYA – Ancaman polusi plastik kini tidak lagi hanya mencemari sungai, laut, udara, dan tanah.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahan kimia berbahaya dari plastik telah ditemukan di dalam tubuh manusia dan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.
Temuan tersebut dipaparkan dalam seminar bertajuk “Expose Temuan Bahan Kimia Racun Plastik dalam Darah” yang diselenggarakan Fakultas
Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Kegiatan ini dihadiri para peneliti, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, hingga media.
Dalam forum ilmiah tersebut dipresentasikan 14 hasil penelitian terbaru yang mengkaji dampak paparan bahan kimia plastik dan mikroplastik terhadap kesehatan manusia.
Penelitian itu mencakup biomonitoring pada pekerja perempuan pengelola sampah yang memiliki risiko paparan tinggi terhadap limbah plastik, serta studi eksperimental pada hewan uji untuk memahami mekanisme dampak mikroplastik di dalam tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara paparan berbagai bahan kimia aditif plastik, seperti bisfenol, ftalat, PFAS, organophosphate flame retardants (OPFR), dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) dengan sejumlah indikator gangguan kesehatan.
Dampak yang diamati antara lain respons inflamasi, perubahan profil sel darah, gangguan metabolisme, hingga potensi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Para peneliti menjelaskan bahwa bahan kimia berbahaya dari plastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui dua mekanisme utama.
Pertama, bahan kimia seperti ftalat atau bisfenol dapat terlepas dari produk plastik ke lingkungan, lalu masuk ke tubuh manusia melalui makanan, minuman, air, atau udara.
Kedua, partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat melepaskan bahan kimia berbahaya setelah berada di dalam sistem biologis.
Peneliti mikroplastik ECOTON, Rafika, menjelaskan bahwa salah satu bahan kimia yang banyak ditemukan dalam plastik adalah ftalat, yang berfungsi sebagai zat pelentur atau plasticizer.
“Plastik yang terpapar panas, sinar matahari, atau mengalami degradasi menjadi mikroplastik akan lebih mudah melepaskan bahan kimia tersebut,” jelasnya, Selasa (10/3).
Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman, partikel kecil tersebut juga dapat melepaskan kembali bahan kimia berbahaya di dalam saluran pencernaan.
Bahkan, mikroorganisme di dalam usus dapat mempercepat proses pelepasan zat berbahaya tersebut.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobiota usus yang memiliki peran penting dalam sistem pencernaan, metabolisme, serta daya tahan tubuh manusia.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Yudhiakuari Sincihu, menjelaskan bahwa masyarakat perlu mulai menyadari jalur paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, partikel mikroplastik yang masuk melalui makanan, air minum, atau udara dapat berinteraksi langsung dengan sel dan jaringan tubuh.
“Permukaan mikroplastik dapat memicu stres oksidatif dan peradangan kronis pada sel. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya reactive oxygen species (ROS) yang dapat merusak DNA, protein, dan membran sel,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bahan kimia plastik dapat mengganggu mekanisme perbaikan DNA, memicu perubahan ekspresi gen, hingga meningkatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol.
“Peradangan kronis yang berlangsung lama juga dapat menciptakan lingkungan biologis yang mendukung perkembangan sel kanker,” tambahnya.
Karena itu, upaya pencegahan dampak kesehatan akibat mikroplastik harus dilakukan secara menyeluruh.
Strategi yang dapat ditempuh antara lain pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penguatan riset seperti penelitian biomarker paparan dan studi toksikologi, serta penerapan kebijakan yang lebih kuat seperti Extended Producer Responsibility (EPR) dan penetapan baku mutu mikroplastik.
Selain itu, pengembangan teknologi filtrasi dan kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting agar upaya pengendalian polusi plastik dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Prigi Arisandi dari ECOTON menilai hasil penelitian ini perlu disampaikan kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami.
“Kami berupaya menerjemahkan bahasa kampus menjadi bahasa kampung agar isu ini lebih dekat dengan masyarakat.
Dengan begitu, masyarakat dapat memahami bahwa persoalan plastik bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan,” ujarnya.
Perwakilan generasi muda sekaligus peneliti mikroplastik ECOTON, Sofi, berharap berbagai penelitian dan advokasi tersebut dapat mendorong masa depan yang lebih sehat.
“Generasi muda berharap adanya toxic-free future, masa depan yang lebih bebas dari bahan kimia berbahaya. Kami ingin hidup di lingkungan dengan makanan, air, dan udara yang lebih aman dari kontaminasi bahan kimia plastik,” katanya.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Herjunianto, menegaskan bahwa forum ilmiah tersebut diharapkan dapat menjadi ruang dialog lintas sektor.
“Forum ini diharapkan melibatkan peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, dan media untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih kuat dalam melindungi kesehatan masyarakat dari paparan bahan kimia berbahaya dalam plastik,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan