RADAR SURABAYA – Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah berpotensi tidak bisa pulang ke tanah air saat momen mudik Lebaran tahun ini. Pemerintah melalui perwakilan Republik Indonesia di negara penempatan saat ini terus melakukan koordinasi serta membuka layanan bantuan bagi para pekerja migran yang membutuhkan pertolongan.
Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, mengatakan penanganan PMI yang berada di luar negeri sepenuhnya menjadi kewenangan perwakilan RI di masing-masing negara.
Menurutnya, perwakilan RI telah menerbitkan berbagai imbauan sekaligus menyediakan hotline atau call center yang dapat diakses oleh PMI maupun warga negara Indonesia (WNI) di wilayah akreditasi masing-masing.
“Untuk di Timur Tengah memang kondisinya sedang dikoordinasikan oleh semua perwakilan kita. Mereka sudah menerbitkan imbauan dan juga call center atau hotline bagi pekerja migran maupun WNI yang berada di wilayah tersebut,” ujar Gimbar kepada Radar Surabaya, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan, layanan tersebut disiapkan agar para PMI dapat melaporkan kondisi mereka apabila membutuhkan bantuan, termasuk jika diperlukan proses evakuasi atau penanganan khusus dari perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
“Jika pekerja migran kita membutuhkan bantuan atau bahkan evakuasi, itu bisa disampaikan melalui hotline yang telah disediakan oleh perwakilan RI di negara penempatan,” katanya.
Gimbar menegaskan bahwa apabila PMI dari kawasan Timur Tengah nantinya dipulangkan ke Indonesia, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran melalui BP3MI akan siap memberikan pendampingan setibanya di tanah air.
BP3MI Jawa Timur juga akan menyiagakan petugas di bandara untuk membantu proses kepulangan hingga mengantarkan PMI ke daerah asal masing-masing.
“Nanti ketika mereka dipulangkan ke Indonesia, kami dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran akan standby di bandara untuk membantu mengantar mereka kembali ke daerah asal bekerja sama dengan pemerintah daerah,” jelasnya.
Sementara itu, menjelang arus mudik Lebaran, BP3MI Jawa Timur juga telah menyiapkan Posko Mudik di Bandara Internasional Juanda. Petugas akan disiagakan di Helpdesk Terminal 1 dan Lounge PMI di Terminal 2 mulai H-5 hingga H+5 Lebaran.
Posko tersebut juga disiapkan untuk memberikan layanan darurat bagi PMI yang membutuhkan bantuan kesehatan. Jika terdapat kondisi medis tertentu, petugas akan segera merujuk PMI ke rumah sakit terdekat.
“Jika ada kebutuhan seperti ambulans atau hal-hal yang bersifat medis, akan kami rujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Berdasarkan data BP3MI Jatim, rata-rata terdapat sekitar 100 hingga 120 PMI yang kembali melalui Bandara Juanda setiap harinya. Namun, hingga saat ini peningkatan arus mudik menjelang Lebaran masih belum terlihat signifikan.
“Kalau dari pendataan kami, rata-rata per hari sekitar 100 sampai 120 orang yang kembali. Untuk peningkatan arus mudik Lebaran ini memang belum terlihat karena masih belum memasuki puncaknya,” katanya.
Para PMI tersebut selanjutnya kembali ke daerah asal mereka yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. BP3MI Jatim juga siap membantu proses pemulangan hingga memberikan berbagai informasi layanan yang dibutuhkan para pekerja migran.
“Kami membantu jika memang dibutuhkan fasilitasi pemulangan ke daerah asal, atau memberikan informasi terkait kebutuhan mereka, misalnya perpanjangan BPJS atau hal lain yang diperlukan,” tambahnya.
Menurutnya daerah asal PMI yang paling banyak tercatat berasal dari Ponorogo, Blitar, Madiun, serta Malang. Sementara itu, negara penempatan yang mendominasi kepulangan PMI adalah Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto