RADAR SURABAYA - Kondisi Timur Tengah yang tidak kondusif akibat konflik antara Israel dan Iran menyebabkan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jawa Timur melakukan pemantauan terhadap jemaah umrah, baik yang akan berangkat maupun yang masih berada di tanah suci Arab Saudi.
Plt Kakanwil Kemenhaj Provinsi Jatim, Mohammad As'adul Anam, memastikan seluruh jemaah umrah dari Jawa Timur yang berada di tanah suci dalam kondisi aman.
Menurutnya, hingga kini masih ada ribuan jemaah yang sedang melaksanakan ibadah atau dalam proses pulang semenjak konflik memanas sejak Sabtu lalu.
"Dari data kami sementara ini ada 9.400 jemaah umrah dari Jatim. Tapi itu dari kemarin dan sebagian sudah pulang. Jadi datanya terus bergerak," ujar Anam Selasa (3/3).
Anam menjelaskan bahwa ribuan jemaah tersebut tidak tertahan akibat situasi yang tidak stabil dan masih dapat kembali ke Indonesia.
Ia bahkan telah melakukan koordinasi dengan beberapa maskapai penerbangan yang melayani jemaah umrah dari Jawa Timur.
"Jadi jemaah saya pikir tidak tertahan masih bisa pulang ke tanah air karena penebangan yang direct atau tidak transit masih beroperasi tapi itu juga butuh pertimbangan dari pihak maskapai. Saya sudah telepon untuk koordinasi dengan pihak maskapai juga," katanya.
Meskipun demikian, Kemenhaj mengimbau jemaah umrah serta biro travel untuk melakukan penundaan keberangkatan. Namun, Anam menegaskan bahwa ibadah umrah di Arab Saudi sendiri tidak ditutup dan masih berjalan normal.
"Kalau dari Indonesia ke Arab Saudi saat ini diminta untuk reschedule karena situasi yang tidak kondusif tapi di sana tidak ditutup," tegasnya.
Pihaknya telah menyampaikan imbauan penundaan sementara kepada biro travel melalui grup WhatsApp, dengan pertimbangan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan jemaah. "Sudah, kami infokan melalui grup WhatsApp," imbuhnya.
Anam menyampaikan bahwa pihaknya juga memantau pergerakan jemaah yang akan berangkat, yang berdasarkan data kemarin mencapai sekitar 2.100 orang.
Namun, jumlah yang secara pasti melakukan reschedule belum tercatat karena masih perlu koordinasi dengan maskapai dan biro travel.
"Kami terus memantau dari data kemarin ada sekitar 2.100 yang mau berangkat ke tanah suci. Cuma yang reschedule secara pasti belum terlaporkan ke kami. Karena bagaimana pun masih perlu pertimbangan dari pihak maskapai dan biro travel," jelasnya.
Ia juga mengimbau jemaah untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas. Bagi jemaah yang berada di Arab Saudi, Anam mengajak untuk mengikuti arahan Kementerian Luar Negeri, seperti bergabung ke grup informasi jika diperlukan, serta selalu berkoordinasi dengan ketua rombongan.
"Imbauan bagi yang masih di Arab Saudi dari Kemenlu untuk bergabung di grup kalau memang itu dibutuhkan. Tapi koordinasi dengan ketua rombongan atau perjalanan umrah supaya ada informasi diketahui oleh para jemaah," imbuhnya.
Selain itu, keluarga jemaah di tanah air juga diminta untuk tetap tenang, karena pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan Kantor Urusan Haji di Arab Saudi terus memantau kondisi di Timur Tengah. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari