RADAR SURABAYA - Lagi-lagi ledakan akibat bahan peledak petasan terjadi. Kali ini terjadi di Dusun Cuet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo,Minggu (1/3) sore.
Sebuah ledakan dahsyat dari rumah warga mengguncang kawasan tersebut hingga terdengar ratusan meter. Ledakan tersebut menewaskan seorang remaja dan melukai beberapa orang lainnya.
Korban meninggal diketahui bernama Rifai, 16, seorang remaja yang tinggal di lokasi kejadian.
Menurut kesaksian Siswanto, Kamituwo Dusun Pendem, Rifai sempat ditemukan masih bernyawa di depan rumahnya, dalam dekapan sang ibu dan kakaknya.
“Posisi korban masih di depan rumah, belum meninggal, cuma didekap sama ibu dan kakaknya. Tapi akhirnya meninggal karena tidak ada pertolongan,” ungkap Siswanto dikutip dari Detikcom.
Selain Rifai, seorang korban lain bernama Toni, warga Morosari, Kecamatan Sukorejo, berhasil diselamatkan.
Siswanto mengaku langsung mengevakuasi Toni ke Rumah Sakit Bantarangin menggunakan sepeda motor pribadinya.
“Yang satunya masih hidup atas nama Toni. Saya tarik ke depan rumah di halaman, lalu saya larikan ke Rumah Sakit Bantarangin pakai sepeda motor saya,” jelasnya.
Ledakan yang terjadi sekitar pukul 17.15 WIB itu membuat warga sekitar panik. Siswanto, yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi, mengaku segera berlari ke sumber suara setelah mendengar dentuman keras.
“Saya dengar ledakan sangat dahsyat. Posisi saya di rumah, jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi. Karena mendengar ledakan, saya langsung merapat ke TKP,” ujarnya.
Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Imam Mujali mengatakan korban tewas masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Sementara satu korban lainnya berinisial Toni mengalami luka bakar hingga 80 persen.
"Korban dua orang, satu meninggal dunia inisial R, masih kelas 3 SMP. Kedua inisial T, luka bakar 80 persen," ujar Imam.
Menurut Imam, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara mengarah pada dugaan peracikan bahan mercon. Namun pihaknya masih akan mendalami bersama tim Gegana untuk memastikan jenis bahan yang meledak.
"Saat ini berdasarkan olah TKP masih kita dalami. Dugaannya meracik bahan mercon. Tapi nanti lebih dalam koordinasi dengan Gegana yang bisa memberikan kesimpulan, apakah itu benar-benar mesiu atau bahan untuk petasan," jelasnya.
Ia menyebut kedua korban masih berusia anak dan remaja. Polisi pun mengingatkan tradisi membuat petasan dan balon udara saat bulan puasa di Ponorogo kerap memakan korban.
"Yang satu anak-anak, yang satu remaja. Tradisi Ponorogo saat puasa memang banyak buat petasan dan balon udara. Kita mengimbau masyarakat Ponorogo sudahlah jangan membuat petasan, tidak ada untungnya. Terbukti dengan kejadian-kejadian sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia," tegasnya.
Terpisah, Kapolsek Sumoroto Kompol Kusbintoro berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya warga Sumoroto dan Kauman.
"Pelajaran bagi kita, saya mengimbau warga Sumoroto maupun Kauman, kejadian ini yang pertama dan terakhir. Mudah-mudahan tidak merembet ke wilayah lain," kata Kusbintoro.
Ia menambahkan, sejauh ini belum ditemukan keterlibatan pihak lain dan dugaan sementara merupakan inisiatif pribadi. Namun penyelidikan masih terus dilakukan bersama jajaran Polres.
"Sampai sekarang belum ada, ini niatan pribadi. Kita dalami, kita koordinasi dengan Polres terutama Reskrim. Hasil penyelidikan nanti bagaimana, kita breakdown ke bawah. Nanti kita tindak lanjuti sampai bawah," pungkasnya.
Sebelumnya, ledakan keras mengguncang sebuah rumah warga di Dusun Cuet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo, Minggu (16/3/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Ledakan bahkan terdengar hingga radius ratusan meter. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari