RADAR SURABAYA - Gempa bumi magnitudo 6,4 yang mengguncang perairan selatan Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (6/2) dini hari, meninggalkan dampak cukup signifikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mencatat sebanyak 69 bangunan terdampak, terdiri dari rumah warga dan fasilitas umum, yang terjadi bukan hanya di Pacitan, namun juga wilayah sekitarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggono, menjelaskan bahwa pendataan masih berlangsung. Untuk di Pacitan berjumlah 43 bangunan yang rusak.
“Data ini masih bisa bertambah seiring asesmen lapangan yang belum sepenuhnya rampung,” ujarnya, Sabtu (7/2).
Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan rumah warga, sedangkan yang lainnya adalah fasilitas umum, termasuk kantor pemerintah desa dan sekolah.
“Kerusakan ringan umumnya berupa genteng bergeser atau jatuh, terutama di wilayah Kecamatan Pringkuku,” tambah Radite.
BPBD Pacitan saat ini masih melakukan klasifikasi tingkat kerusakan secara rinci sebelum melaporkannya kepada Bupati Pacitan serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Pendataan dan verifikasi terus kami lakukan agar penanganan dan tindak lanjutnya bisa tepat sasaran,” jelas Radite.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno mengatakan dampak gempa terjadi di sejumlah kabupaten di Jawa Timur, dengan total 69 bangunan yang rusak.
"Sebaran dampak gempa bumi meliputi Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Madiun, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Tulungagung," kata Satriyo, Sabtu (7/2) malam.
Sebanyak 69 bangunan itu meliputi rumah warga, sekolah, fasilitas umum, tempat ibadah hingga tempat usaha. Kerusakan yang terjadi mulai rusak ringan, sedang hingga berat. Selain itu ada 1 warga meninggal dunia.
"Secara rinci, kerusakan pada sektor hunian dan bangunan umum terdiri dari 52 unit rusak ringan, 6 unit rusak sedang, dan 1 unit rusak berat," ujarnya.
Selain bangunan tempat tinggal, kerusakan juga melanda sektor pendidikan dan pelayanan publik. Sebanyak 3 sekolah mengalami dampak.
"SDN 3 Tamansari, MI GUPPI, dan SMPN 4 Sudimoro. Fasilitas umum lainnya yang terdampak meliputi Kantor PKK, Kantor Terpadu, dan area pemakaman umum," katanya.
"2 tempat ibadah berupa masjid, serta 2 tempat usaha yang mencakup satu gudang penyimpanan dan sebuah kafe," tambahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, Kabupaten Pacitan menjadi wilayah paling terdampak dengan total 43 rumah mengalami kerusakan.
"Di Pacitan ada 38 rusak ringan, 4 rusak sedang, dan 1 rusak berat). Selain itu, sektor pendidikan di Pacitan juga terpukul dengan rusaknya tiga sekolah, yakni SDN 3 Tamansari, MI GUPPI, dan SMPN 4 Sudimoro, serta satu fasilitas umum berupa Kantor PKK," ucapnya.
Dampak kerusakan juga meluas ke wilayah Kabupaten Ponorogo, tercatat 3 rumah rusak ringan, 1 rumah rusak sedang, serta kerusakan pada Kantor Terpadu, sebuah masjid, dan satu gudang penyimpanan.
Sementara itu, di Kabupaten Trenggalek dilaporkan sebanyak 7 unit rumah mengalami rusak ringan, disusul Kabupaten Blitar dengan 2 unit rumah rusak ringan, dan Kabupaten Nganjuk sebanyak 1 unit rumah rusak ringan.
Di wilayah Kota Blitar tercatat kerusakan pada 1 unit rumah rusak sedang dan satu tempat usaha berupa kafe.
Sedangkan di Kabupaten Madiun, kerusakan terjadi pada fasilitas publik dan masjid terdampak. Yakni kerusakan pada Masjid Jami Ibaadurrohmaan dan area pemakaman umum.
Hingga saat ini, kata Satriyo data tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi dapat berkembang seiring dengan proses verifikasi lanjutan di lapangan.
Selain itu, gempa Pacitan juga membuat satu warga bernama Joko Santoso, 53, asal Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan meninggal dunia.
Namun korban bukan tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Tapi karena mengalami syok setelah gempa terjadi.
Korban, sebenarnya sempat menyelamatkan diri keluar rumah saat gempa terjadi. Dia bahkan masih sempat berbincang dengan tetangganya.
Namun, ketika hendak kembali masuk ke rumah, dan bangun dari duduknya, korban tiba-tiba terjatuh hingga tak sadarkan diri.
"Adanya korban jiwa di Kabupatem Pacitan dalam kejadian tersebut dikarenakan korban memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi dan mengalami syok setelah kejadian," kata dia
Gempa yang berpusat di perairan selatan Pacitan dengan kedalaman 10 kilometer tersebut dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Timur, bahkan hingga Yogyakarta. Getaran kuat sempat membuat warga panik dan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Radite menekankan pentingnya melaporkan kerusakan bangunan yang berisiko membahayakan keselamatan. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari