Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sapi Sonok Madura, Kontes Keindahan Sapi Betina yang Tetap Lestari

Muhammad Firman Syah • Selasa, 3 Februari 2026 | 12:56 WIB

Anggun: Pasangan sapi betina berhias khas Madura tampil dalam kontes Sapi Sonok.
Anggun: Pasangan sapi betina berhias khas Madura tampil dalam kontes Sapi Sonok.

RADAR SURABAYA – Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang beragam. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Sapi Sonok, budaya khas Madura berupa kontes keindahan sapi betina yang ditampilkan dengan balutan aksesori adat.

Berbeda dengan karapan sapi yang mengandalkan kecepatan sapi jantan, Sapi Sonok justru menonjolkan keanggunan, keserasian, dan estetika gerak sapi betina. Tradisi ini tumbuh dari kultur agraris masyarakat Madura yang sejak lama menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan.

Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sapi Sonok mulai berkembang pada era 1960-an dan pertama kali dikenal di Desa Batu Kerbui, wilayah pesisir utara Kabupaten Pamekasan. Tradisi ini berawal dari kebiasaan para petani memandikan sapi-sapi mereka usai digunakan membajak sawah.

Baca Juga: Gunungan Tempe 14 Meter Jadi Ikon Wisata Budaya Desa Sedenganmijen Sidoarjo

Sapi yang telah bersih kemudian diikat pada satu tiang khusus atau tancek. Aktivitas tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh para petani di satu hamparan sawah, menciptakan suasana kebersamaan. Dari situ, muncul kebiasaan membandingkan sapi mana yang terlihat paling bersih, rapi, dan indah saat berdiri.

Seiring waktu, pasangan sapi betina mulai dihias dengan berbagai aksesori. Dari kebiasaan sederhana inilah, tradisi Sapi Sonok lahir dan berkembang menjadi bagian dari budaya masyarakat Madura.

Sapi yang diikutkan dalam kontes dirawat secara khusus sejak usia sekitar tiga bulan. Setiap sore, sapi dilatih berdiri dan berjalan anggun di tempat pengikatan antara pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Perawatan dilakukan secara intensif, mulai dari memandikan sapi dua kali sehari hingga menjaga kebersihan kandang agar kulit sapi tetap bersih dan berkilau.

Saat perlombaan, sapi peserta dihias dengan selempang keemasan di bagian leher dan dada. Di bagian leher juga dipasang pangonong, kayu perangkai yang diukir dengan dominasi warna merah dan emas. Mahkota berhias manik-manik keemasan melengkapi penampilan pasangan sapi betina tersebut.

Baca Juga: Jadi Aset Pariwisata, Begini Langkah Pemprov Jatim Melestarikan Karapan Sapi

Sebelum penilaian, para pemilik menggiring sapi mereka mengelilingi arena sambil menari, diiringi musik tradisional saronen. Pasangan sapi berjalan dengan kepala tegak, menarik perhatian penonton yang memadati arena.

Penilaian dalam kontes Sapi Sonok meliputi keindahan cara berjalan, kelengkapan busana, serta keserasian pasangan sapi. Kekompakan menjadi poin penting, terutama saat kedua kaki depan sapi harus melangkah bersamaan ke atas altar kayu di garis akhir.

Setelah mencapai garis finis, para pemilik sapi kerap meluapkan kegembiraan dengan menari bersama para sinden, disertai tradisi sawer sebagai ungkapan rasa syukur.

Lebih dari sekadar ajang hiburan, Sapi Sonok menjadi perekat hubungan sosial masyarakat Madura sekaligus simbol kebanggaan daerah. Dari sisi peternakan, tradisi ini mendorong lahirnya teknik pembibitan dan perawatan sapi Madura yang lebih berkualitas.

Baca Juga: Asta Tinggi Sumenep, Makam Raja-Raja Madura yang Sarat Sejarah

Sapi Madura dikenal bertubuh relatif kecil, bertanduk panjang melengkung, memiliki warna bulu beragam, serta daya tahan tubuh yang kuat. Selain sebagai sumber protein hewani, sapi Madura juga dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak pertanian dan bahan baku industri kulit.

Dalam perawatannya, petani Madura masih mengandalkan racikan tradisional, seperti jamu berbahan tepung jagung, gula jawa, bawang, asam jawa, kelapa, dan telur. Sapi Sonok juga rutin diberi susu segar yang dicampur kuning telur untuk menjaga kesehatan dan stamina.

Tradisi Sapi Sonok menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya sarat nilai estetika, tetapi juga mengandung kearifan lokal yang patut dijaga dan dilestarikan. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#kontes sapi #karapan sapi #tradisi #budaya #Sapi sonok