Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Teknologi Intervensi Koroner Perkutan Terus Berkembang, Tekan Risiko Kematian Akibat Serangan Jantung

Rahmat Sudrajat • Minggu, 1 Februari 2026 | 17:48 WIB
Prof. Dr. I Gde Rurus Suryawan, dr. SpJP Subsp. KI (K).
Prof. Dr. I Gde Rurus Suryawan, dr. SpJP Subsp. KI (K).

RADAR SURABAYA – Perkembangan teknologi intervensi koroner perkutan kian berperan penting dalam menekan risiko kematian akibat serangan jantung koroner.

Inovasi di bidang kardiologi intervensi ini menjadi kunci penanganan cepat dan tepat pada penyakit kardiovaskular yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.

Serangan jantung koroner terjadi akibat sumbatan mendadak pada arteri koroner yang menghambat aliran darah dan oksigen menuju otot jantung.

Tanpa penanganan segera, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan jantung yang meluas hingga berujung pada gagal jantung atau kematian.

Pakar Intervensi Koroner, Prof. Dr. I Gde Rurus Suryawan, dr. SpJP Subsp. KI (K), menjelaskan bahwa kecepatan pemulihan aliran darah merupakan faktor penentu utama keselamatan pasien.

“Keterlambatan penanganan akan memperluas kerusakan otot jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat aritmia, gagal jantung akut, maupun edema paru akut,” ujarnya, Minggu (1/2).

WHO: Serangan Jantung Masih Jadi Penyebab Kematian Global

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 17,8 juta kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, dengan serangan jantung sebagai kontributor terbesar.

Prof. Rurus menegaskan bahwa luas dan durasi kerusakan otot jantung sangat berpengaruh terhadap angka kematian pasien.

Oleh karena itu, teknologi intervensi koroner perkutan terus dikembangkan guna mempercepat pembukaan sumbatan pembuluh darah koroner.

Metode ini berevolusi dari angioplasti balon hingga pemasangan stent untuk menjaga patensi pembuluh darah setelah tindakan.

Evolusi Stent dan Tantangan Terapi Jangka Panjang

Perkembangan stent dimulai dari bare-metal stents hingga drug-eluting stents yang mampu menurunkan risiko penyempitan ulang pembuluh darah.

Meski efektif, stent berlapis obat menuntut terapi pengencer darah ganda dalam jangka panjang yang berisiko memicu perdarahan.

Sebagai solusi, teknologi bioresorbable vascular scaffold (BVS) mulai dikembangkan. Perangkat ini dirancang dapat diserap tubuh setelah fungsi pembuluh darah koroner kembali normal.

“Jika teknologi BVS dapat dioptimalkan, maka fungsi fisiologis pembuluh darah koroner tetap terjaga dan kebutuhan terapi antiplatelet jangka panjang bisa dikurangi,” jelas Prof. Rurus.

Skor Rurus Suryawan untuk Prediksi Kelangsungan Hidup Pasien

Selain inovasi teknologi, Prof. Rurus juga mengembangkan Skor Rurus Suryawan, sistem prediksi klinis berbasis 13 parameter sederhana untuk menilai peluang kelangsungan hidup pasien pascaserangan jantung.

Skor ini diharapkan dapat membantu tenaga medis dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.

Ia mendorong penerapan sistem tersebut secara luas sebagai bagian dari upaya menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung koroner, sekaligus

mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yakni menjamin kehidupan sehat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kombinasi inovasi teknologi dan pendekatan prediksi klinis yang tepat, intervensi koroner perkutan diharapkan semakin efektif dalam menyelamatkan nyawa pasien serangan jantung di masa mendatang.(rmt)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#I Gde Rurus Suryawan #aliran darah #Jantung koroner #Intervensi Koroner #teknologi intervensi koroner perkutan