Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Asta Tinggi Sumenep, Makam Raja-Raja Madura yang Sarat Sejarah

Muhammad Firman Syah • Minggu, 1 Februari 2026 | 14:06 WIB

Kompleks Makam Asta Tinggi di Sumenep.
Kompleks Makam Asta Tinggi di Sumenep.

Sumenep — Kompleks permakaman raja-raja Asta Tinggi di Kabupaten Sumenep menjadi salah satu situs bersejarah sekaligus tujuan wisata religi paling dikenal di Madura. Di kawasan ini dimakamkan para raja, bangsawan, hingga tokoh yang oleh masyarakat diyakini memiliki peran penting dalam perjalanan spiritual dan pemerintahan Sumenep.

Nilai historis yang kuat membuat Asta Tinggi tak pernah sepi peziarah. Mereka datang tidak hanya dari berbagai daerah di Madura, tetapi juga dari luar pulau. Sebagian berziarah untuk mendoakan para leluhur, sebagian lain datang untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah kerajaan Sumenep.

“Sejak dulu Asta Tinggi dikenal sebagai makam raja-raja dan wali. Banyak peziarah datang bukan hanya dari Madura, tetapi juga dari luar daerah,” ujar salah satu juru kunci Asta Tinggi.

Baca Juga: 16 Umpak Bersejarah di Museum Sunan Giri Gresik: Warisan Sejarah yang Ungkap Filosofi Jawa

Berdasarkan catatan sejarah, kompleks permakaman Asta Tinggi mulai dibangun sekitar abad ke-17 Masehi. Tokoh pertama yang dimakamkan di kawasan ini adalah Tumenggung Anggadipa atau Pangeran Anggadipa.

Anggadipa merupakan bangsawan asal Jepara yang ditunjuk Kerajaan Mataram untuk mengisi kekosongan pemerintahan di Madura pasca invasi Sultan Agung. Selama menjalankan tugasnya, Anggadipa dikenal memilih menetap di Sumenep hingga akhir hayat.

“Pangeran Anggadipa memilih tinggal di Sumenep sampai wafat. Karena itu beliau dimakamkan di bukit ini,” jelas juru kunci.

Baca Juga: Mengenal Prasasti Canggu: Sumber Sejarah Primer Majapahit yang Catat Kota dan Peristiwa Penting

Seiring waktu, penguasa-penguasa dari Dinasti Bugan juga dimakamkan di kawasan yang sama. Hal tersebut menjadikan Asta Tinggi sebagai kompleks pemakaman raja-raja Sumenep dari berbagai generasi.

Kompleks ini kemudian dipagari batu oleh Raden Demang Singoleksono atau Kiai Macan Ambunten, tokoh keraton yang juga dikenal sebagai penasihat spiritual Keraton Sumenep. Pagar batu tersebut hingga kini masih berdiri kokoh.

“Pagar batu ini disusun tanpa semen, hanya menggunakan tanah sebagai perekat. Sampai sekarang masih tetap kuat,” tuturnya.

Keberadaan pagar batu dan letak kompleks di atas perbukitan melahirkan berbagai cerita turun-temurun di tengah masyarakat. Sejak lama, Asta Tinggi dikenal sebagai kawasan yang dikeramatkan.

“Ada banyak cerita yang berkembang dari generasi ke generasi. Tapi semua itu kami kembalikan pada kepercayaan masing-masing,” imbuhnya.

Baca Juga: Benteng Patjekan di Surabaya Jadi Tempat Peristiwa Penting Sejarah Majapahit, Sekarang Berubah Nama Jadi Ngagel

Untuk membedakan makam raja dan kerabatnya, makam para raja beserta permaisuri ditempatkan di dalam kubah-kubah khusus. Sementara makam kerabat kerajaan berada di area terpisah di luar kubah utama.

Berdasarkan catatan sejarah, pembangunan kompleks pemakaman raja-raja Sumenep berlangsung sejak tahun 1750 Masehi dan melewati tiga masa pemerintahan, yakni Panembahan Somala, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, dan Panembahan Natakusuma II.

Asta Tinggi terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh tembok. Bagian barat memiliki corak arsitektur Jawa dengan tiga kubah utama, sedangkan bagian timur menampilkan perpaduan gaya Arab, China, Eropa, dan Jawa dengan satu kubah.

“Setiap bagian memiliki ciri arsitektur yang berbeda. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya luar yang masuk ke Sumenep pada masa lalu,” pungkas juru kunci. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#asta tinggi #Makam Raja #madura #sumenep #sejarah