RADAR SURABAYA - Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur memastikan pengendalian kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jatim terus dilakukan.
Pejabat Otoritas Veteriner Dinas Peternakan Jawa Timur Iswahyudi menegaskan sejak awal tahun hingga hari ini, tercatat jumlah ternak yang terlah terjangkit PMK telah tembus 803 kasus. Ratusan kasus tersebut tersebar 38 kabupaten/kota di Jatim.
Detailnya 606 ekor ternak atau 75,47 persen masih dalam kondisi sakit. Berijutnya 188 ekor atau 23,41 persen telah dinyatakan sembuh dan ada sebanyak 8 ekor hewan mati. Selain itu ada 1 ekor ternak yang dilakukan potong paksa untuk menghindari penularan penyakit lebih luas.
“Sebenarnya kalau dari tren data, kasus PMK tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Iswahyudi, Selasa (27/1).
Hal ini dilihat juga dari penambahan kasus harian di tahun ini hanya hanya 10 ekor atau 15 ekor. Sedangkan pada tahun sebelumnya, rata-rata kasus harian di Jawa Timur sempat mencapai 200 hingga 300 kasus per hari.
Pihaknya pun menegaskan masyarakat tidak perlu panik menyikapi temuan kasus PMK. Terutama karena saat ini penanganan sudah dilakukan dengan pengobatan ternak yang sakit dan vaksinasi pada hewan yang sehat juga dilakukan.
“Selain itu sebenarnya ternak kita itu banyak yang sudah divaksin sehingga sudah relatif memilik kekebalan. Kalau ada petugas vaksinasi dan ternaknya sehat, silakan langsung diminta untuk divaksin,” katanya.
Iswahyudi menambahkan, Pemprov Jatim telah menyiapkan langkah antisipasi sejak akhir 2025. Obat-obatan PMK telah didistribusikan ke daerah pada November–Desember 2025 sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan kasus di musim hujan.
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga dilakukan melalui vaksinasi rutin dua kali dalam setahun. Terakhir, vaksinasi dilaksanakan pada Desember 2025, sembari menunggu pasokan vaksin dari Kementerian Pertanian (Kementan).
“Untuk Jawa Timur, kami menerima 1,510 juta dosis vaksin PMK dari Kementan. Minggu keempat Januari ini, vaksin akan kembali kami distribusikan ke kabupaten dan kota,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jatim Indyah Aryani menegaskan Pemprov turun tangan untuk melakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah menyebaran PMK yang lebih luas di Jatim.
“Kita sudah lakukan antisipasi karena musim hujan, jadi memang ada kecenderungan wabahnya merebak cepat. Kami melakukan rapat koordinasi dengan pusat dan juga bersama kabupaten kota untuk melakukan langkah-langkah untuk menanggulangi PMK,” kata Indy.
Lebih lanjut Indy menegaskan penanganan dilakukan secara terpadu dimana Pemprov Jatim memberikan suplai obat dan juga vaksin pada daerah yang ada ternak yang terjangkit PMK.
“Teknisnya kita lakukan pengobatan pada hewan yang sakit. Sedangkan yang sehat kita suntikkan vaksinasi, dan ini terus dilaksanakan. Bagi daerah yang misalnya kekurangan obat dan vaksin bisa melapor dan kami akan bantu kirimkan suplainya,” tegasnya.
Dikatakan Indy, saat ini waktu yang cukup krusial bagi peternak karena di waktu-waktu ini lalu lintas ternak cukup padat. Terutama jelang bulan Ramadhan dan biasanya di waktu-waktu ini banyak yang mulai melakukan penggemukan ternak untuk nanti saat Idul Adha.
Karenanya, pihaknya saat ini mulai menerjunkan tim untuk mengetatkan lalu lintas ternak. Pihaknya bekerja sama dengan lintas sektor untuk melakukan langkah pantauan lalu lintas ternak baik antar provinsi maupun antar kabupaten kota.
“Yang jelas lalu lintas ternak kita pantau ketat. Kita juga lakukan SOP Biosecurity. Ini penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit,” tegas Indy.
Pihaknya pun mengimbau daerah dan peternak melakukan hal serupa terutama melakukan kontrol akses, sanitasi, dan manajemen kesehatan ternak. (*)
Editor : Lambertus Hurek