Radar Surabaya - Musik Daul, kesenian tradisional khas Madura, tetap bergema dan diminati masyarakat hingga kini. Di tengah derasnya arus musik modern, irama khas Musik Daul masih menjadi denyut budaya yang hidup di tengah masyarakat Madura, lintas generasi.
Kesenian ini tak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial yang merekatkan kebersamaan warga. Jalur-jalur arak-arakan Musik Daul kerap dipadati masyarakat yang antusias menyaksikan pertunjukan tersebut.
Istilah Daul berasal dari kata “gaul” yang bermakna mudah berbaur dan akrab. Sebutan ini kemudian diplesetkan menjadi “daul” oleh para penggagasnya, sebagai simbol keterbukaan dan kebersamaan dalam bermusik. Dengan instrumen sederhana dan mudah dimainkan, Musik Daul dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Guru PAUD/KB Taam Permata Hati, Glisgis Gunung Madeh, Sampang, Tria Septiani Nuraini, mengatakan Musik Daul mulai berkembang pesat sejak era 1990-an.
“Musik Daul mulai berkembang pesat pada era 1990-an dengan memadukan berbagai aliran musik seperti dangdut, gambus, kasidah, hingga lagu daerah,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Rini itu menjelaskan, Musik Daul merupakan hasil pengembangan dari Musik Tong-Tong. Instrumen yang digunakan mayoritas terbuat dari bambu dan potongan kayu dengan ukuran berbeda untuk menghasilkan bunyi yang khas dan dinamis.
“Alat-alatnya seperti tong-tong, bung-bung, dug-dug, gendang, kenong, dan peking. Cara memainkannya menggunakan pukulan monton sehingga menghasilkan irama yang energik,” tambahnya.
Pada awal kemunculannya, Musik Daul digunakan sebagai penanda waktu sahur saat bulan Ramadan. Seiring perkembangan zaman, kesenian ini berevolusi menjadi pertunjukan budaya yang lebih atraktif dan kerap ditampilkan dalam berbagai acara, mulai dari pawai budaya hingga perlombaan antar daerah di Madura.
Dalam perlombaan Musik Daul, penilaian tidak hanya berfokus pada kekompakan irama, tetapi juga kreativitas koreografi penari yang mengiringi. Ajang tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana pelestarian budaya bagi generasi muda Madura.
Salah satu kelompok Musik Daul yang dikenal berprestasi adalah Gong Mania asal Sumenep. Berangkat dari semangat menjaga warisan leluhur, kelompok ini berhasil menorehkan prestasi di tingkat daerah hingga nasional.
“Musik Daul adalah musik alam khas Madura, setiap iramanya terinspirasi dari alam dan budaya lokal,” ungkap Rini.
Kini, Musik Daul tidak hanya menjadi hiburan masyarakat lokal, tetapi juga tampil di berbagai kota besar dalam festival budaya dan peringatan hari jadi daerah. Dukungan pemerintah daerah melalui perlombaan rutin, termasuk saat Lebaran Ketupat, turut mendorong lahirnya kelompok-kelompok Musik Daul baru.
Dengan semangat pelestarian dan inovasi kreatif, Musik Daul terus mengukuhkan diri sebagai ikon budaya Madura yang membanggakan sekaligus memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. (ida/fir)
Editor : M Firman Syah