RADAR SURABAYA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur (Jatim) mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Hingga tutup buku akhir tahun, total penghimpunan zakat mencapai sekitar Rp 46 miliar hingga Rp 47 miliar, melampaui target awal sebesar Rp 45 miliar.
Ketua Baznas Jatim KH Ali Maschan Moesa mengatakan capaian tersebut patut disyukuri, terlebih di tengah kondisi perekonomian nasional yang dinilai belum sepenuhnya pulih.
“Target kita Rp 45 miliar, realisasinya bisa mencapai Rp 46 bahkan Rp 47 miliar. Ini tentu patut kita syukuri, apalagi kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih,” ujar Kiai Ali Maschan, Senin (26/1).
Ia menjelaskan, capaian tersebut merupakan akumulasi penerimaan zakat sepanjang 2025. Meski pada awal tahun target sempat disesuaikan, realisasi penghimpunan justru menunjukkan tren positif hingga akhir tahun. “Artinya, untuk tahun 2025 ini alhamdulillah Baznas Jatim bisa melampaui target,” katanya.
Memasuki 2026, Baznas Jatim kembali memasang target yang lebih tinggi. Lembaga pengelola zakat ini menargetkan peningkatan penghimpunan sekitar 10 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya, atau berada di kisaran Rp 51 hingga Rp 52 miliar.
“Insyaallah tahun 2026 kita naik sekitar 10 persen. Mudah-mudahan bisa di angka Rp 51 sampai Rp 52 miliar,” kata Ali Maschan.
Untuk mencapai target tersebut, Baznas Jatim mengubah strategi penghimpunan. Menurut Ali Maschan, potensi zakat dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) di Jawa Timur sudah relatif optimal. Karena itu, fokus kini diarahkan pada sektor non-ASN, terutama kalangan pengusaha serta penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masjid, sekolah, dan perguruan tinggi.
“Sekarang yang kita galakkan itu di luar ASN, termasuk pengusaha-pengusaha. UPZ di masjid, sekolah, dan kampus juga terus kita dorong,” jelasnya.
Ia menyebut, kontribusi dari perguruan tinggi cukup signifikan. Salah satu contohnya Universitas Brawijaya (UB) yang mampu menghimpun zakat hingga sekitar Rp 400 juta per bulan. “UB itu tiap bulan sekitar Rp 400 juta,” ungkapnya.
Meski demikian, Baznas Jatim memiliki kebijakan pengelolaan khusus untuk UPZ kampus. Sebanyak 70 persen dana zakat yang dihimpun dikembalikan ke kampus untuk dimanfaatkan kembali dalam program sosial di lingkungan masing-masing. “Misalnya untuk khitan massal, bantuan UKT mahasiswa, atau kegiatan sosial lain di kampus. Itu bisa dikembalikan,” terangnya.
Di sisi lain, Baznas Jatim juga menunjukkan peran aktif dalam aksi kemanusiaan. Pada Senin (26/1), Baznas Jatim secara resmi memberangkatkan bantuan kemanusiaan senilai Rp 6 miliar untuk korban bencana di Aceh dan Sumatera.
Seremoni pemberangkatan bantuan berlangsung di halaman Kantor Baznas Jatim, kawasan Islamic Center Surabaya. Bantuan yang disalurkan berupa dana tunai dan logistik, yang merupakan hasil donasi masyarakat Jawa Timur. “Kami masih membuka donasi sampai sekarang,” kata Ali Maschan di sela-sela kegiatan pemberangkatan bantuan.
Acara tersebut dihadiri perwakilan Baznas RI, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Baznas kabupaten/kota se-Jatim, serta sejumlah unsur Forkopimda Jawa Timur.
Ali Maschan mengungkapkan, jika ditotal, bantuan kemanusiaan dari Jawa Timur sebenarnya telah mencapai sekitar Rp 9 miliar. Sebelumnya, Baznas Jombang telah menyalurkan sekitar Rp1 miliar, disusul bantuan dari Sidoarjo dan beberapa daerah lain yang menyalurkan donasi secara mandiri. “Kalau ditotal sebetulnya sudah sekitar Rp 9 miliar. Dari Jombang, Sidoarjo, dan daerah-daerah lain juga sudah bergerak,” jelasnya.
Dengan donasi yang masih dibuka, Baznas Jatim optimistis total bantuan dari Jawa Timur untuk pemulihan pascabencana di Aceh dan Sumatera dapat mencapai Rp 10 miliar. “Mudah-mudahan bisa sampai Rp10 miliar, bahkan lebih,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya